RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Memiliki anak yang aktif dan penuh semangat adalah kebahagiaan tersendiri bagi setiap orang tua. Apalagi di usia prasekolah, anak-anak cenderung eksploratif, ingin tahu, dan tidak bisa diam. Namun, bagaimana jika aktivitas anak justru berlebihan hingga mengganggu konsentrasi, membuatnya kesulitan menjalankan rutinitas, atau menyulitkan interaksi sosial?
Perilaku seperti itu bisa menjadi tanda dari Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), yakni kondisi neurodevelopmental yang membuat anak kesulitan mengatur perhatian, perilaku impulsif, serta kecenderungan hiperaktif. ADHD bukan berarti anak "nakal" atau kurang dididik, melainkan membutuhkan pemahaman dan penanganan yang tepat.
Dikutip dari Halodoc.com, dijelaskan bahwa pendekatan pola asuh yang tepat dapat membantu anak hiperaktif berkembang lebih optimal secara emosional dan sosial. Melalui strategi yang konsisten dan penuh kasih, anak dapat tumbuh dengan lebih terarah, percaya diri, dan siap menghadapi tantangan perkembangan.
1. Luangkan Waktu Berkualitas Bersama Anak
Kehadiran orang tua secara utuh sangat berpengaruh pada anak, terlebih bagi anak dengan gejala hiperaktif. Luangkan waktu khusus setiap hari untuk berinteraksi tanpa gangguan, misalnya bermain bersama, membaca buku, atau sekadar berbincang ringan. Kehangatan ini membantu anak merasa diperhatikan dan dihargai.
Selain itu, aktivitas fisik seperti berlari kecil, bersepeda, atau bermain bola juga bisa menjadi sarana yang baik untuk menyalurkan energi berlebih. Ini bukan hanya menyenangkan, tapi juga melatih fokus dan kerja sama.
2. Ciptakan Suasana Rumah yang Tenang dan Harmonis
Lingkungan yang kondusif dan bebas konflik memberi dampak besar pada perkembangan emosi anak. Anak hiperaktif lebih mudah terkendali saat berada dalam suasana yang stabil, penuh kasih, dan minim tekanan.
Orang tua disarankan membiasakan komunikasi terbuka dengan anak. Dengarkan dengan sabar, jangan menyela, dan responlah dengan lembut. Sikap ini memberikan contoh nyata tentang bagaimana mengelola emosi dan membangun empati.
3. Terapkan Disiplin Positif dengan Konsistensi
Disiplin pada anak hiperaktif harus dilakukan dengan pendekatan positif, bukan hukuman. Fokuslah pada penghargaan terhadap perilaku baik, bukan hanya koreksi terhadap kesalahan. Misalnya, ketika anak menyelesaikan tugas tanpa terdistraksi, beri pujian atau stiker motivasi.
Konsistensi juga sangat penting. Anak perlu tahu bahwa aturan berlaku setiap saat, bukan hanya tergantung suasana hati orang tua. Ini membantu mereka memahami struktur dan batasan dalam kehidupan sehari-hari.
4. Atur Rutinitas Tidur yang Stabil
Masalah tidur kerap memperburuk gejala ADHD. Oleh karena itu, penting untuk menciptakan jadwal tidur yang teratur. Tetapkan jam tidur dan bangun yang sama setiap hari, termasuk saat akhir pekan.
Kurangi paparan layar atau kegiatan yang menstimulasi menjelang tidur. Sebagai gantinya, ajak anak melakukan aktivitas tenang seperti membaca atau mendengarkan cerita sebelum tidur.
5. Susun Jadwal Harian yang Terstruktur dan Sederhana
Anak dengan ADHD membutuhkan rutinitas yang jelas agar mereka merasa aman dan terarah. Buatlah jadwal visual harian dengan gambar atau warna agar mudah dipahami, misalnya kapan waktunya mandi, makan, bermain, dan belajar.
Saat memberi tugas atau instruksi, gunakan kalimat singkat, jelas, dan satu per satu. Hindari memberi banyak perintah sekaligus, karena ini bisa membuat anak bingung dan frustrasi.
6. Konsultasikan dengan Tenaga Profesional Jika Perlu
Jika gejala anak mengganggu kehidupan sehari-hari secara signifikan, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Psikolog anak, dokter spesialis tumbuh kembang, atau terapis perilaku dapat memberikan diagnosis dan rekomendasi terapi yang sesuai.
Terapi perilaku kognitif, konseling keluarga, atau bahkan penggunaan obat tertentu bisa menjadi bagian dari penanganan, tergantung dari tingkat keparahan gejala dan respons anak terhadap pendekatan yang diberikan.
7. Bangun Rasa Percaya Diri Anak Secara Bertahap
Anak hiperaktif cenderung sering menerima kritik, yang bisa merusak kepercayaan dirinya. Sebagai orang tua, penting untuk membangun citra diri positif anak. Caranya adalah dengan menyoroti kekuatan dan keunikan mereka, baik dalam kreativitas, semangat belajar, atau empati.
Berikan dukungan saat anak mengalami kesulitan, dan bantu mereka memandang kegagalan sebagai kesempatan belajar, bukan sebagai hukuman. Anak yang percaya diri lebih siap menghadapi tantangan dan lebih terbuka menerima bimbingan. (nnd/mgg)
Editor : Hakam Alghivari