Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Opini: Pendidikan Berdampak, Antara Filosofi Ki Hajar dan Realita Kurikulum

Muhammad Suaeb • Minggu, 3 Mei 2026 | 09:30 WIB
CALON MAHASISWA: Siswa SMA di Bojonegoro bakal melanjutkan ke perguruan tinggu, pemkab menyediakan beasiswa dari APBD 2026. (YUAN EDO/RADAR BOJONEGORO)
CALON MAHASISWA: Siswa SMA di Bojonegoro bakal melanjutkan ke perguruan tinggu, pemkab menyediakan beasiswa dari APBD 2026. (YUAN EDO/RADAR BOJONEGORO)

 

Oleh:
Choirul Anam
Ketua PAC Ansor Balen dan Operator Madrasah MI Bahrul Ulum 1 Bulu

 

Pagi itu, 2 Mei 2026, warung kopi kecil di pojok kampung belum sepenuhnya ramai. Tapi seperti biasa, obrolan sudah mengalir lebih dulu daripada kopi yang mengepul. Hari Pendidikan Nasional selalu punya cara sendiri untuk menyelinap ke dalam percakapan sehari-hari—kadang serius, kadang setengah bercanda, tapi tetap menggugah.

“Pendidikan itu sekarang makin ribet, ya?” celetuk Pak Darto sambil mengaduk kopi hitamnya.

Saya tersenyum. “Atau mungkin kita yang belum selesai memahami maknanya.”

Obrolan pun mengalir, dan entah bagaimana, nama Ki Hajar Dewantara ikut duduk di meja kami, meski hanya dalam ingatan dan gagasan.

Baca Juga: Opini: Menggugat Paradoks Pendidikan Bojonegoro

Ki Hajar pernah bilang, pendidikan itu bukan sekadar mengisi kepala, tapi menuntun tumbuhnya potensi manusia. “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.” Kalimat itu sering kita hafal, tapi jarang kita kunyah pelan-pelan. Pendidikan, dalam pandangannya, adalah proses memanusiakan manusia—bukan sekadar mencetak angka di rapor.

Di titik ini, saya jadi teringat bagaimana kita dulu belajar. Dari sekadar menghafal, memahami, sampai mencoba menerapkan. Dalam dunia pendidikan modern, ini dikenal sebagai Taksonomi Bloom. Tahapannya jelas: mulai dari remembering (mengingat), understanding (memahami), applying (menerapkan), analyzing (menganalisis), evaluating (menilai), hingga creating (mencipta).

Masalahnya, sering kali kita berhenti di dua tahap pertama. Anak-anak kita pandai menghafal, tapi gagap ketika diminta berpikir kritis. Mereka bisa menjawab soal pilihan ganda, tapi bingung saat diminta merumuskan pertanyaan. Di sinilah pendidikan kehilangan “dampaknya”—ia menjadi rutinitas, bukan transformasi.

Pak Darto mengangguk pelan. “Berarti dari dulu sampai sekarang, yang berubah cuma nama ujiannya?”

Saya tertawa kecil. Tapi kalau dipikir-pikir, ada benarnya juga.

Dulu kita mengenal EBTANAS—Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional. Lalu berubah menjadi Ujian Nasional yang sempat jadi momok tahunan. Setelah itu, muncul Asesmen Nasional yang lebih menekankan literasi, numerasi, dan karakter. Kini, mulai diperkenalkan Tes Kompetensi Akademik sebagai salah satu instrumen baru.

Transformasi ini sebenarnya bukan tanpa arah. Ada upaya untuk menggeser paradigma: dari sekadar mengukur hasil menjadi memahami proses. Dari sekadar nilai menjadi kompetensi. Tapi di lapangan, sering terasa seperti ganti baju tanpa mengganti tubuhnya.

“Ya itu tadi,” kata Pak Darto, “ganti menteri, ganti kurikulum.”

Kalimat itu mungkin terdengar klise, tapi ia menyimpan kegelisahan yang nyata. Kurikulum sering kali menjadi korban tarik-menarik kebijakan, bukan hasil perenungan panjang tentang kebutuhan anak didik.

Baca Juga: Opini: Korupsi, Kemiskinan dan Kematian

Padahal, kurikulum yang baik bukan yang sering berubah, tapi yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan arah. Ia harus relevan dengan zaman, tapi juga berakar pada nilai. Ia harus fleksibel, tapi tetap punya tujuan yang jelas.

Kurikulum yang berdampak adalah kurikulum yang hidup di kelas, bukan hanya di dokumen. Ia terasa dalam cara guru mengajar, dalam cara siswa bertanya, dalam cara sekolah memaknai proses belajar. Ia tidak sekadar mengejar target materi, tapi membangun karakter dan daya pikir.

Dan yang paling penting, kurikulum yang berkelanjutan tidak bergantung pada siapa yang menjabat, tapi pada kesepakatan bersama tentang masa depan pendidikan.

Saya menyesap kopi yang mulai dingin. “Mungkin yang kita butuhkan bukan kurikulum baru, tapi cara pandang baru.”

Pendidikan berdampak bukan tentang seberapa banyak materi yang selesai diajarkan, tapi seberapa dalam ia mengubah cara seseorang melihat dunia. Seorang siswa yang berani bertanya, itu dampak. Seorang anak yang mampu berpikir kritis, itu dampak. Seorang generasi yang punya empati dan integritas, itu dampak yang sesungguhnya.

Hari Pendidikan Nasional seharusnya bukan sekadar seremoni. Ia adalah momen refleksi: sudah sejauh mana pendidikan kita benar-benar “menuntun” seperti yang diajarkan Ki Hajar?

Warung kopi mulai ramai. Obrolan bergeser ke topik lain—harga beras, cuaca, dan politik. Tapi bagi saya, percakapan pagi itu meninggalkan jejak yang cukup dalam.

Bahwa pendidikan bukan soal sistem yang sempurna, tapi komitmen yang terus diperjuangkan.

Dan mungkin, perubahan besar memang tidak selalu dimulai dari ruang rapat kementerian, tapi dari meja-meja sederhana seperti ini—tempat orang-orang biasa mencoba memahami hal yang luar biasa: masa depan generasi berikutnya. (*)

 

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#asesemen #Pendidikan #ki hajar dewantara #hari pendidikan nasional #Kurikulum