Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Senjata untuk Tawuran Diduga Sudah Disiapkan

M. Yusuf Purwanto • Selasa, 27 Agustus 2019 | 20:00 WIB
Senjata untuk Tawuran Diduga Sudah Disiapkan
Senjata untuk Tawuran Diduga Sudah Disiapkan

TUBAN, Radar Tuban – Senjata berupa celurit dan ruyung yang digunakan para pesilat Rembol (Kere Gerombolan) Pagar Nusa (PN), (sebelumnya ditulis Rembol 76, Red) untuk menyerang pendekar Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) diduga sudah disiapkan dari Bojonegoro. Rembol merupakan kelompok bentukan oknum pendekar PN dari Bojonegoro.


Kapolres Tuban AKBP Nanang Haryono menjelaskan, Rembol PN yang datang dari Bojonegoro jumlahnya puluhan. Saat melintas di lokasi acara temu kangen pendekar PN di lapangan Desa Kedungjambe, Kecamatan Singgahan, mereka membuat onar. ‘’Mereka (Rembol PN) tidak hanya bentrok dengan warga PSHT, melainkan juga membuat onar. Masyarakat banyak yang terganggu,’’ terang dia.


Perwira kelahiran Kedungadem, Bojonegoro ini mengatakan, saat ini 16 pemuda anggota Rombel PN sudah diamankan di Mapolres Tuban. Sementara delapan pemuda lain yang sempat diamankan di Polsek Parengan, dipulangkan karena tidak terbukti terlibat.


Kepada petugas, belasan remaja tersebut menolak dianggap sengaja membawa senjata untuk menyerang. ‘’Mereka beralasan, senjata yang dibawa untuk perlindungan diri,’’ tambah Nanang.


Usai kejadian, dia langsung ke lokasi dan memimpin langsung penangkapan para pelaku kerusuhan tersebut. Usai mengamankan para saksi dan pemuda yang diduga terlibat, mantan kasubdit III Ditreskrimum Polda Jateng ini langsung memimpin pertemuan untuk mediasi antara PSHT dan PN Ranting Parengan. Tempatnya di Balai Desa Parangbatu, Kecamatan Parengan. ‘’PSHT dan PN di Tuban selama ini tidak ada masalah, mohon maaf justru yang membuat konflik oknum dari Bojonegoro,’’ imbuh dia.


Pertemuan yang dihadiri forkopimka Parengan tersebut bertujuan untuk ikrar damai kedua organisasi di bawah naungan Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) sekaligus menggali keterangan dari keduanya. Berdasarkan keterangan perwakilan pendekar PN Ali, Rembol PN bukanlah bagian dari PN. Sebab, komunitas tersebut sudah melanggar AD/ART organisasi. ‘’Saya sampaikan kalau memang (Rembol PN) sudah bukan bagian dari PN harus ada tindakan konkret seperti menarik kartu anggota agar tidak disalahgunakan,’’ tegasnya.


Nanang mengatakan, dari insiden tersebut, dua orang luka berat. Salah satu di antaranya warga PSHT. Dia  dirawat di RSUD dr. Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro. Satu pendekar PN lainnya dirawat di RS Ibnu Sina Bojonegoro. Sementara belasan pendekar lainnya luka ringan akibat lemparan batu dan baku hantam. ‘’Seluruh warga tidak perlu khawatir, kami pastikan hukum ditegakkan. Dan konflik ini tidak akan berkepanjangan,’’ tegas perwira berpangkat melati dua di pundak itu.


Pasca insiden tersebut, Nanang mengimbau pengurus PSHT dan PN Tuban agar tidak melakukan sweeping atau aksi balas dendam. Imbauan tersebut sudah disepakati pengurus kedua perguruan pencak silat tersebut. ‘’PSHT dan PN Tuban sepakat untuk selalu menjaga kondusifitas dan keamanan di Bumi Wali,’’ pungkasnya.


Seperti diberitakan, puluhan pendekar beratribut perguruan pencak silat PSHT dan PN pada Minggu (25/8) sekitar pukul 13.00 terlibat bentrok di wilayah Kecamatan Parengan. Kejadian bermula saat sekitar 250 orang pesilat Rembol melakukan konvoi motor menuju Bojonegoro setelah menghadiri acara Temu Kangen di lapangan Desa Kedungjambe, Kecamatan Singgahan.
Ketika melintas di depan Balai Desa Parangbatu, Kecamatan Parengan yang tengah berlangsung tes jago yang digelar PSHT, mereka diduga menggeber motornya dan melempar batu ke balai desa.
Sebagian pesilat Rembol dikabarkan turun dari motornya dan bermaksud masuk balai desa. Namun, upaya tersebut dihadang pengamanan internal PSHT ranting setempat. Ketika itulah, anggota pengamanan bernama Nurzam Rony, 28, terkena sabetan sajam di kaki hingga menyebabkan uratnya putus.
Berselang 30 menit kemudian, puluhan anggota PSHT lainnya datang ke balai desa. Ketakutan, pesilat Rembol melarikan diri menuju perbatasan Bojonegoro-Tuban dan arah Kecamatan Soko. Tak lama berselang, tersiar kabar anggota PN bernama Bayu Pratama, 23, warga Desa Karangsono, Kecamatan Dander, Bojonegoro terkena sabetan sajam pada paha kiri dan luka lecet di pergelangan kaki kanan.
Situasi kian memanas setelah warga PSHT mendengar kabar melalui group WhatsApp (WA) terkait serangan Rembol. Warga PSHT yang berkumpul di sejumlah titik melakukan penghadangan terhadap pesilat Rembol dari arah Bojonegoro.
Melihat massa PSHT kian banyak, PN melarikan diri ke arah Kecamatan  Soko dan Kabupaten Bojonegoro.

Editor : M. Yusuf Purwanto
#ipsi