Ketika mendekat, tercium bau tak sedap ketika berada di jarak 2 meter dari kandang. Fian mengakui jika baunya bisa jauh lebih menyengat. Nah, untuk meminimalisasinya diberikan ramuan fermentasi, untuk mengurangi bau tidak sedap dari tikus-tikus ini.
Fian mengatakan, perawatan tikus ini cukup mudah. Makanannya hanya berupa nasi aking dicampur dengan pellet ayam, fermentasi molase, gula, dan EM 4. ‘’Komponen itu dicampur menjadi satu, lalu diberikan ke tikus,’’ ucapnya sambil menujukan kandang-kandang tikusnya.
Pemberian makanan hanya satu kali sehari pada sore hari. Hasil pengamatannya, tikus ini cenderung lebih aktif pada malam hari. Sehingga, saat pagi hari waktunya dihabiskan tidur. ‘’Pernah saya coba memberi makan pagi, lebih banyak sisa makananya,’’ ujar Fian.
Namun, Fian memiliki cara tersendiri untuk produktivitas dalam mengembangbiakkan tikus impor ini. Yakni untuk meningkatkan kesuburan jantan dan betina, makanannya ditambah dengan kangkung dan toge. ‘’Tahu cara itu berawal dari sharing dengan teman komunitas,’’ imbuh bapak satu anak ini.
Sedangkan, untuk air minum menggunakan air biasa. Caranya ditempatkan pada botol yang diberikan celah, yang kemudian ditaruh pada kandang. Setelah itu, alas kandang biasa mamakai dua opsi. Bisa dengan serbuk kayu atau sekam. ‘’Biasanya diganti seminggu sekali,’’ kata Fian.
Selanjutnya, Fian mengajari proses beternak tikus impor ini. Pertama yakni menyiapkan tiga betina dan satu jantan. Untuk tikus jenis ASF bisa digabung. Sedangkan, mencit untuk jantannya harus dipisah, karena rawan kanibalisme. Biasanya proses menyusui selama satu bulan. Selama proses menyusui, indukan diberikan nutrisi berupa pur ayam.
‘’Biasanya tikus ini lebih aktif beranak pada musim hujan,’’ ucapnya sambil menunjukkan anakan tikus. (sip/ind) Editor : M. Yusuf Purwanto