RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Banyak orang tua fokus pada asupan gizi anak agar tumbuh tinggi, namun ternyata ada faktor lain yang tak kalah penting: tidur nyenyak. Prof. dr. Mei Neni Sitaresmi, Sp.A(K), Ph.D., dokter spesialis anak sekaligus pakar tumbuh kembang dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FKKMK UGM), menegaskan bahwa kualitas tidur punya kaitan erat dengan pertumbuhan tinggi badan anak.
Dalam podcast yang tayang di kanal YouTube FKKMK UGM Official, Prof. Mei Neni mengungkapkan bahwa tidur nyenyak adalah kunci keluarnya hormon pertumbuhan.
"Hormon pertumbuhan akan keluar pada saat anak tidurnya nyenyak," ujarnya.
Fase Tidur Nyenyak dan Hormon Pertumbuhan
Menurut Prof. Mei Neni, fase tidur yang paling berperan dalam pelepasan hormon pertumbuhan adalah non-rapid eye movement (NREM). Pada tahap ini, tubuh anak berada dalam kondisi rileks dan sistem biologis bekerja secara teratur.
"Nah pada fase itu (tidur nyenyak), anak napasnya teratur, jadi kena suara gitu ya dia tetap tidurnya teratur, napasnya tenang, dan pada saat itu biasanya keluar keringat juga. Nah, pada waktu tidur nyenyak itulah kemudian keluar salah satunya adalah growth hormone," jelasnya.
Dia menambahkan, gangguan tidur pada anak, bisa berdampak lebih luas. Anak yang tidurnya tidak nyenyak cenderung mengalami gangguan perilaku, nafsu makan, hingga pertumbuhan yang terhambat.
"Sehingga kalau anak tidurnya bermasalah, perilakunya bermasalah, makan juga mungkin bermasalah, nanti juga pendek anaknya. Maksudnya mungkin tidak mencapai potensi genetiknya," tambah Prof. Mei Neni.
Rumus Potensi Genetik Tinggi Badan
Selain faktor tidur, tinggi badan juga dipengaruhi oleh faktor keturunan. Prof. Mei Neni menyebut ada cara sederhana menghitung potensi tinggi badan anak berdasarkan tinggi orang tua.
"Secara umum begini, tinggi badan ibu ditambah tinggi badan bapak, kalau (anak) laki-laki ditambah 13, kalau perempuan dikurangi 13. Kemudian jumlah itu dibagi dua," jelasnya.
Rumus tersebut membantu orang tua memahami batas potensi genetik anak. Namun, faktor lingkungan seperti nutrisi, aktivitas fisik, dan pola tidur tetap berperan besar dalam pencapaian tinggi badan ideal.
Bukti Riset: Tidur dan Pertumbuhan
Penelitian internasional mendukung pernyataan ini. Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism menyebutkan bahwa produksi hormon pertumbuhan (GH) mencapai puncaknya pada fase tidur nyenyak. GH berperan penting tidak hanya untuk pertumbuhan tinggi, tetapi juga untuk metabolisme, pemulihan jaringan, dan kesehatan tubuh secara keseluruhan.
WHO juga menekankan bahwa anak usia sekolah sebaiknya mendapatkan tidur 9–11 jam per malam, sementara remaja idealnya tidur 8–10 jam. Jika kualitas dan durasi tidur tidak terpenuhi, risiko stunting maupun masalah kesehatan jangka panjang akan meningkat.
Peran Orang Tua dalam Menjaga Kualitas Tidur Anak
Prof. Mei Neni menegaskan pentingnya peran orang tua dalam membentuk rutinitas tidur sehat. Membatasi penggunaan gawai menjelang tidur, menciptakan suasana kamar yang tenang, serta menjaga konsistensi jam tidur bisa membantu anak masuk fase tidur nyenyak lebih cepat.
Tak hanya itu, olahraga teratur dan asupan gizi seimbang seperti protein, vitamin D, serta kalsium juga akan memperkuat proses pertumbuhan. Kombinasi pola tidur sehat dan nutrisi tepat membuat anak lebih berpeluang mencapai tinggi badan optimal sesuai genetiknya.
Sayangnya, banyak orang tua lebih menitikberatkan pada pemberian susu tinggi kalsium atau vitamin tambahan, tanpa menyadari bahwa tidur juga merupakan "nutrisi tak kasat mata" bagi pertumbuhan anak. Kesadaran ini penting untuk dibangun, terutama di Indonesia yang masih menghadapi tantangan masalah stunting. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari