RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Momen berkumpul bersama keluarga atau kerabat sering kali diwarnai oleh diskusi hangat, yang tidak jarang berujung menjadi perdebatan sengit.
Di tengah obrolan tersebut, Anda mungkin pernah berhadapan dengan seseorang yang secara terang-terangan menolak fakta ilmiah yang valid meskipun sudah disodorkan tumpukan bukti, sebuah fenomena yang oleh para ilmuwan disebut sebagai science denial (penyangkalan sains).
Selama ini, dilansir dari Psychology Today, masyarakat mengira penyangkalan ini hanya disebarkan oleh kelompok teori konspirasi di internet.
Namun, penelitian psikologi menemukan bahwa di balik sikap keras kepala tersebut, faktor pengalaman pribadi yang tidak sejalan dengan data statistik jauh lebih kuat memicu penolakan daripada sekadar masalah ideologi politik, disinformasi, atau keyakinan moral.
Bayangkan sebuah situasi di mana Anda menjelaskan suatu temuan ilmiah baru, lalu lawan bicara Anda langsung menyatakan skeptisisme hanya karena data tersebut tidak terjadi pada dirinya sendiri.
Baca Juga: Orang yang Suka Begadang Rerata Jomblo atau Memilih Gaya Pacaran Jangka Pendek, Menurut Psikologi
Sebagai contoh konkret, Anda menunjukkan data bahwa orang yang terbiasa bangun pagi cenderung lebih terorganisir daripada orang yang suka begadang.
Teman Anda yang gemar begadang seketika membantah: “Yah, saya orang yang terbiasa begadang dan saya sangat terorganisir. Temuan ini tidak mungkin benar!” Padahal, penelitian ilmiah yang berkaitan dengan probabilitas tidak akan pernah berlaku kaku untuk setiap individu atau setiap situasi tunggal.
Mengapa manusia begitu mudah menolak sains dalam kondisi ini? Para peneliti mengidentifikasi dua akar masalah utamanya: kesalahpahaman akut tentang statistik dan jebakan bias kognitif.
Sains Menggunakan Rata-Rata, Manusia Membaca Sifat Individu
Akar konflik pertama bersumber dari cara masyarakat awam mengartikan istilah ilmiah. Ketika sebuah headline berita menuliskan, “Terdapat hubungan yang signifikan antara menjadi orang yang aktif di pagi hari dan terorganisir,” kata “signifikan” di sini secara matematis hanya berarti bahwa hubungan tersebut valid dan bukan terjadi karena faktor kebetulan.
Kata itu sama sekali tidak menggambarkan seberapa kuat hubungan tersebut pada tingkat personal. Untuk mengukur kekuatan hubungan itu, ilmuwan menggunakan metrik "ukuran efek" (effect size).
Bahkan ketika ada perbedaan berskala "besar" antara dua kelompok yang diteliti, kedua kelompok tersebut sebenarnya masih memiliki lebih banyak kemiripan daripada perbedaan.
Artinya, kelompok burung pagi dan burung hantu malam secara garis besar tetap mirip dalam hal keterorganisasian mereka.
Sayangnya, orang tanpa pelatihan statistik yang ekstensif sering kali salah menyimpulkan bahwa temuan tersebut bersifat mutlak dan harus terjadi pada setiap orang tanpa terkecuali.
Jebakan Bias 'Apa yang Saya Lihat, Itulah yang Nyata'
Secara psikologis, manusia terbukti lebih memperhatikan pengalaman pribadi yang dialami indranya sendiri daripada melihat kecenderungan rata-rata statistik saat mencoba memahami dunia.
Fenomena ini terjadi karena memori personal sangat mudah tersedia di dalam otak dan tidak membutuhkan energi besar untuk diproses.
Baca Juga: Fenomena Remaja Sering Begadang: Kenapa Terjadi dan Bagaimana Mengatasinya?
Dalam buku bestseller miliknya yang berjudul Thinking, Fast and Slow, psikolog Daniel Kahneman menggambarkan jalan pintas mental ini sebagai bias kognitif "what you see is all there is" (apa yang Anda lihat adalah semua yang ada).
Kita tidak bisa melihat grafik rata-rata statistik berjalan di kehidupan nyata, sehingga data angka menjadi lebih abstrak dan sulit dicerna oleh otak.
Ketika terjadi benturan keras antara data statistik global dengan pengalaman hidup sendiri, manusia akan mengalami alarm ketidaknyamanan psikologis yang dikenal sebagai disonansi kognitif (cognitive dissonance).
Sains seolah-olah mengirimkan sinyal egois bahwa pengalaman hidup Anda tidak valid hanya karena berbeda dari mayoritas orang.
Untuk menghilangkan rasa gelisah dan tidak nyaman tersebut secara instan, cara paling mudah dan murah yang dipilih oleh otak manusia adalah dengan menolak atau menganggap remeh fakta ilmiah itu sendiri.
Mengapa Ilmu Psikologi Paling Sering Disangkal?
Ilmu psikologi adalah bidang yang paling rentan terkena dampak science denial karena objek kajiannya bersentuhan langsung dengan perilaku harian manusia. Akibatnya, hampir setiap jurnal psikologi yang dipublikasikan berpotensi kuat menubruk pengalaman pribadi seseorang.
Dalam serangkaian studi yang baru-baru ini diterbitkan di jurnal Social Psychological and Personality Science, para peneliti menguji bias ini dengan mengukur tingkat religiusitas partisipan serta persepsi lokasi diri mereka (apakah merasa berpusat di kepala atau di hati). Data menunjukkan bahwa orang yang merasa dirinya berpusat di hati cenderung lebih religius.
Pola ini tentu memiliki pengecualian pada beberapa individu. Uniknya, ketika para peneliti memperlihatkan data kontras tersebut kepada partisipan yang skor pribadinya menyimpang dari rata-rata:
Mereka yang menyadari perbedaan ini dalam skor mereka sendiri merasakan ketidaknyamanan psikologis yang lebih besar dan lebih cenderung menyangkal bahwa hubungan antara lokasi diri berdasarkan hati/kepala dan religiusitas itu nyata.
Dari Hal Sepele hingga Dampak Fatal bagi Dunia
Menolak riset psikologi tentang detak jantung dan religiusitas mungkin dampaknya relatif tidak penting bagi kehidupan sosial.
Namun, jika mekanisme penolakan berbasis ego ini terus direplikasi pada bidang sains lainnya, konsekuensinya bisa sangat berbahaya bahkan mengancam peradaban.
Kita tentu sudah sering menyaksikan seseorang dengan mudahnya menolak sains perubahan iklim global (climate change) hanya karena wilayah tempat tinggalnya sedang mengalami hari-hari dengan suhu yang sangat dingin.
Fenomena yang sama persis juga terjadi ketika sekelompok orang menolak realitas virus COVID-19 dan urgensi vaksinasi massal hanya karena mereka pribadi belum pernah terinfeksi, atau jika pernah pun, mereka hanya merasakan gejala yang sangat ringan.
Bagi ego manusia, prinsip "melihat adalah percaya" masih menjadi raja yang sulit digulingkan. Ketika dihadapkan pada riset yang menyatakan bahwa pengalaman kita berbeda dari orang lain, sangat wajar jika sistem pertahanan mental kita merasa bergejolak.
Meskipun respons penyangkalan ini bersifat alami dan sering kali tidak berbahaya dalam urusan domestik, memelihara science denial dalam skala makro dapat memicu malapetaka serius, baik dari sektor kesehatan publik, kelestarian lingkungan, hingga kebijakan sosial-politik. (*)