Kamu Perlu Tahu! Sifat Asli Seseorang Sering Tersirat dari Cara Dia Merespons Cerita Orang Lain
Hakam Alghivari• Selasa, 17 Juni 2025 | 03:00 WIB
Ilustrasi interaksi di kafe.
RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Pernah nggak, kamu bercerita dari hati ke hati tentang masalah, mimpi, atau luka. Tapi respons dari lawan bicaramu justru membuatmu merasa makin sepi? Atau sebaliknya, hanya dengan kata-kata sederhana dan tatapan yang tulus, kamu merasa benar-benar dipahami?
Respons semacam itu ternyata bisa jadi cerminan dari kepribadian asli seseorang, lho.
Dalam psikologi sosial, cara seseorang merespons cerita orang lain erat kaitannya dengan empati, kepribadian, dan kedewasaan emosional.
Hal-hal kecil seperti intonasi suara, pilihan kata, atau bahkan bahasa tubuh bisa menjadi petunjuk tentang siapa dia sebenarnya.
1. Suka Menyela Cerita Orang Lain? Bisa Jadi Tipe Ego-Sentris
Orang yang sering memotong cerita atau langsung mengganti topik pembicaraan biasanya memiliki kecenderungan ego-sentris. Mereka lebih fokus pada dirinya sendiri dibanding mendengarkan secara aktif.
Dalam studi oleh Davis (1983) tentang Interpersonal Reactivity Index, disebutkan bahwa individu dengan skor rendah dalam empati kognitif cenderung tidak mampu menempatkan diri dalam perspektif orang lain.
Alih-alih jadi pendengar yang suportif, mereka cenderung menjadikan cerita orang lain sebagai pemicu untuk membicarakan pengalaman pribadinya.
Meskipun kelihatannya mereka ikut nimbrung, sebenarnya fokus mereka tidak benar-benar tertuju pada kamu.
2. Merespons dengan Validasi Emosi? Pertanda Punya EQ Tinggi
Kalau seseorang menanggapi ceritamu dengan kalimat seperti, "Pasti itu berat banget ya buat kamu," atau "Wajar kok kamu ngerasa seperti itu," maka besar kemungkinan ia punya kecerdasan emosional yang tinggi.
Menurut Daniel Goleman, validasi emosi adalah kemampuan untuk mengakui perasaan orang lain tanpa langsung menghakimi atau memberi solusi.
Hal ini merupakan tanda kedewasaan emosional dan empati afektif yang kuat. Orang seperti ini cenderung menjadi pendengar sejati, yang bisa hadir tanpa harus selalu bicara.
3. Selalu Memberi Solusi Tanpa Diminta? Tipe Fixer yang Cemas
Mereka yang buru-buru memberi saran atau solusi atas cerita kita seringkali bukan tidak peduli—justru sebaliknya. Namun, pendekatan ini bisa menunjukkan kecemasan dalam menghadapi ketidaknyamanan emosional.
Menurut teori dari Brown dan Ryan (2003), tipe ini sering kesulitan menghadapi situasi yang tidak bisa mereka "perbaiki".
Alih-alih menenangkan, respons mereka terkadang terasa kurang empatik karena langsung meloncat pada “apa yang harus dilakukan,” padahal yang kamu butuhkan mungkin hanya didengarkan.
Meski niatnya baik, orang seperti ini lebih nyaman beraksi daripada berdiam dalam kesunyian emosional orang lain.
4. Merespons dengan Diam dan Perhatian Penuh? Tipe Observan dan Penuh Kasih
Terkadang, respons terbaik bukanlah kata-kata, melainkan kehadiran yang utuh.
Orang yang tidak buru-buru menanggapi tapi menunjukkan perhatian lewat tatapan, gestur, atau pelukan kecil biasanya termasuk tipe observan dan compassionate.
Dalam pendekatan mindful communication, orang-orang seperti ini telah terlatih untuk tidak reaktif, melainkan merespons dengan kesadaran penuh.
Mereka tidak merasa perlu mengisi keheningan dengan omong kosong, karena tahu bahwa kadang, kehadiran diam adalah dukungan paling tulus.
5. Suka Menertawakan Cerita Emosional? Tanda Kurang Regulasi Emosi
Jika seseorang malah merespons cerita serius dengan tawa sinis, bercanda berlebihan, atau mengalihkan dengan candaan, bisa jadi itu tanda bahwa dia belum mampu mengatur emosi dengan sehat.
Menurut psikolog Susan David, ini termasuk bentuk emotional avoidance, yaitu kecenderungan menolak emosi sulit dengan humor atau sinisme.
Orang seperti ini mungkin bukan jahat, tapi tidak tahu cara yang tepat dalam menghadapi emosi—baik milik sendiri maupun orang lain.
Namun jika terus-menerus dilakukan, respons semacam ini bisa sangat melukai dan membuatmu merasa tidak dihargai.