RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Salah satu perlombaan yang populer di kalangan masyarakat untuk merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia adalah balap bakiak. Dalam balapan ini, dua, tiga atau lebih peserta mengenakan satu sandal kayu panjang yang terhubung satu sama lain, sehingga semua peserta harus kompak bergerak bersama-sama.
Koordinasi pergerakan setiap peserta menjadi kunci kemenangan peserta balap bakiak. Tidak heran sama seperi gerak jalan, para peserta saling berteriak “Kiri! Kanan! Kiri!” sambil berpegangan satu sama lain agar tidak jatuh atau lepas sandalnya.
Ternyata permainan ini tidak hanya terkenal di kalangan masyarakat Indonesia, namun juga di wilayah Sinosfer alias Asia Timur. Hal ini berakar dari kesamaan masyarakat setempat yang suka mengenakan sandal berbahan kayu, serta perdagangan antar negara dan wilayah yang terhubung satu sama lain sejak zaman dulu.
Sebagai contoh, bakiak di Tiongkok dikenal sebagai ban xie (板鞋), sementara di Jepang dikenal sebagaI geta (下駄). Sama seperti bakiak, keduanya terbuat dari kayu. Namun ban xie lebih mirip bakiak karena sama-sama beralas rata, sementara geta memiliki hak di bagian depan dan belakang.
Selain itu menurut arsip traditionalsports.org, kedua negara punya tradisi menggelar balap lari menggunakan sandal kayu tersebut. Bedanya, balap menggunakan geta lebih mirip balap lari biasa, sementara bala menggunakan ban xie sama persis seperti balap bakiak di Indonesia, yakni menggunakan sandal panjang untuk tiga orang atau lebih.
Balap ban xie diperkirakan ditemukan pada abad ke-16, pada era Dinasti Ming di wilayah Guanxi. Balap ini diciptakan untuk melatih koordinasi dan kekompakan pasukan militer dinasti, namun kemudian juga populer dilombakan oleh masyarakat biasa.
Di Indonesia sendiri, menurut Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, balap bakiak pertama kali dipopulerkan di Sumatera Barat. Di wilayah tersebut, bakiak disebut sebagai terompah sesuai akar budaya Melayu di wilayah tersebut.
Bakiak yang digunakan untuk balap bakiak beregu disebut sebagai terompah panjang, terompah galuak atau terompah deret, sesuai dengan panjangnya dan cara penggunaannya yang mengharuskan pengguna berbaris sejajar. Secara tradisional, balap bakiak di Indonesia dilombakan untuk tiga hingga lima orang per kelompok.
Peraturannya pun sederhana, dan sama untuk semua negara asalnya. Dua atau lebih kelompok saling berbaris menggunakan bakiak sebelum balap dimulai, dan balap dimulai setelah wasit atau pemberi aba-aba memulai balapan.
Dewasa ini, selain saling beradu, setiap kelompok juga wajib berada di dalam garis atau lajur balap agar tidak menghalangi peserta lain. Peserta yang keluar jalur langsung didiskualifikasi, dan peserta yang tercepat sampai ke tujuan tanpa keluar jalur dinyatakan sebagai pemenang. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana