Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Opini: Haji, Antara Panggilan Langit dan Realitas Bumi

Muhammad Suaeb • Minggu, 3 Mei 2026 | 09:00 WIB
HAJI 2026: Jemaah haji Indonesia menerima uang saku sebesar 750 Riyal.
HAJI 2026: Jemaah haji Indonesia menerima uang saku sebesar 750 Riyal.

 

Oleh:
SUPRAPTO ESTEDE
Dosen STIE Cendekia Bojonegoro

 

Setiap musim haji tiba, kita selalu disuguhi pemandangan yang sama: wajah-wajah haru, pelukan yang tak ingin dilepas, serta doa-doa yang mengalir di antara langkah kaki yang perlahan menuju keberangkatan. Ada yang tersenyum, ada yang menangis, dan hampir semuanya membawa satu rasa yang sama: merasa dipanggil.

Namun di balik suasana sakral itu, tersimpan realitas yang tidak sederhana. Ibadah haji hari ini tidak hanya berdiri sebagai perjalanan spiritual. Ia juga bersinggungan dengan sistem, antrean panjang, biaya besar, dan dinamika sosial yang kompleks. Di titik inilah, haji berada di antara dua kutub: panggilan langit dan realitas bumi.

Di Indonesia, daftar tunggu haji bisa mencapai puluhan tahun. Tidak sedikit orang yang mendaftar di usia produktif, baru berangkat ketika rambut sudah memutih, bahkan ada yang tidak sempat berangkat karena kematian lebih dahulu datang. Maka pertanyaannya cukup menggugah: apakah panggilan itu benar-benar datang dari langit semata, atau juga ditentukan oleh sistem yang kita bangun di bumi?

Baca Juga: 1.741 Jemaah Haji Bojonegoro Berangkat Menuju Tanah Suci

Secara teologis, haji diwajibkan bagi mereka yang mampu. Namun makna “mampu” kerap direduksi menjadi sekadar kemampuan finansial. Padahal dalam kenyataannya, ada dimensi lain yang tidak kalah menentukan, yaitu: akses, kesempatan, dan keadilan distribusi. Ketika seseorang bisa berangkat berkali-kali melalui jalur khusus, sementara yang lain harus menunggu seumur hidup, kita dihadapkan pada sebuah dilema etis yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Lebih jauh lagi, fenomena haji juga tidak lepas dari konstruksi sosial. Gelar “Haji” atau “Hajah” di masyarakat kita memiliki bobot simbolik yang kuat. Ia di samping penanda ibadah, juga status sosial. Tidak jarang, identitas ini lebih menonjol di ruang publik dibandingkan transformasi akhlak yang seharusnya menyertainya. Kita pun dipaksa bertanya: apakah haji telah menjadi perjalanan pulang menuju Tuhan, atau justru perjalanan naik kelas dalam struktur sosial?

Di sisi lain, modernitas juga membawa wajah baru dalam pelaksanaan haji. Fasilitas yang semakin beragam, paket layanan yang semakin eksklusif, hingga kemudahan yang ditawarkan oleh berbagai penyelenggara, menunjukkan bahwa haji kini juga menjadi bagian dari sebuah “industri”. Di satu sisi, ini memudahkan jamaah. Namun di sisi lain, ia berpotensi mengikis nilai kesederhanaan yang menjadi ruh dari ibadah itu sendiri.

Padahal, esensi haji tidak pernah berubah. Ia adalah perjalanan menanggalkan atribut duniawi: pakaian dijadikan seragam, status dilebur, dan manusia berdiri setara di hadapan Tuhannya. Di Arafah misalnya, tidak ada perbedaan antara yang kaya dan yang miskin, antara pejabat dan rakyat biasa. Semua larut dalam satu kesadaran bahwa manusia pada hakikatnya lemah dan membutuhkan ampunan.

Ironisnya, kesadaran yang begitu kuat di Tanah Suci kerap memudar ketika kembali ke tanah air. Air mata yang jatuh di hadapan Ka’bah tidak selalu berlanjut menjadi perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Haji yang seharusnya menjadi titik balik, terkadang berhenti sebagai puncak seremoni.

Di sinilah letak refleksi yang paling penting. Bahwa haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Makkah, ia perjalanan batin menuju kejujuran diri. Ia bukan hanya soal berangkat, tetapi tentang kembali, yakni kembali dengan hati yang lebih bersih, sikap yang lebih rendah hati, dan komitmen yang lebih kuat untuk hidup secara bermakna.

Maka, di tengah hiruk-pikuk musim haji, mungkin yang perlu kita tanyakan bukan hanya “kapan kita berangkat?”, tetapi juga “untuk apa kita berangkat?” dan “apa yang akan kita bawa pulang?” Karena sejatinya, panggilan itu memang dari langit. Tetapi bagaimana kita memaknainya, sepenuhnya adalah urusan kita di bumi. (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#panggilan langit #realitas #Tanah Suci #pelaksanaan haji #haji