BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Warga Desa Kebonagung, Kecamatan Padangan, digemparkan video amatir berdurasi 11 detik di media sosial dengan narasi dugaan seekor buaya. Lokasinya di bantaran Bengawan Solo pada Minggu (11/12).
Namun karena kualitas video rendah, jadi gambarnya kurang jelas. Hanya terlihat seekor hewan jenis reptil, tapi belum bisa dipastikan itu buaya atau biawak. Sejumlah pihak masih sangsi jika hewan tersebut buaya. Apalagi Bengawan Solo, bukan habitat buaya.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Bojonegoro Achmad Gunawan mengatakan, telah menindaklanjuti adanya laporan dugaan buaya tersebut.
“Personel damkar Pos Padangan menerima informasi adanya (dugaan) kemunculan buaya. Kemudian merespons melakukan penyisiran ke lokasi,” ujarnya.
Laporan masuk pada 14.57 dan personel damkar Pos Padangan melakukan penyisiran selama dua jam. “Selama penyisiran belum ditemukan (dugaan) keberadaan buaya,” jelasnya. Pihaknya masih sangsi dan belum bisa mengidentifikasi, karena belum menangkap hewan dimaksud.
Disinggung perihal adakah kemungkinan buaya hidup di aliran Bengawan Solo, Gunawan merasa pihaknya tidak memiliki kompetensi menjawabnya. Tapi, sejarahnya pernah ada laporan penampakan diduga buaya secara visual di aliran Bengawan Solo, turut Desa Kalisari, Kecamatan Baureno serta di Bendungan Gerak turut Kecamatan Kalitidu.
“Damkar akan melaporkan hal ini kepada BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) untuk bantuan pengamatan dan saran tindak lanjut berikutnya,” ucapnya.
Perlu diketahui, tim Damkarmat Pos Temayang pernah mengevakuasi buaya di areal persawahan turut Desa Jono, Kecamatan Temayang, pada Maret 2021. Selanjutnya buaya itu diserahkan ke BKSDA. Ternyata buaya Irian (crocodylus novaeguinea) dan besar kemungkinan peliharaan orang yang lepas.
Kepala BKSDA Wilayah II di Bojonegoro Andik Sumarsono mengatakan, baru menerima informasi adanya dugaan buaya di Bengawan Solo kemarin siang. Rencananya hari ini (13/12), akan mengecek ke lokasi. “Dari video beredar masih belum bisa kami pastikan itu benar-benar buaya atau biawak berukuran besar,” terangnya.
Andik menambahkan, bahwa aliran Bengawan Solo bukan termasuk habitat asli buaya. “Habitat buaya biasanya di muara, jadi hilir sungai mengarah ke laut,” bebernya. (bgs/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto