Radar Bojonegoro - Permintaan telur selalu tinggi seiring pandemi merebak hingga kini. Namun, harganya justru menurun beberapa minggu terkahir. Diperkirakan pedagang menu runkan harga untuk menjual stok lama. Terutama stok dari luar kota.
Sementara permintaan telur yang fresh dari peternak lokal cepat habis. Banyak diburu pedagang maupun konsumen. Jumain peternak ayam petelur mengatakan, perminataan telur masih sama seperti sebelum pandemi korona menyebar. Produksi telurnya selalu habis setiap hari. Bahkan, belum mencukupi kebutuhan pasar.
“Masih sama seperti biasa. Sekitar 68 kilogram (telur fresh) habis terus. Dan pasti kekurangan,” katanya kemarin. Peternak asal Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, itu menjelas kan telur hasil produksi peternakannya diditribusikan ke tiga pedagang di desa setempat.
Setiap hari sekitar 30 kilogram hingga 45 kilogram setiap pedagang. Bergantian setiap harinya, karena produksi tidak mecukupi jika langsung didistribusikan pada ketiganya. Jumain mengaku, harga telur justru menurun tiga minggu terkahir. Harganya hanya Rp 16 ribu hingga Rp 17 ribu per kilogram. Padahal, biasanya bisa mencapai Rp 22 ribu, bahkan lebih.
Menurut dia, harga turun karena masih mengacu harga di Kabupetan Blitar dan Kediri. Sebab, suplai telur masih dikuasai peternak Blitar, sementara produksi telur di Bojonegoro sendiri belum bisa mencukupi. “Bisa rugi jika turun, karena harga pakan tidak pernah turun, kalau naik iya,” ujarnya.
Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Bojonegoro Sukaemi mengatakan, permintaan telur selama pandemi masih stabil. Justru penurunan harga terjadi, namun merupakan hal wajar. Asalkan penurunan tidak drastis.
Manurut Sukaemi, penurunan mungkin terjadi ketika permintaan telur di pasaran sedikit. Dengan begitu penjual menurunkan harga akan stok telur segera habis. Dan bisa menstok ulang.
“Telur ada masa kedaluwarsanya. Jika disimpan terlalu lama rasanya tidak enak. Harus segera dijual,” ungkapnya Menurut dia, dampak pandemi korona membuat ekonomi belum stabil juga berpengaruh daya beli masyarakat. Sehingga pembelian menurun, sedangkan ketersediaan telur masih banyak. Dengan begitu harga menjadi turun. (irv)
Editor : Indra Gunawan