BLORA, Radar Bojonegoro - Depresi dan gangguan kejiwaan masyarakat rerata terjadi di rentang usia 20 hingga 40 tahun. Jika tidak ditangani serius, maka akibat paling fatal yang terjadi bisa sampai mengakhiri hidup.
Seperti kasus yang terjadi di Desa Palon, Kecamatan Jepon, Pemuda berinisial HCK, 20, mengakhiri hidupnya dengan gantung diri pada Senin (2/9). Dinas Kesehatan (Dinkes) Blora berharap orang tua bisa menjadi menjadi teman curhat.
Menanggapi hal itu, Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Blora Prih Hartanto menyampaikan, duka mendalam atas kejadian tersebut. Kejadian tersebut perlu menjadi atensi. Menurutnya, peran orang tua begitu penting dalam mendampingi anak.
Agar tidak lagi terjadi kasus serupa. Sebab, masa remaja penuh dengan dinamika permasalahan seperti gangguan kejiwaan ringan dan depresi. ’’Orang tua harus bisa jadi teman curhat dalam masa-masa remaja yang penuh dengan dinamika permasalahan yang dihadapi sehari-hari,” ujarnya.
Pihaknya juga menyampaikan gejala depresi dan gangguan kejiwaan jika berlarut, maka akibat paling fatal dapat menyebabkan seseorang mengakhiri hidup. ’’Kecenderungan bisa (sampai mengakhiri hidup) bila iman tidak kuat,” ujarnya.
Berdasar data yang didapat pada awal tahun lalu, sudah terdeteksi 1.151 orang dengan rentang usia 20-40 tahun alami gangguan jiwa ringan. ’’Untuk yang gangguan berat perlu adanya rujukan ke psikiater,” ujarnya.
Kapolsek Jepon, AKP Putoro Rambe mengungkapkan, HCK gantung diri di rumahnya pada Senin (2/9), ditemukan sekitar pukul 08.15 WIB. Hasil olah TKP ditemukan selembar surat, diduga kuat ditulis oleh korban.
Sehingga, pihak kepolisian menduga korban mengakhiri hidup lantaran kecewa dengan orang tuanya. “Usai mendapat laporan itu kami melakukan olah TKP dan menemukan selembar surat,” ungkapnya kemarin (3/9). (luk/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana