RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Setiap tahun, kita punya dua momen spesial untuk merayakan sosok yang sering kali diam-diam jadi pahlawan dalam keluarga: ayah. Tapi tahukah kamu, bahwa Indonesia punya dua versi Hari Ayah? Satu berasal dari luar negeri, satu lagi dari tanah air sendiri.
Meski tujuannya serupa—menghormati dan mengapresiasi peran ayah—dua peringatan ini memiliki latar belakang dan nuansa yang berbeda. Yuk, kita telusuri asal-usul dan makna keduanya!
Father’s Day: Dari Amerika untuk Dunia
Kisah tentang Father's Day dimulai lebih dari seratus tahun lalu, di sebuah kota kecil bernama Spokane, Washington, Amerika Serikat. Di sanalah seorang perempuan bernama Sonora Smart Dodd merasa ayahnya layak mendapatkan penghargaan sebesar yang biasa diberikan kepada ibu.
Ayahnya, seorang veteran perang bernama William Jackson Smart, membesarkan enam anak sendirian setelah istrinya meninggal dunia. Terinspirasi dari Hari Ibu yang sudah lebih dulu dirayakan, Sonora mengusulkan agar ada hari khusus untuk para ayah.
Usulannya diterima, dan perayaan Father's Day pertama digelar pada 19 Juni 1910. Meskipun butuh waktu puluhan tahun untuk menjadi hari besar resmi, akhirnya pada tahun 1972, Presiden Nixon menetapkan Minggu ketiga bulan Juni sebagai Hari Ayah secara nasional di AS. Sejak itu, tradisi ini menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
Hari Ayah Nasional: Sebuah Suara dari Solo
Sementara itu di Indonesia, Hari Ayah Nasional lahir dari pertanyaan sederhana yang muncul di tengah peringatan Hari Ibu.
Pada tahun 2014, dalam sebuah acara di Kota Solo yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Putra Ibu Pertiwi (PPIP), salah satu peserta bertanya, “Kalau Hari Ibu ada, kapan giliran ayah?”
Pertanyaan itu menggugah banyak pihak, hingga akhirnya PPIP melakukan kajian dan advokasi ke berbagai instansi, termasuk DPRD Solo. Hasilnya? Pada 12 November 2006, Indonesia resmi mendeklarasikan Hari Ayah Nasional.
Tanggal ini dipilih bukan tanpa makna. Selain menjadi penyeimbang dari Hari Ibu yang jatuh setiap 22 Desember, tanggal 12 November juga bersamaan dengan Hari Kesehatan Nasional. Ini seakan mengingatkan kita bahwa menjadi ayah juga perlu sehat, kuat, dan berdaya.
Berbeda dari Father's Day, Hari Ayah Nasional bukan hari libur resmi, tapi maknanya tak kalah dalam. Ia mencerminkan keinginan masyarakat untuk memberi tempat yang layak bagi figur ayah dalam konteks budaya lokal. (kam)
Editor : Hakam Alghivari