RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Bermula dari sebuah gudang kecil berukuran 3x6 meter di SDN 2 Panjunan, Bojonegoro, kini berdiri sebuah museum unik yang menjadi tujuan edukasi dan penelitian berbagai kalangan: Museum 13. Didirikan pada tahun 1987 oleh Hary Nugroho, seorang guru biasa yang bukan ahli sejarah atau geologi. Museum ini menjadi simbol semangat dan dedikasinya terhadap ilmu pengetahuan, khususnya paleontologi.
Menurut Alif Indriyati, guru SDN Panjunan 2 dan juga sebagai pengurus museum 13, Hary pertama kali tertarik dengan dunia fosil saat tengah mencari batu akik dan secara tak sengaja menemukan batu yang ternyata adalah fosil. Penemuan tersebut menjadi titik awal ketertarikannya terhadap dunia purbakala. Sejak itu, ia secara aktif melakukan pencarian dan pengumpulan fosil, yang kemudian ia simpan di ruang kosong sekolah sebelum akhirnya dibukakan ruang khusus yang kini menjadi Museum 13.
Baca Juga: Tradisi Sawuran Jadi Pertanda Masa Panen Tiba di Boleran, Masyarakat Arak Gunungan dan Lempar Beras
Nama “Museum 13” memiliki makna unik. Angka 13 diambil dari simbol dalam kitab mimpi WHA WHE yang mengasosiasikan angka tersebut dengan gajah—karena fosil pertama yang ditemukan adalah fosil gajah. Selain itu, angka 13 juga dimaknai sebagai “satu tiga”, dengan satu melambangkan Tuhan Yang Maha Esa dan tiga sebagai siklus kehidupan mulai dari lahir, hidup, dan mati.
“Museum ini tidak ditujukan untuk mencari keuntungan, tetapi murni sebagai sarana edukasi” Ungkap Alif saat ditemui pada Selasa (15/04). Koleksi di dalamnya beragam, mulai dari fosil hewan dan tumbuhan purba, hingga benda peninggalan Majapahit dan VOC. Keaslian benda-benda koleksi museum telah dikonfirmasi oleh para ahli dari berbagai institusi ternama, salah satunya dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Museum ini juga pernah menerima hibah berupa alat pencari fosil dari Institut Teknologi Bandung (ITB), sebagai bentuk apresiasi dan dukungan terhadap upaya pelestarian yang dilakukan Hary dan timnya.
Menurut keterangan dalam buku informasi Museum 13 telah menjalin kerja sama dengan berbagai institusi pendidikan dan penelitian, seperti Fakultas Teknologi Kebumian ITB Bandung, jurusan Antropologi FISIP UNAIR, jurusan Arkeologi Universitas Udayana, serta Balai Arkeologi Yogyakarta. Selain itu, berbagai stasiun TV seperti Metro TV, TVRI, dan JTV juga pernah meliput aktivitas museum ini.
Baca Juga: Meski Bukan Milik Desa, Desa Sengon Komitmen Lestarikan Kesenian Angklung
Saat ini, Museum 13 dikelola oleh para guru SDN 2 Panjunan dan dibina langsung oleh Hary Nugroho. Ia memiliki tim beranggotakan enam orang yang aktif melakukan eksplorasi fosil. Museum ini buka dari hari Senin hingga Sabtu, mulai pukul 07.00 hingga sekitar pukul 14.00, menyesuaikan dengan jam sekolah. Untuk kunjungan di hari Minggu atau keperluan penelitian, pengunjung dapat melakukan konfirmasi terlebih dahulu kepada pengurus museum.
Museum 13 tidak hanya menjadi pusat edukasi lokal, tetapi juga menarik perhatian pelajar, mahasiswa, guru sejarah, bahkan turis mancanegara dari Australia, Swiss, hingga Bolivia. Letaknya yang hanya sekitar 20 menit dari pusat Kota Bojonegoro membuat museum ini menjadi destinasi edukatif yang mudah diakses dan penuh nilai.
Dengan latar belakang pendirinya yang sederhana, Museum 13 membuktikan bahwa semangat dan ketekunan bisa menciptakan warisan ilmu yang berharga bagi generasi mendatang. (oss/mgg)
Editor : Hakam Alghivari