RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Perbincangan diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat boleh saja berakhir buntu pada Minggu (12/4), namun nampaknya masih ada kesempatan kedua bagi kedua belah pihak untuk segera berhenti berperang. Ada beberapa faktor internal dan eksternal yang berpotensi mempertemukan kembali para perwakilan kedua negara tersebut.
Yang agak mengejutkan, Presiden AS Donald Trump mengklaim perang secara strategis antara kedua negara hampir selesai di matanya. Trump pede AS berada dalam posisi lebih menguntungkan ketika perang resmi berakhir.
“Saya rasa tinggal sedikit lagi selesai, sudah cukup dekat dengan akhir perang. Kalau kami mundur dari medan perang sekarang, Iran bakal butuh waktu hingga 20 tahun untuk memulihkan diri, dan kami belum selesai. Dan untuk saat ini, saya rasa mereka sangat ingin segera mencapai kesepakatan,” ujar Trump pada Selasa (14/4) sebagaimana dikutip dari Fox News dan Anadolu Ajansi.
Sehingga Trump kembali membuka kesempatan untuk melaksanakan bincang perdamaian dengan Iran, dengan target awal pembicaraan dimulai paling cepat pada Kamis. Selain itu Trump merasa gencatan senjata yang saat ini berlaku tidak perlu diperpanjang apapun hasil diplomasi yang terjadi.
“Menurut saya dua hari kedepan bakal berjalan luar biasa. Nanti hasil akhirnya bisa ke arah mana saja, namun secara pribadi saya ingin ada kesepakatan damai agar Iran dapat memulihkan diri. Toh pada akhirnya mereka sudah berganti rezim, dan kekuatan radikal sudah musnah,” tambah Trump.
Menanggapi hasil perundingan awal yang diwakilkan oleh Wakil Presiden AS, J.D. Vance, Trump juga menyayangkan gagalnya perundingan tersebut. Pun demikian, Trump tetap ngotot agar Iran tidak memiliki kekuatan nuklir.
“Dari berbagai sudut pandang, berbagai kesepakatan yang diajukan lebih baik ketimbang melanjutkan peperangan. Tapi semuanya bakal tidak berarti jika ada kekuatan nuklir yang dipegang pihak yang tidak stabil,” jelasnya.
Sementara itu, sebagai pihak penengah dalam diplomasi antara Iran dan AS, Pakistan bakal bersiap keliling timur tengah mulai Rabu (15/4) hingga Sabtu (18/4), dengan tujuan utama menuju Arab Saudi, Qatar dan Turki. Tujuannya untuk menguatkan dukungan diplomasi, sewaktu-waktu bincang perdamaian digelar kembali.
“Saya telah menerima informasi dari Perdana Menteri (PM Pakistan, Shehbaz Sharif) mengenai rencana beliau untuk diskusi bersama para anggota satuan mediasi dan mengusahakan perbincangan lanjutan. Saya harap semua pihak dapat menjaga jalinan hubungan dengan AS dan Iran untuk membuka langkah kembali menuju perdamaian,” ujar Presiden Pakistan, Asif Ali Zardari pada Rabu sebagaimana dikutip dari Al-Jazeera.
Diketahui, langkah tersebut juga menyusul kemungkinan jika ibukota Pakistan, Islamabad kembali ditunjuk sebagai lokasi perundingan. Jika tidak, diplomasi perdamaian dapat dipindah ke Jenewa, Swiss.
Sekretaris Jenderal Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres merestui inisiatif tersebut. Guterres menekankan bahwa perbincangan harus dilaksanakan untuk menegaskan gencatan senjata yang berlaku.
“Tentu rasanya kurang realistis untuk berharap problematika kompleks dan jangka panjang seperti peperangan dapat diselesaikan dalam sekali pembicaraan. Sehingga harus ada pembicaraan lebih lanjut, serta gencatan senjata selama pembicaraan dilaksanakan,” jelas Guterres. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana