RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Situasi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas. Konflik bersenjata yang melibatkan Iran kini mulai berdampak nyata pada urat nadi ekonomi global: pasokan minyak mentah dunia.
Bagi kita di Indonesia, khususnya yang sering melakukan mobilitas tinggi di wilayah Jawa Timur, kabar ini tentu memicu pertanyaan besar, apakah harga BBM di SPBU akan segera melonjak April 2026?
Ekonom Universitas Airlangga (UNAIR), Wisnu Wibowo, menilai bahwa penyesuaian harga BBM non-subsidi di tanah air adalah sebuah "konsekuensi logis".
Baca Juga: Radar History: Saat 98.883 KK Mendapat Kompensasi BBM Akibat Kenaikan Harga 2005 Silam
Mengingat skema penetapan harga jenis ini mengikuti mekanisme pasar internasional, fluktuasi global menjadi faktor penentu utama yang tidak bisa dihindari.
Prediksi Kenaikan: Masih di Bawah 10 Persen?
Meskipun tekanan pasar sangat kuat, Wisnu memprediksi kenaikan harga BBM non-subsidi di tingkat eceran masih dalam batas yang terukur.
"Kenaikan BBM non-subsidi saya prediksi masih di bawah 10 persen, sekitar 5 sampai 10 persen," ungkap Wisnu (30/3/2026). Penyesuaian ini juga telah dipayungi oleh regulasi resmi melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022.
Beban Berat APBN: Setiap USD 1 Berarti Rp 6,7 Triliun!
Lonjakan harga minyak dunia yang kini telah menembus angka USD 100 per barel memberikan tekanan hebat pada fiskal negara.
Baca Juga: Radar History: Ketika Harga BBM Naik pada 2005 Lalu, Sebabkan 8 Ribu Liter BBM Amblas dalam Dua Jam
Secara matematis, setiap kenaikan harga minyak mentah sebesar USD 1 berpotensi menambah beban subsidi dan kompensasi pada APBN hingga Rp 6,7 triliun. Ini merupakan angka yang fantastis dan menjadi tantangan besar bagi stabilitas ekonomi nasional di tahun 2026.
Adu Harga BBM di ASEAN: Siapa Paling Mahal?
Meski dibayangi kenaikan, data komparasi harga BBM di Asia Tenggara sejak krisis Selat Hormuz pada Maret 2026 menunjukkan posisi Indonesia yang relatif masih sangat kompetitif. Berikut adalah datanya:
1. Indonesia (Pertamina)
RON 92: Rp12.300
RON 95: Rp12.900
RON 98: Rp13.100
Solar subsidi: Rp6.800
Dexlite (non-subsidi): Rp14.200
Pertamina Dex: Rp14.500
Baca Juga: Awal Maret, Harga BBM Nonsubsidi Naik Ikuti Tren Minyak Dunia dan Nilai Tukar Rupiah
2. Malaysia
RON 95: ± Rp8.500 – Rp11.400
RON 97: ± Rp13.000
Solar (diesel): ± Rp10.000 – Rp11.500
3. Singapura
RON 95: ± Rp45.000
RON 98: Rp52.000 – Rp55.000
Solar (diesel): ± Rp45.000 – Rp47.000
4. Thailand
RON 92: ± Rp23.000
RON 95: ± Rp23.000 – Rp24.000
Solar (diesel): ± Rp17.000
5. Vietnam
RON 92: ± Rp22.000 – Rp25.000
RON 95: ± Rp25.000+
Solar (diesel): ± Rp20.000 – Rp21.000+
Baca Juga: Awal Maret, Harga BBM Nonsubsidi Naik Ikuti Tren Minyak Dunia dan Nilai Tukar Rupiah
Data menunjukkan Indonesia tetap menjadi salah satu negara dengan harga BBM paling terjangkau, hanya kalah dari Malaysia yang menerapkan subsidi sangat masif untuk RON 95.
Mengapa Harga Singapura Begitu Tinggi?
Perbedaan harga yang mencolok di Singapura (mencapai Rp 45.000) disebabkan oleh kebijakan pajak kendaraan dan bahan bakar yang sangat ketat untuk mengendalikan polusi serta kemacetan. Menurut studi dari , negara yang tidak memiliki cadangan minyak domestik dan menerapkan pajak karbon tinggi akan selalu memiliki harga eceran BBM yang jauh di atas harga keekonomian global.
Siapkan Strategi Konsumsi Bahan Bakar
Mengingat variabel harga acuan dan kurs yang sangat dinamis, penyesuaian harga di tingkat eceran adalah langkah untuk menjaga kesehatan operasional badan usaha dan fiskal negara. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko