RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Siapa yang tidak pernah melihat unggahan lamaran atau pertunangan yang megah di media sosial?
Dari pantai Bali dan tebing Uluwatu dengan latar matahari terbenam, hingga menara Eiffel di Paris.
Tunangan zaman sekarang sepertinya bukan lagi sekadar momen sakral antara dua insan yang ingin mengikat janji.
Tetapi, sudah berubah menjadi ajang pamer kemewahan yang harus diabadikan dengan sempurna.
Dulu, pertunangan cukup dilakukan di rumah dengan berkumpul bersama keluarga besar. Sederhana namun penuh kehangatan.
Baca Juga: Wapres Gibran Dorong Hilirisasi Ekspor Kemenyan: Ini Bahan Baku Parfum Mewah!
Namun kini, banyak pasangan muda merasa perlu merayakan momen tersebut di tempat yang instagramable, lengkap dengan fotografer profesional, dekorasi mewah, dan tentunya lokasi yang membuat orang lain terpukau.
Ketika Media Sosial Jadi Juri
Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari pengaruh media sosial. Setiap hari kita disuguhi berbagai konten pertunangan yang semakin kreatif dan mewah.
Tanpa sadar, hal ini menciptakan standar baru dalam benak anak muda. Pertunangan yang baik sepertinya harus viral, harus mendapat ribuan like, dan tentu saja harus bikin iri teman-teman yang lain.
Tekanan sosial ini membuat sebagian pasangan merasa tidak cukup jika hanya melamar di tempat biasa.
Mereka berlomba mencari lokasi paling eksotis, mulai dari pantai tersembunyi di Nusa Penida, kebun teh di Puncak, hingga negeri orang seperti Santorini.
Apakah semua itu benar-benar untuk kebahagiaan sendiri atau justru untuk memenuhi ekspektasi orang lain?
Merayakan pertunangan di tempat yang indah memang tidak salah. Siapa yang tidak ingin punya kenangan indah di momen penting kehidupan?
Namun, yang sering dilupakan adalah konsekuensi finansialnya. Banyak pasangan muda yang terlalu memaksakan diri, bahkan sampai berutang, demi mendapatkan foto pertunangan yang sempurna di lokasi impian.
Padahal, perjalanan kehidupan berumah tangga masih panjang. Ada biaya pernikahan yang jauh lebih besar menanti, belum lagi kebutuhan membangun rumah tangga baru.
Jika sejak awal sudah terjebak dalam pola hidup yang tidak sesuai kemampuan, bisa jadi ini akan menjadi masalah di kemudian hari.
Baca Juga: PPN 12% Berlaku Hanya untuk Barang Mewah, Prabowo: Komitmen Kita Selalu Pro Rakyat
Bukan berarti semua pasangan yang merayakan pertunangan secara mewah itu salah atau sekadar pamer.
Ada yang memang mampu secara finansial dan ingin menciptakan momen berkesan. Hal ini sah-sah saja.
Masalahnya adalah ketika kita merasa harus melakukannya meskipun sebenarnya tidak mampu, hanya karena takut dianggap ketinggalan zaman atau tidak romantis.
Pertunangan sejatinya adalah momen untuk mengukuhkan komitmen dua insan yang saling mencintai. Tempat dan kemewahan hanyalah pelengkap, bukan yang utama.
Sebuah pertunangan yang dirayakan dengan tulus, apa adanya, di tempat sederhana namun penuh makna, jauh lebih berharga daripada yang megah tetapi dipaksakan.
Bijak Menyikapi Tren
Tidak ada yang salah dengan mengikuti tren, selama kita tahu batas kemampuan dan tidak kehilangan esensi dari momen itu sendiri.
Baca Juga: PPN 12% Berlaku Hanya untuk Barang Mewah, Prabowo: Komitmen Kita Selalu Pro Rakyat
Jika memang mampu dan ingin merayakan pertunangan di Bali atau di luar negeri, silakan saja. Tetapi jika kondisi finansial belum memungkinkan, tidak perlu memaksakan diri.
Hal terpenting adalah kebahagiaan sejati yang datang dari hati, bukan dari jumlah like di media sosial.
Karena pada akhirnya, pasangan kitalah yang akan menemani membangun rumah tangga, bukan followers yang memberikan jempol di foto pertunangan kita. (jes/bgs)
Editor : Bhagas Dani Purwoko