RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Ternyata penyakit Hantavirus telah cukup lama berada di Indonesia, jauh sebelum kasus terbaru terdeteksi dalam penumpang kapal MV Hondius yang diketahui sejak Kamis lalu (7/5). Hanya saja, penyakit ini masih tergolong langka di Indonesia dan tidak menyebar dengan mudah.
Menurut data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, sejak 2024 hingga April lau terdapat total 23 kasus positif hantavirus di seluruh Indonesia. Rinciannya masing-masing enam kasus di DI Yogyakarta dan DKI Jakarta, lima kasus di Jawa Barat, dan masing-masing satu kasus terpisah di Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Kalimantan Barat, Banten, dan Sumatera Barat.
Dari jumlah tersebut, tiga penderita dinyatakan meninggal dunia akibat penyakit tersebut, dan 20 sisanya dapat sembuh dari hantavirus. Sebaliknya, 221 warga sempat menjalani pemeriksaan dugaan infeksi hantavirus, namun pada akhirnya dinyatakan negatif alias tidak menderita penyakit tersebut.
Terbaru, masing-masing seorang warga di Yogyakarta dan Jakarta juga sempat menjalani pemeriksaan tersebut. Hasilnya pun sama, yakni negatif hantavirus.
“Yang dua terakhir itu sudah negatif hanta semua," ujar Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI, Aji Muhawarman kepada Jawa Pos pada Jumat (8/5).
Baca Juga: Waspadai Persebaran Hantavirus, Kemenkes Jalin Kerjasama Skrining dengan WHO
Aji juga mewanti-wanti bahwa meskipun ada kasus kesembuhan penderita hantavirus sebagaimana dijelaskan, saat ini belum ada obat maupun vaksin yang dapat secara langsung menyembuhkan penyakit yang pertama ditemukan di Korea Selatan tersebut.
“Pengobatan dan vaksin belum ada. Penanganan dengan obat-obatan untuk menangani gejala dan sifatnya suportif,” tambah Aji.
Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut sedang berkoordinasi dengan Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengenai skrining dan pencegahan dini Hantavirus. Menurut Budi, metode dan peralatan yang dapat digunakan tidak jauh dari yang digunakan saat pandemi Covid-19 lalu, namun reagen yang diperlukan bakal berbeda.
"Yang kita lakukan, kita mempersiapkan agar screeningnya kita punya. Apakah itu dalam bentuk rapid test kayak kita Covid dulu maupun reagen-reagen yang digunakan di mesin PCR. Kita beruntung sekarang kan mesin PCR kita sudah banyak. Jadi untuk deteksi virus ini harusnya bisa lebih mudah. Cuman dipastikan reagennya masih khusus," jelas Budi pada Kamis (7/5).
Menurut catatan dan rilis Kemenkes dan WHO, hantavirus dapat menyebabkan dua jenis penyakit yang berbeda, tergantung dari mana kontak dengan virus terjadi. Yakni Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dan Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS, atau hanya HPS).
HFRS umumnya berasal dari galur virus yang bersemayam di wilayah Asia dan Eropa, dan menyebabkan demam berdarah disertai gangguan ginjal. Meskipun demikian, HFRS hanya memiliki kemungkinan kematian sebesar 5 hingga 15 persen.
HCPS lebih banyak tersebar di wilayah Amerika utara hingga selatan, dan menyerang paru-paru serta sistem pernafasan. Namun berbeda dengan HFRS, HCPS memiliki tingkat kemungkinan kematian sebesar 40 hingga 50 persen. WHO berhipotesis varian hantavirus yang menyerang penumpang MV Hondius adalah HCPS.
Hantavirus sendiri merupakan virus yang bersifat zoonosis, atau menular lewat aktivitas hewan. Umumnya, hantavirus berasal dari kotoran hewan pengerat seperti tikus, celurut dan mencit.
Gejala utama hantavirus untuk kedua varian relatif sama, yakni demam menggigil, nyeri otot, dan kelelahan selama lebih dari seminggu, dengan masa inkubasi hingga delapan minggu. Namun gejala lanjutan antara HFRS dan HCPS berbeda, yakni:
- HFRS: Mual atau muntah, diare, sakit perut, gangguan penglihatan, peradangan atau kulit kemerahan
- HCPS: Sesak nafas dan paru-paru basah
Baca Juga: Hantavirus Sudah Menyebar di 9 Provinsi Indonesia, Ini Bedanya dengan COVID-19
Jika tidak segera ditangani, HFRS dapat menyebabkan kerusakan ginjal, tekanan darah rendah dan pecahnya pembuluh darah. Sementara HCPS dapat menghentikan fungsi otot, bahkan hingga henti jantung akibat lemasnya otot jantung.
Sebagaimana telah disebut, hantavirus disebabkan oleh aktivitasdi lingkungan yang kotor, terutama jika banyak dihinggapi tikus atau berkaitan dengan pembasmian hama dan serangga. Sehingga hantavirus dapat dicegah dengan cara seperti berikut:
- Memakai masker, sepatu, pakaian lengan panjang dan sarung tangan saat bersih-bersih rumah
- Memakai disinfektan saat bersih-bersih rumah, terutama di baigan yang sering dihampiri tikus dan serangga
- Mencuci tangan secara rutin selama 20-30 detik
- Membuang sampah dari rumah dan pekarangan secara rutin
- Melindungi makanan dan minuman dari kemungkinan dimakan tikus, misal dengan menyiapkan tudung saji dan perangkap tikus
- Menutup lubang-lubang di rumah yang dapat dijadikan celah masuk tikus dan celurut, misal dengan kawat
(edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana