BLORA, Radar Bojonegoro - Kuota elpiji subsidi untuk Kabupaten Blora tahun ini berkurang sekitar 143 ribu tabung. Itu karena kebijakan dari pemerintah pusat. Penyaluran pun terhambat, lantaran kendala cuaca.
Meski terjadi pengurangan, kuota elpiji diklaim masih bisa memenuhi kebutuhan. Antisipasi kelangkaan, Pemkab mengupayakan penambahan secara fluktuatif.
Sekretaris Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Dindagkop UKM) Eko Sujanarko mengatakan, alokasi kuota elpiji subsidi tahun ini sebanyak 7.770.333 tabung. Berkurang dari tahun lalu yakni sebanyak 7.913.666 tabung.
“Kuota elpiji yang berkurang sebanyak 143,333 tabung," ungkapnya.
Namun, pihaknya memastikan penyaluran elpiji melon ke masyarakat diklaim dalam keadaan normal. Sekitar 25 ribu tabung disalurkan dari agen ke pangkalan setiap harinya. Terkait terlambatnya penyaluran, menurunya hal itu disebabkan ada kendala pada pengambilan bahan di Pelabuhan Rembang dan Semarang.
“Pertamina Region IV sudah melakukan survei pada beberapa kabupaten se-Jawa Tengah. Kalau keadaan sudah normal, alokasi pendingan akan tetap disalurkan,” ucapnya.
Ia menyampaikan, masyarakat tidak perlu panik. Sebab, kondisi tersebut menurutnya wajar terjadi. Selain itu, pihaknya mewanti-wanti agar pemilik pangkalan dan pengecer juga agar tidak melakukan penimbunan.
Kepala Bidang Perdagangan Dindagkop Blora Siti Mas'amah menambahkan, kuota yang diperoleh tahun ini memang berkurang. Kebijakan itu merupakan kewenagan Kementerian ESDM dan Pertamina. Menurutnya, pengurangan tidak hanya terjadi di Blora, melainkan di setiap kabupaten/kota. Sesuai surat edaran yang diterbitkan.
"Tidak disebutkan alasan. Rilis berupa surat edaran untuk semua kabupaten/kota," katanya.
Ia menegaskan, pendistribusian elpiji dipastikan sampai kepada masyarakat. Terdapat 10 Agen yang mendistribusikan ke 996 pangkalan. Untuk menghindari kelangkaan, pihaknya selalu mengupayakan penambahan kuota fluktuatif, terlebih saat hari libur panjang.
"Namun kewenangan ada di Pertamina, dikasih tambahan atau tidak itu kewenangan Pertamina," tambahnya. (luk/zim)
Editor : Yuan Edo Ramadhana