Di bangku kayu yang sengaja kuletakkan di teras toko, aku mendapati Adimas sedang duduk bersandar. Dari balik kaca transparan yang memisahkan teras dan bagian dalam, Anita berbisik kepadaku, “Itu dia pelanggan cerewetnya.”
Aku tersenyum. Yang dimaksud pelanggan cerewet adalah sahabat baikku sekaligus pelanggan setia The Blooming.
“Buatkan aku rangkaian bunga marigold, Maya.” Sekian lama jadi pelangganku, Adimas tidak pernah menyebutkan nama bunga yang akan dipesannya lebih dulu. Biasanya, Adimas akan langsung menyebutkan keperluannya dan tinggal duduk manis menunggu hasil rangkaianku. Dia tidak akrab dengan bunga-bungaan. Dia tidak tahu ada bunga yang berarti kesetiaan, cinta mendalam, bahkan penolakan. Selama ini aku curiga, dia membeli bunga hanya sebagai dukungan untuk sahabat yang tertatih membuka usaha baru.
“Kami tidak menyediakan marigold di sini, Di.”
Marigold, bunga warna oranye dengan bau menyengat dan kelopak-kelopak pahit. Aku tidak berniat menjualnya di tokoku dan Adimas adalah satu-satunya orang yang menyebutkan nama bunga itu selama aku membuka toko. Tidak ada yang tertarik menjadikan marigold sebagai hadiah untuk pasangan, sahabat, dan kolega.
“Hama-hama mulai masuk ke pekaranganku. Aku dengar marigold bisa mencegahnya.”
Aku membisu untuk coba memahami. Aku tak tahu kalau Adimas mulai suka berkebun. Sejak kapan? Apa sejak menikah dengan Laras? Perlahan banyak yang tidak kutahu tentangnya, dan itu seperti memberi jarak yang pantas untuk hubungan kami.
Adimas menulis di secarik kertas, lantas berlalu setelah berpesan bahwa rangkaian marigold itu harus dikirimkan ke alamat yang tertulis di sana. Dia tidak peduli kepadaku yang tak menjual marigold. Satu watak Adimas yang tak pernah berubah sejak kecil: dia harus mendapatkan apa yang dia inginkan. Watak itulah yang mengantarkan dia mendapatkan Laras—sang idola kampus—yang membuatnya jatuh cinta sejak pandangan pertama.
Suara mobil Adimas menderu. Bagian dari seremoni yang selalu kulakukan saat dia pergi adalah berdiri hingga mobil itu tak terlihat lagi.
Aku menatap carikan kertas kuning yang diberikannya. Di sana tertulis, penerima: Laras.
***
Adimas memang sering memesan bunga untuk dikirimkan kepada Laras. Dia seperti tidak pernah lupa hari-hari penting bagi istrinya. Kadang, Adimas akan mampir sepulangnya dari kantor untuk membeli bunga yang akan dia berikan saat makan malam romantis mereka atau untuk keberhasilan-keberhasilan kecil Laras. Adimas pernah memintaku mengirimkan seratus tangkai mawar merah muda hanya karena satu tulisan Laras berhasil tembus di media cetak ternama. Meski menjual bunga, aku pun tetap ingin diberikan hadiah seperti itu.
Laras yang juga sahabatku suatu hari pernah mengadu. “Maya, sebenarnya aku tidak suka bunga. Tapi karena itu dari tokomu dan diberikan Adimas, aku akan suka.”
Aku memang curang dalam hal ini, aku tidak memberi tahu Adimas tentang ketidaksukaan Laras. Biarlah itu jadi sisa kesempatanku bertemu dengan Adimas. Tanpa menjadi pelangganku, kami hanyalah sahabat masa kecil yang diikat oleh kenangan usang. Aku tidak siap kehilangan Adimas meski aku tak pernah memilikinya. Aku tamak, aku kemaruk.
Aku lupa anomali di hari pemesanan marigold itu. Mungkin karena aku terlalu sibuk melatih Anita membuat rangkaian bunga, juga menyimak hafalan-hafalannya tentang makna di balik berbagai jenis bunga kami jual di The Blooming. Anita tidak bersekolah. Dia datang dari kampung yang jauh. Aku mendapati dia di suatu malam saat bersembunyi dari para mucikari. Para manusia bejat itu memaksanya berdandan, memakai baju ketat, dan rok pendek sepaha.
Orang tua Anita mana tahu, anaknya ke kota bukan untuk dikirim ke Saudia Arabia atau Malaysia, tetapi untuk memuaskan nafsu para lelaki yang suka jajan di luar rumah. Aku putuskan untuk membawa Anita ke rumah, memberikan makan satu orang lagi tak akan mengganggu neraca keuanganku. Lagi pula selama ini, Adimas selalu berpesan kepadaku untuk mencari asisten, dia tahu aku mulai kewalahan. The Blooming memang sudah banyak menerima pesanan setiap hari.
Aku akan lupa anomali di hari pemesanan marigold itu, seandainya Adimas tidak kembali. Suatu malam hujan begitu deras. Anita sudah kuminta pulang ke rumah lebih dulu. Gorden jendela sudah menutup kaca transparan. Aku tertahan di toko menikmati alunan “Fly Me to The Moon” dari Frank Sinatra yang beradu dengan suara hujan.
Fly me to the moon
Let me play among the stars
Let me see what spring is like on
Jupiter and Mars
In other words, hold my hand
In other words, Baby, kiss me
Hujan mereda setelah lagu itu berputar puluhan kali. Aku sudah memesan taksi dan berniat menunggu di luar. Aku terlonjak kaget saat melihat Adimas sedang bersandar di bangku kayu di teras depan. Kemeja kerja kusut, dasi longgar dan miring, dan rambut acak-acakan, itu bukan Adimas yang biasanya perlente.
“Aku sudah membawa marigold, Maya. Tetapi, hama itu tetap merusak pekaranganku. Bagaimana jika Laras tak kembali.”
Marigold, hama, pekarangan, dan Laras. Lambat aku mencoba memahami semua itu. Rintik hujan yang berisik seperti berkompromi hingga tak terdengar jelas di telinga. Lengang. Anomali itu akhirnya terjawab malam ini.
“Apa kau sudah memberikan pupuk pada tanah pekaranganmu? Pupuk kandang bagus untuk menyuburkan tanaman.” Aku duduk di kursi yang berhadapan dengannya.
“Aku memberikan pupuk sebaik yang kubisa, kusiram dengan penuh cinta, tak kubiarkan panasnya matahari dan dinginnya malam membuatnya menderita, namun hama-hama datang menyerang. Usahaku sia-sia, Maya.”
Hujan berhenti sepenuhnya. Sekarang yang terdengar hanyalah embusan napas beratku. Aku tidak pernah melihat Adimas seberantakan itu. Kebisuan kami menyatu dengan keheningan malam.
“Bantu aku, Maya. Aku tak ingin kehilangan Laras. Kau selalu mendengarkan kami selama ini.” Ya, aku memang selalu mendengarkan cerita kebahagian Adimas tentang istrinya. Juga cerita Laras betapa baik suaminya. Lalu kenapa? Kenapa bisa seperti ini?
Aku seperti mendengar suara hasutan setan terus berbunyi. “Ini kesempatan, Maya! Buat Adimas kembali ke sisimu. Laras sudah merebutnya darimu tiga tahun lalu.” Di kepalaku bahkan sudah ada reka adegan: tepuk bahunya dulu atau remas tangannya.
Aku menggeleng pelan, mencoba mengusir pikiran jahat itu.
“Tidak ada usaha yang sia-sia, Di, tapi berusahalah lebih keras. Lakukan sesuatu yang lebih baik dari hanya menanam marigold. Pekarangan itu milikmu. Kau yang berhak menyemai apa pun di sana. Kau yang memenangkan hatinya mengalahkan puluhan laki-laki di kampus dulu, dan kamu akan tetap memenangkannya. Belum terlambat untuk memperbaiki semuanya.”
Dia terdiam lama sebelum pamit. Seremoni yang biasa kulakukan kuulangi, berdiri hingga mobilnya menghilang. Besok, aku akan memberi tahu Adimas bahwa Laras tak suka bunga. Biarlah dia berhenti menjadi pelangganku, biarlah kami menjauh. Toh, sekarang ada Anita, jadi aku tak akan terlalu kesepian. (*)
Sumbawa Barat, September 2021
Za’idatul Uyun Akrami, Lulusan Fakultas Pendidikan Universitas Mataram.
Selain menulis cerpen, ia juga menulis resensi buku, komik, dan copywriter.
Cerpen ditulisnya dapat dibaca di beberapa antologi bersama seperti Lemonious Love,
Mengheningkan Cinta, Mula, dan Hujan.
Editor : M. Yusuf Purwanto