RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Pemerintah pusat menggulirkan Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk pelajar dan ibu hamil dengan menekankan dua bahan utama: Beras dan telur.
Di Kabupaten Bojonegoro, beras relatif aman karena produksinya melimpah. Namun, persoalan krusial justru ada di telur. Karena produksinya masih jauh dari cukup.
Pemkab Bojonegoro menggulirkan Program Gayatri (Gerakan Ayam Petelur Mandiri) sebagai solusi pendukung. Namun apakah program ini mampu menutup kebutuhan MBG dalam jangka pendek?
Beras aman dengan surplus besar
Produksi beras Bojonegoro tahun 2024 mencapai sekitar 410 ribu ton, sementara kebutuhan untuk MBG (pelajar dan ibu hamil) diperkirakan hanya sekitar 10,5 ribu ton per tahun. Itu berarti hanya 2,5 persen dari produksi lokal. Dengan surplus lebih dari 300 ribu ton, jelas beras bukan masalah.
Telur alami defisit besar untuk kebutuhan MBG
Bagaimana dengan kebutuhan telur. Telur adalah tantangan utama. Data BPS Jawa Timur mencatat produksi telur Bojonegoro 2023 hanya 614 ribu kilogram, setara 12 juta butir.
Sementara, kebutuhan MBG jauh lebih besar:
- Kebutuhan untuk Pelajar (400 ribu orang × 3 butir/minggu × 52 minggu) = 62 juta butir per tahun.
- Untuk Ibu hamil (20 ribu orang × 5 butir/minggu × 52 minggu) = 5 juta butir per tahun.
Total kebutuhan = 67 juta butir/tahun, sedangkan produksi lokal baru 12 juta butir. Artinya, ada defisit sekitar 55 juta butir per tahun.
Program Gayatri: Potensi produksi tambahan
Pemkab Bojonegoro memiliki program strategis untuk mendukung suplai telur bagi MBG. Yaitu Program Gayatri. Lewat Gayatri, Pemkab Bojonegoro mendorong keluarga petani dan masyarakat desa kurang mampu bisa memelihara ayam petelur skala kecil. Simulasinya, jika ada 10 ribu keluarga masing-masing memelihara 10 ekor ayam petelur, maka:
- 1 ekor ayam menghasilkan rata-rata 250 butir telur per tahun.
- 10 ekor ayam menghasilkan 2.500 butir per tahun.
- 10 ribu keluarga menghasilkan 25 juta butir per tahun.
Tambahan 25 juta butir ini memang signifikan, tetapi tetap baru menutup sekitar 45 persen dari defisit. Dengan kata lain, meski Gayatri berjalan optimal, kebutuhan MBG jangka pendek masih harus ditopang pasokan telur dari luar Bojonegoro.
Realitas jangka pendek: Gayatri belum cukup
Dalam jangka pendek (1–2 tahun ke depan), Program Gayatri belum mampu memenuhi kebutuhan MBG secara penuh karena beberapa alasan:
- Skala terbatas – jumlah keluarga yang terlibat masih jauh dari kebutuhan. Untuk menutup defisit 55 juta butir, setidaknya butuh 22 ribu keluarga dengan 20 ekor ayam petelur.
- Waktu produksi – ayam petelur baru mulai produktif setelah umur 5–6 bulan, sehingga dampak program tidak bisa langsung dirasakan.
- Manajemen pakan dan biaya – pakan menyumbang hingga 70 persen biaya produksi. Tanpa dukungan subsidi atau integrasi dengan limbah pertanian, peternak kecil bisa kesulitan mempertahankan produktivitas.
Peluang jangka menengah-panjang
Meski belum cukup dalam jangka pendek, Gayatri punya prospek besar untuk jangka menengah-panjang. Jika cakupan keluarga diperluas menjadi 20–30 ribu rumah tangga dengan dukungan pakan lokal (misalnya dari jagung atau dedak padi yang juga surplus di Bojonegoro), produksi telur bisa naik mendekati kebutuhan MBG.
Selain itu, dengan pola desentralisasi produksi di rumah tangga, distribusi telur ke sekolah-sekolah dan posyandu bisa lebih efisien, sekaligus memberi tambahan penghasilan bagi keluarga petani.
Kesimpulan
- Beras aman: produksi melimpah, kebutuhan MBG sangat kecil dibanding stok lokal.
- Telur masih defisit besar: produksi lokal hanya 12 juta butir, sementara kebutuhan MBG 67 juta butir per tahun.
- Program Gayatri membantu, tapi belum cukup jangka pendek: tambahan produksi potensial sekitar 25 juta butir, masih menyisakan gap 30 juta butir lebih.
- Solusi sementara: Pasokan dari luar daerah tetap diperlukan.
- Prospek jangka panjang: Dengan perluasan skala dan dukungan kebijakan, GAYATRI bisa menjadi pilar utama kemandirian telur di Bojonegoro.
Dengan begitu, MBG tetap bisa berjalan sambil menunggu Gayatri tumbuh. Jika serius diperkuat, Bojonegoro bukan hanya lumbung beras, tetapi juga bisa berubah menjadi salah satu pusat produksi telur rakyat terbesar di Jawa Timur. (feb)
Editor : Yuan Edo Ramadhana