Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Opini: Menggugat Paradoks Pendidikan Bojonegoro

M
Penulis: Muhammad Suaeb❯
Ilutrasi PPDB
Ilutrasi PPDB

Advertisement

 

Oleh:
Ali Muhtadin
Peneliti di Center for Uyghur Studies

 

Advertisement

BOJONEGORO bukan lagi sekadar titik sunyi di peta Jawa Timur yang hanya dikenal melalui luapan banjir tahunan Bengawan Solo. Dalam satu dekade terakhir, telah bertransformasi menjadi raksasa fiskal.

Berkat kucuran Dana Bagi Hasil (DBH) Migas dari Blok Cepu, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Bojonegoro melesat ke angka yang fantastis, menembus Rp7 triliun hingga Rp8 triliun.

Dengan modal finansial sebesar itu, Bojonegoro secara teoretis memiliki segala syarat untuk menjadi "kiblat" pendidikan di Jawa Timur, atau bahkan nasional.

Advertisement

Namun, kenyataan di lapangan justru menyuguhkan paradoks yang menyesakkan dada. Di balik gedung-gedung megah dan retorika kesuksesan pembangunan,  sebenarnya sedang membangun sebuah "Menara Gading" pendidikan yang fondasinya keropos.

Ironi Angka Putus Sekolah (ATS)

Tragedi terbesar dalam narasi pembangunan Bojonegoro adalah kegagalan  dalam menjaga anak-anak untuk tetap tinggal di bangku sekolah.

Data terbaru per April 2026 menjadi tamparan keras bagi wajah pemerintah daerah. Bayangkan, hanya dalam kurun waktu tiga bulan—sejak Januari hingga April 2026—angka Anak Tidak Sekolah (ATS) melonjak drastis dari 4.143 anak menjadi 5.610 anak.

Kenaikan sebanyak 1.467 anak dalam sekejap ini bukan sekadar statistik di atas kertas; ini adalah 1.467 masa depan yang sedang terancam redup.

Bagaimana mungkin di sebuah daerah yang secara resmi telah menetapkan Perda Dana Abadi Pendidikan sebesar Rp3 triliun pada akhir 2025 lalu, justru mengalami "kebocoran" masif pada jumlah siswanya?

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Paradoks MBG dan KDMP?

Paradoks MBG dan KDMP?

Sebagai sebuah program strategis pemerintahan presiden Prabowo Subianto, kebijakan semacam Makanan Bergizi Gratis (MBG) maupun Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) meniscayakan ekspektasi lebih bagi masyarakat akar rumput.

Lebih dari Seribu Anak Berkebutuhan Khusus di Blora Masih Tak Sekolah

Lebih dari Seribu Anak Berkebutuhan Khusus di Blora Masih Tak Sekolah

Jumlah anak tidak sekolah (ATS) di Blora masih sekitar 2.900 anak. Angka tersebut turun dari data awal sebanyak 3.869 anak setelah dilakukan verifikasi dan pemadanan data.

Fenomena Pengangguran Terdidik, Ketika Gelar Sarjana Tak Menjamin Pekerjaan

Fenomena Pengangguran Terdidik, Ketika Gelar Sarjana Tak Menjamin Pekerjaan

Memiliki gelar sarjana selama ini kerap dianggap sebagai salah satu jalan untuk memperoleh pekerjaan yang layak dan meningkatkan taraf hidup.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer