RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kue lumpur bakar menjadi salah satu jajanan tradisional Indonesia yang kembali diminati masyarakat. Memiliki tekstur lembut dengan cita rasa manis dan gurih, kudapan khas Sidoarjo, Jawa Timur, ini menawarkan sensasi berbeda dibandingkan kue lumpur biasa karena dimasak dengan cara dipanggang hingga menghasilkan aroma yang khas.
Selain mudah ditemukan di berbagai sentra kuliner, kue lumpur bakar juga dapat dibuat sendiri di rumah dengan bahan-bahan yang sederhana. Proses pembuatannya tidak memerlukan teknik yang rumit sehingga cocok untuk pemula maupun pelaku usaha kuliner rumahan.
Bahan-bahan
- 150 gram tepung terigu
- 50 gram tepung beras
- 150 gram gula pasir
- 4 butir telur
- 1 liter santan
- 1/4 sendok teh garam
- 1/2 sendok teh vanili bubuk
- 1 ikat daun pandan
- Pasta pandan secukupnya (opsional)
- Topping sesuai selera, seperti kelapa muda, durian, atau keju.
Baca Juga: 5 Resep Olahan Telur yang Praktis, Lezat, dan Cocok untuk Menu Sehari-hari
Cara Membuat
- Rebus santan bersama daun pandan dan garam hingga mendidih, lalu dinginkan.
- Campurkan tepung terigu, tepung beras, gula pasir, dan vanili hingga rata.
- Masukkan telur yang telah dikocok, kemudian tuangkan santan sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga adonan halus.
- Saring adonan agar hasil kue lebih lembut.
- Panaskan cetakan atau teflon yang telah diolesi margarin.
- Tuang adonan ke dalam cetakan, tambahkan topping sesuai selera, lalu tutup dan panggang dengan api kecil hingga bagian bawah berwarna kecokelatan.
- Balik kue dan panggang kembali hingga kedua sisi matang sempurna.
Kue lumpur bakar paling nikmat disajikan dalam keadaan hangat bersama teh atau kopi. Teksturnya yang lembut dipadukan aroma santan dan pandan menjadikan camilan ini cocok dinikmati bersama keluarga maupun sebagai sajian pada berbagai acara.
Dengan semakin meningkatnya minat masyarakat terhadap kuliner tradisional, kue lumpur bakar dinilai memiliki peluang bisnis yang menjanjikan. Berbagai inovasi topping dan rasa juga terus dikembangkan tanpa menghilangkan cita rasa khas yang telah dikenal sejak lama. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko