RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Persija Jakarta akhirnya meresmikan perekrutan Van Basty Sousa e Silva, gelandang bertahan asal Brasil yang selama ini malang melintang di Serie B dan C.
Pemain berusia 30 tahun itu diperkenalkan secara resmi di kawasan Kota Tua, Jakarta, pada Selasa (1/7/2025), menandai era baru lini tengah Macan Kemayoran. Dalam pengenalan itu, Sousa tak banyak berjanji—tapi sorot matanya cukup menggambarkan kesiapan menghadapi atmosfer Liga 1 yang dikenal penuh tekanan.
Bagi Persija, ini bukan rekrutan biasa. Van Basty datang bukan sekadar untuk menambal kekosongan, melainkan ditugaskan sebagai penjaga irama permainan—sebuah posisi penting yang menentukan stabilitas permainan sebuah tim.
Membawa Irama Samba ke Tengah Jakarta
Nama Van Basty mungkin belum familiar bagi publik sepak bola Indonesia. Namun, rekam jejaknya di Brasil cukup padat. Lahir di Olivedos, Paraíba, Sousa memulai karier profesional sejak usia 19 tahun dan tercatat pernah memperkuat 15 klub berbeda, mulai dari Campinense Clube hingga Mirassol, Vila Nova, Londrina, hingga Nautico.
Ia juga punya pengalaman bermain di kasta kedua kompetisi Brasil, Serie B—level yang setara dengan kompetisi papan tengah Eropa.
Posisinya jelas: gelandang bertahan. Tapi dari gaya mainnya, ia lebih dari sekadar breaker. Sousa dikenal punya kontrol bola yang baik, cerdas membaca permainan, dan kuat dalam menjaga transisi antara lini bertahan dan menyerang. Ia bukan pemain flamboyan, tapi tipe stabil yang dibutuhkan pelatih untuk meredam kekacauan di lapangan tengah.
Alasan Persija: Butuh Lebih dari Sekadar Kreator
Mauricio Souza, pelatih Persija, tak sekadar mencari pemain yang mampu merebut bola. Ia butuh sosok yang bisa menjadi pusat kendali saat tim dalam tekanan. Dalam beberapa musim terakhir, Persija memang mengalami inkonsistensi di lini tengah, terutama saat menghadapi tim-tim dengan pressing tinggi.
Van Basty diproyeksikan menjadi pengatur tempo, memungkinkan pemain seperti Gustavo Almeida dan Ryo Matsumura bisa lebih fokus membangun serangan.
“Sousa dipercaya menjaga irama di tengah panggung Macan Kemayoran. Ketenangannya memecah tekanan, tajamnya visi dan ketekunannya menjadikan dirinya bukan sekadar pelengkap, melainkan inti dari simfoni baru Persija.” tulis Persija dalam laman resminya.
Sousa sendiri mengaku antusias. Dalam sesi perkenalan, ia mengatakan bahwa ini bukan sekadar petualangan baru, tapi kesempatan untuk memberi kontribusi nyata.
“Saya siap dan sangat senang dengan tantangan ini. Saya berharap bisa membawa hasil baik dan membuat para pendukung bangga,” ujarnya, dikutip dari laman resmi Persija.
Kontrak Jangka Pendek, Tugas Berat
Persija hanya memberi kontrak satu tahun untuk Van Basty Sousa. Ini strategi yang cukup umum: memberikan ruang adaptasi dan evaluasi. Tapi sekaligus menjadi pertaruhan. Sousa dituntut tampil cepat, menyatu dalam tim, dan langsung memberikan dampak.
Dengan usianya yang sudah masuk 30 tahun, Sousa membawa pengalaman, tapi juga beban pembuktian. Terlebih, ia datang ke klub besar dengan ekspektasi besar pula. Jakmania, basis suporter Persija, dikenal lantang menuntut performa—bukan sekadar nama.
Bukan Hanya Transfer, Tapi Strategi
Masuknya Van Basty Sousa menambah kekuatan asing Persija menjadi empat pemain, melengkapi komposisi yang makin kompetitif di Liga 1. Tapi jika melihat lebih dalam, transfer ini bukan sekadar soal menambah pemain. Ini adalah strategi untuk menambal titik lemah paling vital dalam permainan: kestabilan dan distribusi bola dari tengah.
Sousa mungkin tak akan banyak mencetak gol, tapi justru perannya yang tak terlihat akan jadi kunci—merebut bola, mengalirkan kembali ke depan, dan menjaga agar Persija tetap hidup sepanjang 90 menit. (kam)
Editor : Hakam Alghivari