RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Belakangan ini banyak tersebar video anak penari dalam ajang balap perahu yang viral tidak hanya di Indonesia, namun juga belahan dunia. Berbagai masyarakat mulai sering mengunggah video mereka meniru gerakan-gerakan anak-anak tersebut saat berada di atas perahu.
Saking populernya, banyak tokoh-tokoh dunia, terutama atlet yang meniru tarian anak-anak tersebut. Ada jug ayang mengklaim tarian ini merupakan tarian viral musim panas di luar negeri.
Di kalangan luar negeri, video-video tersebut dikenal sebagai “kid aura farming on boat” (Anak mancing aura di atas perahu) atau sekedar “anak dari balap perahu”. Namun mungkin banyak yang belum tahu jika anak dan perahu tersebut merupakan bagian dari salah satu tradisi dari Riau, yakni pacu jalur.
Pacu jalur merupakan salah satu tradisi khas Minangkabau dari Kabupaten Kuantan Singigi, Provinsi Riau. ‘Jalur’ sendiri merupakan perahu khas kabupaten tersebut, yakni sebuah perahu panjang berukuran sekitar 20-30 meter dari kayu.
Sejak abad ke-17, perahu jalur digunakan sebagai moda transportasi untuk menyebrang Sungai Kuantan yang berada di kabupaten tersebut. Menurut rilis Dinas Kebudayaan Kuantan Singigi, sebuah perahu jalur dapat memuat 40 hingga 60 penumpang.
Seiring waktu, jalur berubah dari hanya sekedar alat transportasi menjadi simbol kemegahan masyarakat Minangkabau, dengan berbagai ukiran dan lukisan menghiasi perahu jalur. Lambat laun, festival pacu jalur digelar hingga saat ini untuk memamerkan dan beradu cepat perahu jalur dari berbagai daerah di sekitar kabuparten tersebut.
Awalnya, festival pacu jalur digelar setiap peringatan Tahun Baru Islam. Namun dewasa ini festival diselenggarakan untuk menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia setiap Agustus.
Balap pacu jalur diselenggarakan dengan sistem eliminasi grup, dengan perahu pemenang berlomba hingga kalah atau mencapai babak final. Sinyal start menggunakan meriam yang dibunyikan tiga kali. Tembakan pertama memerintahkan perahu untuk berbaris, tembakan kedua tanda bersiap, dan lomba dimulai pada tembakan ketiga.
Menurut rilis Kementerian Pariwisata, setiap penumpang dalam pacu jalur disebut anak pacu, dan terbagi menjadi beberapa posisi. Nahkoda atau pemberi aba-aba disebut tukang concang, dan juru mudi disebut tukang pinggang.
Kemudian di depan dan belakang perahu ada dua anak yang berfungsi mengatur ritme dayung para anak pacu. Anak di belakang disebut tukang onjai, sementara yang di depan, sekaligus yang viral akhir-akhir ini disebut tukang tari, atau anak coki.
Berbeda dengan tukang onjai yang selalu bergoyang, anak coki tidak selalu menari di atas perahu. Ketika perahu jalur berada di posisi depan, anak coki menari untuk menandakan pimpinan lomba sebagaimana yang terlihat viral, sementara jika tertinggal, anak coki diam dan merunduk untuk membantu kecepatan perahu.
Terkadang jika butuh kecepatan ekstra, anak coki juga bisa terjun dari perahu untuk mengurangi beban. Jika anak coki tetap berada di atas perahu sampai finish, biasanya anak coki sujud syukur setelah melalui garis finish.
Nah, kenapa masyarakat luar negeri mengaitkan tarian anak coki dengan istilah ‘aura farming’? Menurut ensiklopedi Know Your Meme, istilah ‘aura farming’ merujuk pada tindakan-tindakan seperti berdiri gagah atau pamer agar terlihat keren di muka umum. Istilah tersebut baru diciptakan pada 2024 lalu dan menyebar melalui media sosial TikTok.
Dalam penggunaan umum, ‘aura farming’ dapat digunakan sebagai sindiran pada orang-orang yang dianggap sok keren. Namun ‘aura farming’ juga sering dipakai untuk memuji orang-orang yang sukses tampil keren, gagah dan berani, layaknya dalam video anak coki yang sedang viral saat ini.
Unggahan video meme anak coki yang menari biasanya diiringi dengan lagu rap ‘Young, Black and Rich’ milik Melly Mike. Tema lagu tersebut juga sepadan dengan definisi ‘aura farming’, yakni menyombongkan diri atas kesuksesan dan kekayaan yang dimiliki.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Riau, Roni Rakhmat menyambut baik fenomena viralnya tarian anak coki tersebut. “Ini membuktikan bahwa kearifan lokal kita memiliki daya tarik universal dan mampu bersaing di panggung global,” ujarnya kepada media setempat pada Jumat (4/7). (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana