RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Rocky Gerung, seorang filsuf, akademisi, dan cendekiawan asal Indonesia, dikenal luas karena kritik-kritik tajamnya terhadap kebijakan dan praktik pemerintahan.
Pemikiran Rocky Gerung berakar kuat pada tradisi filsafat kritis yang menempatkan akal sehat sebagai landasan utama dalam melihat, menganalisis, dan mempertanyakan kekuasaan.
Bagi Gerung, kritik bukanlah bentuk kebencian personal, melainkan kewajiban moral seorang intelektual untuk memastikan negara berjalan sesuai prinsip-prinsip keadilan, kesetaraan, dan demokrasi.
Kritik sebagai Fungsi Demokrasi
Dalam pandangan Gerung, kritik terhadap pemerintah adalah esensi dari demokrasi. Ia sering menegaskan bahwa tugas utama pemerintah adalah berbuat baik sesuai konstitusi.
Karena itu, jika pemerintah melakukan hal baik, tidak perlu dipuji karena itu adalah kewajibannya. Justru, yang perlu dikritik adalah ketika pemerintah melakukan hal yang menyimpang atau buruk.
Gerung memposisikan dirinya sebagai pihak yang berkepentingan pada urusan publik, bukan urusan privat. Ketika ia melontarkan kritik pedas, tujuannya adalah mencerdaskan publik agar kritis demi keselamatan dan perlindungan warga negara.
Frasa "akal sehat" menjadi jargon populernya, mengajak masyarakat untuk menggunakan nalar logis dan rasional dalam menilai setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemegang kekuasaan.
Ia berpendapat bahwa negara adalah produk dari kebijakan, dan kebijakan itu harus selalu terbuka terhadap kritik.
Jika kritik, satire, atau bahkan candaan dilarang, maka percakapan publik akan tertutup, dan hal ini akan membunuh peradaban serta membuka ruang bagi arogansi kekuasaan.
Isu Sentral dalam Kritik Rocky Gerung
Kritik Gerung tidak berhenti pada kritik personal, tetapi menyasar pada isu-isu fundamental dalam bernegara, seperti:
Penyalahgunaan Hukum dan Kekuasaan: Ia menyoroti bagaimana hukum sering kali diperalat untuk melindungi para perusak hukum atau kepentingan kelompok tertentu, alih-alih untuk menjamin keadilan dan rasa aman bagi warga negara.
Arogansi Kebijakan Publik: Contohnya, kritik terhadap kebijakan seperti Food Estate yang dianggap sebagai bentuk "arogansi terhadap alam" dan minim perhitungan akal sehat, atau kebijakan yang dinilai hanya memikirkan nasib penguasa tanpa memikirkan nasib rakyat.
Pelemahan Demokrasi dan Kebebasan Berpendapat: Ia secara konsisten membela hak kebebasan berpikir dan berpendapat, menentang upaya-upaya pembungkaman atau kriminalisasi terhadap kritik, termasuk kasus-kasus hukum yang pernah menimpanya.
Merawat Republik dan Akal Sehat: Gerung menekankan bahwa Republik adalah ide minimal untuk menyelenggarakan keadilan, kesetaraan, dan kemajemukan.
Tugas warga negara, termasuk para intelektual, adalah merawat ide ini dengan terus mengaktifkan akal sehat melalui kritik.
Pria berusia 66 tahun ini berani melontarkan kritikan yang keras dan kontroversial. Pernyataannya acap kali menimbulkan pro dan kontra, bahkan memicu reaksi hukum dari pendukung pemerintah.
Namun, ia konsisten berargumen bahwa kritik paling tajam adalah dasar dari demokrasi, dan pemikiran harus dilawan dengan pemikiran, bukan dengan tindakan hukum atau intimidasi.
Implikasi Pemikiran bagi Politik Indonesia
Kehadiran Rocky Gerung dalam ruang publik Indonesia memunculkan sosok oposisi intelektual yang kuat.
Keberaniannya menyuarakan perbedaan dan mempertanyakan kebijakan pemerintah dari sudut pandang filosofis telah menjadikannya ikon bagi kelompok masyarakat yang merasa kecewa dengan arah reformasi dan praktik politik saat ini.
Melalui kritik-kritiknya, Gerung mengajak masyarakat untuk tidak menjadi "pemujanya" melainkan menjadi individu yang aktif dan kritis dalam mengawasi jalannya kekuasaan. (sfh)
Editor : Bhagas Dani Purwoko