Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Kental Toleransi, 5 Tradisi Unik Lebaran di Berbagai Daerah Indonesia yang Menarik Diketahui

Hakam Alghivari • Minggu, 30 Maret 2025 | 03:30 WIB

 

Tradisi Perang Topat di Lombok. Bentuk toleransi antar-ummat beragama Islam dan Hindu.
Tradisi Perang Topat di Lombok. Bentuk toleransi antar-ummat beragama Islam dan Hindu.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Momen merayakan Hari Raya Idulfitri bagi kaum muslimin di Indonesia merupakan momen penuh kemenangan yang kental akan tradisi berjabat tangan, makan ketupat, saling menyapa keluarga jauh, kebersamaan, dan berziarah kubur.

Namun, di berbagai daerah, terdapat tradisi unik menyambut dan merayakan Idulfitri menjadi daya tarik tersendiri yang kental dengan nilai budaya, toleransi, dan kearifan lokal.

Berikut lima tradisi unik Lebaran di berbagai daerah Indonesia yang penuh makna.  

1. Grebeg Syawal — Yogyakarta

Warga berebut gunungan yang diarak Keraton Jogjakarta saat perayaan Grebeg Syawal.
Warga berebut gunungan yang diarak Keraton Jogjakarta saat perayaan Grebeg Syawal.

Grebeg Syawal adalah tradisi turun-temurun dari Keraton Yogyakarta yang diadakan setiap tanggal 1 Syawal atau Hari Raya Idulfitri. Dalam tradisi ini, keraton mengeluarkan gunungan, yaitu tumpukan hasil bumi seperti sayuran, buah-buahan, dan beras yang disusun berbentuk kerucut.

Gunungan ini diarak dari dalam keraton menuju Masjid Gede Kauman dengan diiringi pasukan keraton yang mengenakan pakaian tradisional.  

Setelah prosesi arak-arakan selesai, masyarakat yang berkumpul akan berebut gunungan karena diyakini membawa berkah dan rezeki. Tidak jarang orang membawa pulang bagian kecil dari gunungan sebagai simbol harapan baik sepanjang tahun.

Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari budaya keraton, tetapi juga wujud rasa syukur kepada Tuhan atas limpahan rezeki dan hasil panen. Selain itu, Grebeg Syawal menarik banyak wisatawan lokal dan mancanegara karena keunikannya yang penuh filosofi.  

2. Binarundak — Sulawesi Utara

Tradisi Binarundak Sulawesi Utara yang unik.
Tradisi Binarundak Sulawesi Utara yang unik.

Binarundak adalah tradisi khas masyarakat Minahasa di Sulawesi Utara yang biasanya dilakukan beberapa hari setelah Lebaran. Tradisi ini melibatkan proses memasak nasi jaha, yaitu campuran beras ketan dan santan yang dimasukkan ke dalam bambu lalu dibakar di atas bara api. Proses memasak dilakukan secara gotong royong oleh seluruh anggota masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang tua.  

Yang membuat Binarundak unik bukan hanya pada hidangannya, tetapi pada nilai kebersamaannya. Sambil menunggu nasi jaha matang, masyarakat bercengkerama, bertukar cerita, dan berbagi tawa. Momen ini menjadi pengikat persaudaraan dan solidaritas antarwarga setelah menjalani ibadah Ramadan.  

Setelah matang, nasi jaha dinikmati bersama-sama tanpa memandang status sosial. Tradisi ini menegaskan bahwa Lebaran bukan hanya tentang makanan enak, tetapi juga tentang mempererat hubungan sosial dalam suasana penuh kehangatan.  

3. Perang Topat — Lombok, Nusa Tenggara Barat

 

Tradisi Perang Topat di Lombok. Bentuk toleransi antar-ummat beragama Islam dan Hindu.
Tradisi Perang Topat di Lombok. Bentuk toleransi antar-ummat beragama Islam dan Hindu.

Perang Topat adalah tradisi unik yang berlangsung di Pura Lingsar, Lombok, dan melibatkan dua komunitas agama: Islam dan Hindu. Tradisi ini diadakan sekitar seminggu setelah Lebaran. Dalam acara ini, masyarakat dari kedua agama berkumpul dan saling melempar ketupat dalam suasana gembira dan persahabatan.  

Tradisi ini berakar pada legenda setempat yang menekankan kerukunan antarumat beragama. Ketupat yang dilempar bukan sebagai simbol permusuhan, tetapi sebagai lambang kemakmuran dan doa agar hasil panen berlimpah. Meski namanya "perang", tidak ada unsur kekerasan di dalamnya, melainkan kegembiraan dan tawa yang memenuhi suasana.  

Setelah acara selesai, ketupat yang jatuh di tanah dikumpulkan dan diberikan kepada hewan ternak sebagai simbol keberkahan. Perang Topat menjadi contoh nyata bagaimana masyarakat dengan keyakinan berbeda bisa hidup berdampingan dengan damai.  

4. Ngejot — Bali

Tradisi Ngejot ketika Lebaran di pulau Bali, tradisi merawat toleransi.
Tradisi Ngejot ketika Lebaran di pulau Bali, tradisi merawat toleransi.

Meskipun mayoritas penduduk Bali beragama Hindu, umat Muslim di Bali memiliki tradisi unik yang disebut Ngejot. Tradisi ini dilakukan pada hari Lebaran dengan membagikan makanan kepada tetangga, termasuk kepada yang beragama Hindu. Makanan yang dibagikan biasanya berupa ketupat, opor ayam, dan kue-kue khas Lebaran.  

Ngejot bukan sekadar berbagi makanan, tetapi juga berbagi kebahagiaan. Umat Muslim menganggap tradisi ini sebagai cara mempererat hubungan dengan tetangga, tanpa memandang perbedaan agama.

Masyarakat Hindu pun menerima dengan senang hati, bahkan sering membalas dengan memberikan makanan khas mereka pada perayaan Galungan dan Kuningan.  

Tradisi ini menunjukkan bahwa toleransi di Bali bukan hanya slogan, tetapi benar-benar diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Ngejot menjadi simbol keharmonisan dan solidaritas yang kuat di tengah perbedaan keyakinan.  

5. Bedulang — Belitung

Tradisi Bedulang di Belitung ketika Lebaran.
Tradisi Bedulang di Belitung ketika Lebaran.

Bedulang adalah tradisi makan bersama yang dilakukan oleh masyarakat Belitung saat Lebaran. Dalam tradisi ini, empat hingga lima orang duduk mengelilingi satu nampan besar berisi berbagai macam hidangan khas, seperti gangan (sup ikan kuning), sate ikan, dan sambal terasi. Uniknya, semua orang harus makan dengan tangan tanpa menggunakan sendok atau garpu. 

Tradisi ini tidak hanya menekankan kebersamaan, tetapi juga mengajarkan nilai kesetaraan. Semua orang duduk sejajar, tanpa memandang status sosial. Sebelum makan, biasanya ada doa bersama untuk mengungkapkan rasa syukur atas rezeki yang diterima selama setahun.  

Selain itu, Bedulang juga menjadi momen untuk mempererat silaturahmi antaranggota keluarga. Setelah satu nampan selesai, orang-orang bergantian duduk dengan anggota keluarga yang lain, sehingga semua bisa merasakan kebersamaan dalam suasana hangat dan penuh keakraban. (kam/cho) 

Editor : Hakam Alghivari
#Perang Topat #indonesia #Lebaran #Toleransi #grebeg syawal #tradisi unik #Tradisi #lombok