Di dalam rumah, pemandangan juga masih sama. Rumah dipenuhi dengan perabotan, dekorasi, meja dan kursi. Sama seperti rumah pada umumnya. Satu-satunya hal yang menonjolkan aspek usaha rumahan milik Dina adalah kulkas besar tempat Dina menyimpan puding di pojok ruang tamu. Serta boks berisi agar-agar yang telah dibuka di dekat pintu rumah.
Ketika masuk ke dalam rumah, Dina sedang menyiapkan puding besar. Dina memersilahkan wartawan masuk sambil melanjutkan proses pembuatan puding. Kemudian Dina melanjutkan menuangkan sebuah adonan bening ke atas puding yang hampir jadi. Setelah puding selesai dibuat, akhirnya Dina dapat mengobrol dengan wartawan koran ini. Dengan antusias, Dina menceritakan awal mula usahanya berdiri.
‘’Saya telah berjualan puding sejak Tahun 2015. Anak-anak saya suka makan puding, dan sering kali mereka membagikan puding buatan saya ke teman-temannya,” kenang Dina. ‘’Lambat laun, teman-teman anak saya meminta untuk dibuatkan puding oleh saya. Orang tua teman-teman anak saya sampai sungkan kepada saya, karena saya memberi anak-anak mereka puding secara cuma-cuma,” lanjut Dina sambil tertawa.
Tidak hanya dari kawan-kawan anak-anaknya, kemampuan Dina membuat puding juga pertama dikenali oleh kerabatnya. ‘’Saya juga sering memberikan puding kepada kerabat-kerabat yang sedang sakit. Ternyata, banyak yang suka, dan puding buatan saya diceritakan secara mulut ke mulut,” ujar Dina.
Melihat kesempatan bisnis yang terbuka di depan mata, Dina memutuskan menekuni bisnis puding secara serius. Itu dilakukan karena pesanan yang datang padanya semakin banyak. Sehingga, dia membutuhkan peningkatan kemampuan dengan mengikuti kursus Tahun 2017.
‘’Kursusnya hanya sehari dan produk yang dibuat saat kursus bisa dibawa pulang,” terang Dina.
Kebanyakan puding di pasaran tanpa hiasan. Namun, puding buatan Dina mampu mengkombinasikan dengan seni merangkai dengan hiasan buah-buahan, serta puding diolah menjadi berbagai bentuk. Dalam menjalankan usahanya, Dina bekerja seorang diri. Dia mengaku hanya ingin menjaga konsistensi takaran dan kualitas puding.
‘’Saya tidak keberatan, karena saya membuat puding sepenuh hati,” ungkap Dina.
Dina mengaku, usahanya terkena imbas kenaikan harga buah di pasar. ‘’Terutama anggur, kenaikannya cukup signifikan. Namun, untuk jualan saya, saya tetap memasang harga normal,” katanya dengan yakin.
Dina juga tidak segan-segan berbagi metodenya untuk membuat puding. Bahan baku pembuatan puding yakni agar-agar, susu, gula, dan buah-buahan. Sebagai bahan dasar, Dina menggunakan susu tawar. Jika pembeli ingin rasa lain, maka ditambahkan perasa pada susu. Kecuali untuk coklat, biasanya menggunakan agar-agar coklat dan menambahkan coklat batangan untuk memperkuat rasa. Adonan agar-agar, susu, dan gula, serta perasa dicampur dan diaduk dalam proses pembuatan fondasi dasar puding.
‘’Kemudian puding didinginkan satu hingga satu setengah jam, agar adonan mengeras. Untuk puding berukuran besar, saya dinginkan selama dua hingga tiga jam,” terang Dina.
Setelah puding mengeras, Dina mulai menata hiasan puding. Hiasan dapat berupa buah-buahan, atau potongan puding tambahan. “Untuk buah-buahan, saya menggunakan anggur merah, kelengkeng, buah kiwi, stroberi, serta nanas kalengan,” lanjut Dina.
Setelah hiasan selesai ditata, adonan perekat ditambahkan ke atas lapisan puding dan hiasan agar hiasan tidak tumpah atau lepas. ‘’Adonan terbuat dari agar-agar, gula, dan air. Setelah dituang, adonan perekat didinginkan sekitar setengah jam,” ujar Dina. (edo/ind)