TERIK matahari menyengat. Beberapa anggota komunitas Stand Up Comedy Lamongan berkumpul. Layaknya roda berputar, kini stand up comedy tengah sepi orderan.
Para komika banyak yang mencoba peruntungan di bidang lain. ‘’Kalau di tingkat nasional sepi, di sini juga sepi. Banyak teman-teman yang beralih jadi penyiar radio, presenter televisi lokal, dan MC event. Tapi di tengah-tengahnya pasti kita selipkan teknik dan materi stand up comedy supaya kita tetap dikenal sebagai komika,’’kata Adit Danupraja, founder Stand Up Comedy Lamongan, Selasa (26/2).
Teknik stand up comedy yang pakem harus terdiri atas set up sebagai pengantar dan punch line sebagai isi materi. Jika diterapkan dalam kegiatan public speaking, hanya teknik punch line yang digunakan. Karena itu yang dapat menghibur para pendengarnya.
‘’Terutama melatih mental sebagai penghibur supaya semakin kuat. Kemampuan public speakingnya juga dapat. Serta bisa memanfaatkan teknik dengan baik,’’ ujar Adit.
Komika Lamongan tidak pernah absen mengikuti kompetisi, baik tingkat nasional maupun daerah. Namun, hingga saat ini anggota Stand Up Comedy Lamongan selalu terhenti di babak 30 besar.
Dany Dwipa, Gumilar Titan, dan G. Aainul tahun lalu pernah mengikuti Stand Up Comedy Academy (SUCA). Ketiganya sama-sama terhenti langkahnya di babak 30. Sehingga mereka belum bisa tampil di televisi nasional. Dari kegagalan tersebut, Stand Up Comedy Lamongan melakukan evaluasi. Dari segi materi yang dibawakan sudah bagus dan orisinil. Ternyata dari segi logat yang menjadi penyebab.
‘’Komika di Lamongan sudah nyaman menggunakan bahasa Jawa kalau tampil di sini. Karena itulah yang membuat penonton terhibur. Bahasanya tidak beda dengan sehari-hari. Tapi Kompetisi tingkat nasional tidak menerima itu. Logat Jawa kalau ngomong bahasa Indonesia terkesan kaku dan kurang enak didengar. Jadi kurang cocok untuk konsumsi hiburan. Karakternya kurang kuat,’’ tutur Dany Dwipa.
Untuk meningkatkan skill masing-masing anggota, komunitas ini rutin berlatih open mic seminggu sekali. Mereka open mic di hadapan sesama komika lainnya. ‘’Open mic di depan komika ibarat menggarami lautan. Susah dibuat tertawa. Tapi kalau di depan penonton awam malah ger-geran,’’ kata Adit.
Upaya mempertahankan eksistensinya, Stand Up Comedy Lamongan menerima tawaran show berbagai acara. Hampir setiap bulan selalu ada job bagi komika. Tawaran show meningkat saat perayaan tahun baru.
Anggota Stand Up Comedy Lamongan yang sekitar 25 orang kini didominasi mahasiswa dan pekerja muda.
‘’Show kita nanti ada interaksi dengan penontonnya. Jadi tidak sekedar ngomong sendiri di depan mic, lalu penontonnya tertawa. Walaupun stand up comedy adalah lawak berdiri, tapi kita harus berfikir kreatif untuk dapat menghibur para penonton. Mulai dari tema dan konsepnya harus direncanakan matang-matang,’’ tutur Adit.
Editor : M. Yusuf Purwanto