RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Jumlah kasus perceraian di Bojonegoro maupun Indonesia cukup tinggi dan didominasi faktor ekonomi. Berdasarkan data Pengadilan Agama Bojonegoro, angka perceraian di Kota Ledre tersebut cukup tinggi sepanjang tahun 2024. Yakni sebanyak 2.813 perkara perceraian, dengan 1.102 perkara di antaranya disebabkan oleh masalah ekonomi.
Sedangkan berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama (Ditjen Badilag MA), tercatat lebih dari 516.000 perkara perceraian pada tahun 2024. Ironisnya, lebih dari 60% di antaranya disebabkan oleh masalah ekonomi.
Faktor tekanan hidup, penghasilan yang menurun, hingga gagal mengelola keuangan rumah tangga menjadi pemicu utama. Tak heran, banyak pasangan yang memilih jalan berpisah, bahkan setelah bertahun-tahun menikah.
Menurut pakar psikologi, sebenarnya bukan hanya karena uang. Tapi karena pasangan tidak siap menghadapi krisis bersama. Komunikasi dan pengelolaan emosi sangat menentukan.
Berikut 5 tips penting dari para ahli untuk menjaga keutuhan rumah tangga di tengah badai ekonomi:
- Jujur dan Terbuka Soal Keuangan
Jangan sembunyikan masalah keuangan dari pasangan. Bicarakan secara terbuka penghasilan, utang, dan kebutuhan rumah tangga. Transparansi keuangan mencegah konflik dan meningkatkan kepercayaan.
- Sesuaikan Gaya Hidup dengan Realita
Jika penghasilan berkurang, maka gaya hidup juga harus disesuaikan. Fokus pada kebutuhan pokok, dan kurangi pengeluaran yang tidak penting. Hindari membandingkan diri dengan orang lain, terutama di media sosial.
- Bangun Sumber Penghasilan Tambahan Bersama
Saat pekerjaan utama tak mencukupi, cobalah memulai usaha kecil bersama. Banyak pasangan kini sukses berjualan makanan, produk rumahan, atau jasa online. Usaha bersama bisa memperkuat kekompakan dan komunikasi.
- Jaga Kehangatan Hubungan
Waktu berkualitas tak harus mahal. Masak bareng, nonton film favorit di rumah, atau sekadar ngobrol sore sambil minum teh bisa mempererat hubungan. Jangan biarkan stres ekonomi mematikan keintiman emosional.
- Jangan Ragu Minta Bantuan
Jika konflik makin sulit diselesaikan, konsultasikan pada pihak ketiga yang netral. Saat ini, banyak layanan konseling keluarga yang bisa diakses gratis atau berbiaya rendah, baik dari pemerintah maupun komunitas.
Sebagai contoh, Rina (34), warga Lamongan, sempat mengalami krisis rumah tangga setelah suaminya terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). “Kami sering ribut karena uang. Tapi setelah ikut pelatihan usaha rumahan dari desa, kami malah jadi dekat lagi. Sekarang jualan keripik bareng,” ungkapnya.
Kondisi ekonomi memang bisa berubah drastis, tapi keputusan untuk tetap bersama dan saling menguatkan adalah pilihan sadar yang bisa diambil setiap hari. Masalah ekonomi bisa dicari jalan keluarnya. Tapi kalau komunikasi dan kepercayaan rusak, itulah yang sulit diperbaiki. (feb)
Editor : Yuan Edo Ramadhana