RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Minat masyarakat terhadap sekolah kesetaraan di Kabupaten Blora tetap tinggi. Setiap tahunnya, lulusan sekolah ini mencapai ratusan orang yang didominasi oleh kalangan pekerja dan seniman.
Kepala Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Blora, Jumini, mengungkapkan bahwa angka kelulusan di SKB—mulai dari Paket A hingga Paket C (setara SD hingga SMA)—mencapai lebih dari 100 siswa per tahun. Secara rinci, lulusan Paket A rata-rata berjumlah 10 siswa, Paket B sebanyak 20 siswa, dan Paket C mencapai 80 siswa.
"Saat ini, total siswa kami dari jenjang PAUD hingga SMA mencapai 1.200 orang. Untuk PAUD sendiri ada 120 siswa, sedangkan sisanya adalah siswa sekolah kesetaraan," tuturnya.
Jumini menambahkan, siswa kesetaraan yang biaya pendidikannya ditanggung melalui dana Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) hanya sekitar 40 persen. "Lebih dari 500 siswa tidak menerima BOP, tetapi kami tetap menggratiskan biaya pendidikan mereka," terangnya.
Profil siswa kesetaraan di SKB Blora saat ini masih didominasi oleh usia di atas 25 tahun, terutama pada jenjang Paket C. Untuk jenjang Paket A (SD), terdapat 36 siswa yang seluruhnya merupakan anak berkebutuhan khusus (ABK). Sementara itu, jenjang Paket B (SMP) memiliki 80 siswa, dan sisanya merupakan siswa Paket C (SMA).
Setidaknya ada tiga faktor utama yang menyebabkan siswa memilih jalur kesetaraan: menjadi korban perundungan (bullying), pengaruh salah pergaulan atau gaya hidup, serta faktor ekonomi karena harus bekerja membantu orang tua.
"Penyebab terbanyak adalah karena bekerja sehingga putus sekolah. Pekerjaannya bermacam-macam, mulai dari tukang batu hingga yang paling mendominasi adalah pekerja seni," papar Jumini.
Para siswa pekerja seni tersebut mayoritas menggeluti kesenian barong atau jaranan. Mereka sering kali meninggalkan sekolah formal karena jadwal pertunjukan yang padat. Di SKB, aturan absensi tetap diberlakukan secara tegas; jika batas ketidakhadiran terlampaui, maka tidak akan ditoleransi.
Untuk menyiasati hal tersebut, SKB Blora mengambil kebijakan dengan memperkuat pendalaman vokasi atau keterampilan. Setiap Senin hingga Jumat, siswa dibekali berbagai keahlian praktis. "Jika terlalu banyak teori, siswa cenderung malas masuk lagi," tambah Jumini.
Saat ini, terdapat delapan bidang vokasi yang diajarkan, meliputi kecantikan, tata busana, tata boga, hantaran pernikahan, barista, desain grafis, dan perbengkelan. Dari sisi komposisi gender, jumlah siswa laki-laki masih lebih banyak dibandingkan perempuan, dengan persentase sekitar 60 banding 40 persen. (ozi/zim)
Editor : Yuan Edo Ramadhana