Opini: Televisi di Persimpangan Jalan: Bertahan atau Tersapu Gelombang Digital?
Muhammad Suaeb• Minggu, 30 November 2025 | 15:20 WIB
Alasan psikologi seseorang hanya bisa tidur dengan tv menyala.
Oleh: Slamet Widodo*
SETIAP tanggal 21 November, dunia memperingati Hari Televisi Sedunia, momen yang ditetapkan PBB untuk mengakui peran televisi dalam komunikasi global.
Indonesia pun memiliki tanggal penting sendiri, yakni 24 Agustus, yang diperingati sebagai Hari Televisi Nasional, menandai siaran perdana TVRI pada tahun 1962.
Dua tanggal ini seharusnya menjadi pengingat bahwa televisi pernah menjadi medium paling berpengaruh dalam membentuk opini publik, budaya populer, dan kebiasaan masyarakat.
Namun kini, di tengah derasnya arus digital, televisi justru berdiri di persimpangan jalan: bertahan dengan wajah baru, atau tersapu gelombang perubahan.
Televisi Indonesia melalui perjalanan panjang sejak siaran perdana TVRI untuk menyambut Asian Games IV.
Saat itu, layar kaca menjadi jendela Indonesia mengenal dunia. Dekade demi dekade berikutnya, kehadiran stasiun swasta seperti RCTI, SCTV, Indosiar, ANTV, Trans TV, dan Trans7 membawa warna baru bagi publik.
Televisi menjadi ruang berkumpul keluarga, ruang belajar masyarakat, dan bahkan ruang pembentukan identitas sosial.
Sinetron legendaris, berita malam, dan program musik pernah menjadi perekat kehidupan publik. Namun, nostalgia itu kini diuji oleh perubahan besar. Dunia digital mengalir cepat, mengubah cara seseorang mengonsumsi informasi dan hiburan.
YouTube, TikTok, Instagram Reels, dan platform video-on-demand hadir sebagai “televisi pribadi” yang bisa ditonton kapan saja dan di mana saja.
Tidak ada lagi budaya menunggu jam tayang. Generasi muda tidak lagi terpikat pada layar besar di ruang tamu, melainkan layar kecil di genggaman.
Televisi, yang selama puluhan tahun menentukan apa yang harus ditonton pemirsa, kini berada dalam posisi terdesak oleh media yang memberi kendali penuh kepada pengguna.
Perubahan besar lainnya adalah migrasi dari siaran analog ke digital yang dimulai tahun 2022. Migrasi ini secara teori adalah loncatan besar: kualitas gambar lebih jernih, jumlah kanal lebih banyak, dan peluang bagi TV lokal terbuka lebar.
Namun di lapangan, banyak tantangan muncul. Tidak semua masyarakat memiliki akses Set Top Box, terutama di pedesaan.
Kanal yang semakin banyak pun belum tentu meningkatkan kualitas tontonan. Bahkan sebagian masyarakat kehilangan akses televisi sama sekali karena hambatan perangkat.
Alih-alih meratakan akses informasi, migrasi ini masih menyisakan pekerjaan rumah bagi pemerintah dan industri penyiaran.
Selain tantangan teknis, televisi juga menghadapi kritik soal kualitas konten. Banyak program masih terjebak dalam pola lama: sinetron yang terlalu panjang, reality show yang mengejar sensasi, prank tidak mendidik, serta program kompetisi yang monoton.
Di tengah masyarakat yang semakin kritis, konten seperti ini bukan hanya kehilangan relevansi, tetapi juga mengikis kepercayaan publik.
Televisi yang dulu menjadi rujukan informasi yang dapat dipercaya, kini sering disandingkan dengan drama media sosial—dan bukan dalam arti yang positif.
Televisi tetap memiliki peran penting dalam demokrasi. Pada tahun politik, televisi masih menjadi medium yang paling cepat menjangkau masyarakat luas.
Namun persoalan muncul ketika kepemilikan media bertaut dengan kepentingan politik tertentu. Framing berita bisa menjadi bias, ruang publik menyempit, dan masyarakat sulit membedakan informasi objektif dari kepentingan kelompok.
Dalam suasana seperti ini, televisi seharusnya mempertegas posisinya sebagai pilar demokrasi, bukan sekadar alat kampanye terselubung.
Literasi media masyarakat pun harus terus diperkuat agar publik tidak terseret arus informasi yang menyesatkan.
Meski demikian, harapan masih ada. Televisi memiliki kekuatan yang tak tergantikan: jangkauan luas dan kemampuan menghadirkan narasi besar secara serentak.
Di daerah yang akses internetnya terbatas, televisi tetap menjadi media utama. Momen-momen seperti final sepak bola, peringatan nasional, atau pidato presiden tetap lebih kuat ketika ditonton bersama melalui televisi. Ada rasa kolektif yang tidak bisa diberikan oleh video pendek atau rekomendasi algoritma.
Masa depan televisi bergantung pada satu hal: keberanian bertransformasi. Banyak stasiun sudah mulai menayangkan program secara simultan di YouTube, menghadirkan konten pendek ala TikTok, dan memperkuat hadirnya di platform digital.
Langkah ini tepat, tetapi belum cukup. Televisi perlu kembali kepada esensi utamanya: menghadirkan informasi yang kredibel, hiburan yang kreatif, serta tayangan yang mendidik. Televisi tidak harus meniru media digital; ia hanya perlu menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.
Momentum 21 November dan 24 Agustus hendaknya tidak sekadar menjadi seremoni tahunan. Keduanya adalah pengingat bahwa televisi pernah menjadi penggerak budaya, pendidikan, dan informasi bangsa.
Kini, di persimpangan jalan, televisi memiliki dua pilihan: berubah atau hilang. Namun satu hal masih pasti—televisi belum selesai. Ia hanya menunggu waktu untuk lahir kembali.