FEATURES - Berawal dari keresahan anggota keluarganya yang mengidap penyakit kronis, Alfiyah Noviyanti menyumbangkan waktu dan tenaganya untuk menjadi relawan pasien kronis. Khususnya, penderita dari keluarga miskin.
Sore itu, handphone di genggaman tangan kanan Alfiyah Noviyanti beberapa kali bordering. Setelah menerima telepon dari koleganya, dia menunjukkan ponselnya. Beberapa gambar penderita penyakit yang dia dampingi tersimpan dalam handphone tersebut.
‘’Ini penderita penyakit tumor dan yang ini penderita penyakit kanker payudara,’’ tuturnya kemudian menutup handphone dan meletakannya di atas meja.
Ibu dua anak itu merasa pada 2015 aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga agak longgar. Sebab, anak pertamanya yang kini kelas V MI, dan anak keduanya kelas II SD, itu mulai mengikuti full day.
Setelah mengantarkan anak sekolah, dirinya memiliki banyak waktu kosong. Beberapa pekerjaan rumah sudah berses sebelum kedua anaknya berangkat sekolah.
‘’Suami juga kerja di luar kota, saya izin kepada suami ikut membantu mencarikan obat warga yang tidak mampu, disetujui, ya saya jalani,’’ ujarnya sambil tersenyum.
Ada beberapa penderita penyakit yang sebelumnya kronis setelah didampingi perempuan yang akrab disapa Khanza Alvian itu sembuh dan bisa beraktivitas kembali. Di antaranya penderita tumor, hydrocephalus, dan bibir sumbing.
Berdasarkan pengalamannya, masih banyak warga miskin di pedesaan yang sakit. Namun, mereka tidak berani berobat. Alasan pertamanya, terkendala biaya.
Alasan lainnya, kesulitan mengakses biaya kesehatan yang gratis. Juga, belum ada tenaga kesehatan yang murni pengabdian untuk mewujudkan daerahnya sehat.
Rata-rata mereka yang bekerja di kesehatan itu untuk mengumpulkan pundi - pundi rupiah. Sehingga tujuan awal tenaga medis untuk pengabdian kepada masyarakat, rata-rata sudah luntur.
‘’Saya tahu sendiri dan merasakan sendiri karena saudara saya mengidap penyakit kronis. Saya kemudian bertekat agar tak ada orang lain yang sakit,’’ ceritanya kemudian menundukkan kepala dan mengusap air mata.
Niat tulus sering dinilai orang lain negatif. Namun hal itu dianggap perempuan kelahiran 17 November 1981 tersebut sesuatu yang biasa. Dia tidak ingin beradu mulut dengan mereka yang suka menilai kerja orang lain, tapi tak pernah mengoreksi dirinya sendiri.
‘’Kita jawab saja dengan tindakan,’’ ujarnya sambil mengepalkan tangan.
Di balik penilaian negatif, pasti ada juga yang menilainya sebagai sebuah tindakan positif. Khanza Alvian kerap mengajak para orang kaya yang berpikir positif untuk ikut membantu biaya pengobatan.
‘’Karena pengobatan terkadang bukan hanya di Lamongan, tapi di Surabaya juga sering,’’ tuturnya.
Dalam melakukan pendampingan, dia tidak ingin setengah - setangah. Sehingga, sejak awal mendampingi, dia meminta kepada pasien untuk siap menjalani perawatan hingga sembuh total.
Jika melakukan pendampingan setengah-setengah tidak sampai sembuh normal, dia anggap bukan sebuah pengabdian. Namun sebuah pekerjaan yang orientasinya profit.
‘’Urusan materi saya pasrah, karena mencari obat untuk sembuh itu sebuah kewajiban,’’ ujarnya.
Khanza Alvian mencontohkan penanganan salah satu penderita penyakit tumor payudara yang berasal dari salah satu desa di Kecamatan Babat.
Awalnya, penderita berusia sekitar 40 tahun itu merasa nyeri di bagian dada kanan. Perempuan tersebut kemudian periksa ke puskesmas terdekat. Hasilnya, dia diminta segera melakukan rujukan ke rumah sakit di Lamongan.
Namun, pasien merasa takut karena kesulitan biaya. Penyakitnya dibiarkan saja hingga berjalan sekitar setahun. Akibatnya, payudara membusuk hingga menjadi pembicaraan tetangga.
Khanza mendengar kabar tersebut dari tema sekolah yang kebetulan salah satu tetangga penderita. Dia menjenguk penderita dan berkomunikasi terkait beberapa kendala penyakit serta cara mengatasinya.
‘’Saya menawari berobat ke rumah sakit, tapi mereka takut biayanya bagaimana,’’ ujarnya.
Dia memberikan penjelasan tentang prosedur pengobatan melalui anggaran dari negara. Karena belum memiliki beberapa syarat untuk mengakses asuransi kesehatan, Khanza memfasilitasi dengan meminta ke pemdes.
Pasien diantar ke RSUD dr Soegiri Lamongan dengan meminjam mobil dinas sosial.
Penyakit pasien tersebut divonis kronis. Pihak RSUD dr Soegiri saat itu tak bisa mengatasi karena peralatannya terbatas. Pasien dirujuk ke RSU dr Soetomo Surabaya.
Di rumah sakit yang ada di Kota Pahlawan ini, registrasi antreannya sangat panjang. Saat Khanza mengantre, keluarga pasien diminta istirahat di ruang tunggu rumah sakit yang berada di Surabaya tersebut.
Setelah mendapat nomor kamar dan melakukan pemeriksaan, pasien diminta menjalani perawatan di rumah sakit sekitar 6 bulan.
‘’Setelah itu sembuh dan saat ini sudah bisa beraktivitas lagi,’’ ceritanya.
Biaya selama menjalani pengobatan, dia sering meminta bantuan kolega dekatnya. Mereka selama ini sudah berkomitmen untuk membantu warga tidak mampu.
Meskipun sering tidak memegang uang, ketika mendampingi keluarga tak mampu yang sedang berobat, selalu ada jalan.
Editor : M. Nurkhozim