BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Sebanyak 188,6 ribu jiwa terdata mengidap hipertensi atau tekanan darah tinggi sejak Januari hingga Agustus. Meski tidak menular penyakit tersebut tetap berbahaya dan dapat menyebabkan komplikasi. Masyarakat diimbau jaga pola dan perilaku hidup sehat.
’’Meski tidak menular tetap berbahaya. Sama halnya seperti penyakit menular,” ujar Kepala Bidang Pencehagan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Fajar Respati.
Berdasar data dinkes, jumlah jiwa mengidap hipertensi sebanyak 188. 615 jiwa. Kasus bersifat fluktuatif atau naik turun setiap bulannya.
Rinciannya, Januari sejumlah 12.555 jiwa, Februari sebanyak 20.333 jiwa, Maret sebanyak 20.273 jiwa, dan April sebanyak 23.065 jiwa.
Kemudian, pada Mei terdata 24.585 jiwa mengidap hipertensi. Dilanjutkan, Juni sebanyak 25.278 jiwa, Juli 24.862 jiwa, dan Agustus sebantyak 28.108 jiwa. ‘’September sudah terdata sebagian. Sebanyak 9.556 jiwa,” tambahnya.
Fajar menjelaskan, hipertensi dipengaruhi faktor eksternal dan internal atau dapat diubah dan tidak dapat. Faktor tidak dapat diubah salah satunya usia.
Sedangkan, faktor diubah di antaranya pengurangan konsumsi garam dan makanan mengandung kolesterol. ‘’Kami mengimbau untuk masyarakat yang masih memiliki kondisi normal atau sehat untuk tetap menjaga kesehatan agar tidak terkena faktor risiko,” tuturnya.
Dia melanjutkan, jika terkena faktor risiko masyarakat diimbau tetap memepertahankan kondisi tubuh atau menjadi lebih sehat agar tidak sampai menderita hipertensi.
Karena, jika mengidap dan tidak teratur melakukan pengobatan dan perawasan akan berpotensi mengalami komplikasi.
‘’Hipertensi ini akan berdampak besar. Bisa menyebabkan struk, penyakit jantung, hingga gagal ginjal,” terangnya. (yna/msu)
Editor : Hakam Alghivari