Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Hati-Hati! Sering Simpan Barang karena Alasan 'Nanti Dipakai'? Ini Kata Psikologi Soal Kepribadian yang Sebenarnya

Bhagas Dani Purwoko • Kamis, 12 Maret 2026 | 19:19 WIB

 

Ilustrasi meja berantakan.
Ilustrasi meja berantakan.

RADARBOONEGORO.JAWAPOS.COM - Pernahkah Anda menyimpan tumpukan kantong plastik, kotak sepatu kosong, atau pakaian lama dengan pikiran: "Jangan dibuang, siapa tahu nanti dipakai"?

Di Bojonegoro, kebiasaan ini mungkin terlihat lumrah, namun dalam dunia psikologi, perilaku ini menyimpan cerita mendalam tentang kondisi emosional dan tipe kepribadian seseorang.

Menyimpan barang berlebih bukan sekadar masalah keterbatasan ruang, melainkan manifestasi dari cara otak kita memproses keterikatan, rasa aman, dan ketakutan akan masa depan.

1. Keterikatan Emosional yang Terlalu Kuat

Orang yang sulit membuang barang biasanya memiliki empati yang sangat tinggi terhadap benda mati.

Baca Juga: Orang yang Suka Menumpuk Barang “Nanti Dipakai” Biasanya Memiliki Kepribadian Tertentu Menurut Psikologi

Mereka tidak melihat barang sebagai objek fungsi semata, melainkan sebagai penyimpan memori. Membuang barang lama bagi mereka terasa seperti membuang sebagian dari kenangan masa lalu.

2. Kecemasan Akan Ketidakpastian Masa Depan

Kalimat "siapa tahu nanti butuh" adalah bentuk mekanisme pertahanan diri terhadap kecemasan. Mengutip dari American Psychiatric Association melalui laman Psychiatry.org, perilaku menumpuk barang sering kali berkaitan dengan rasa takut kehilangan kontrol atau rasa tidak siap menghadapi situasi darurat di masa depan.

3. Sulit Mengambil Keputusan (Indecisiveness)

Menurut psikologi, kebiasaan menumpuk barang mencerminkan kesulitan dalam mengambil keputusan. Memilih barang mana yang harus dibuang dan mana yang harus disimpan membutuhkan energi kognitif yang besar. Untuk menghindari rasa bersalah karena "salah pilih", mereka akhirnya memilih untuk tidak membuang apa pun.

Baca Juga: Sering Timbun Barang Bekas dengan Alasan 'Nanti Dipakai'? Awas, Ini Kata Psikolog Soal Kepribadianmu!

Kapan Kebiasaan Ini Menjadi Bahaya?

Dalam tahap yang ekstrem, kebiasaan ini bisa mengarah pada Hoarding Disorder. Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Psychiatric Research menunjukkan bahwa lingkungan yang berantakan (clutter) dapat meningkatkan hormon kortisol, yang memicu stres kronis dan menurunkan produktivitas.

Tips Sederhana Memulai Decluttering:

  1. Gunakan Aturan 6 Bulan: Jika barang tersebut tidak Anda sentuh atau gunakan dalam 6 bulan terakhir, kemungkinan besar Anda memang tidak membutuhkannya.

  2. Foto Memorinya, Buang Barangnya: Jika sebuah benda disimpan hanya karena kenangan, ambil fotonya secara digital, lalu donasikan barang fisiknya ke panti asuhan atau lembaga sosial di Bojonegoro agar lebih bermanfaat.

  3. Satu Masuk, Satu Keluar: Setiap kali membeli barang baru, pastikan ada satu barang lama yang keluar dari rumah.

Rumah Bersih, Pikiran Jernih

Melepaskan barang bukan berarti melupakan kenangan. Justru dengan memberikan ruang kosong di rumah, Anda memberikan ruang bagi energi positif dan kebahagiaan baru untuk masuk. Kepribadian Anda tidak ditentukan oleh seberapa banyak barang yang Anda miliki, melainkan oleh ketenangan pikiran yang Anda rasakan. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#nanti dipakai #pikiran jernih #psikologi #keputusan #rumah bersih #kepribadian #decluttering #bahaya #Emosional