RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Usai mencapai kesepakatan gencatan senjata pada Rabu (8/4), Iran dan Amerika Serikat (AS) bakal menjalani diplomasi perdamaian yang bakal ditengahi oleh Pakistan di ibukota mereka, Islamabad mulai Kamis (9/4). Namun perbincangan diplomasi nampaknya bakal mulai dengan alot.
Pasalnya, baru sehari gencatan senjata ditetapkan, Iran sudah menuduh AS melanggar kesepakatan tersebut. Setidaknya ada tiga persyaratan gencatan senjata yang dianggap sudah dilanggar oleh AS.
Menurut Jubir Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf, AS menolak perizinan kegiatan pengayaan nuklir untuk Iran, dan ketahuan menerbangkan drone di koridor udara wilayah Iran. Sementara itu pelanggaran ketiga berasal dari Israel, yang melakukan serangan rudal ke Lebanon pada Kamis pagi WIB.
“Sudah ada tiga dari sepuluh pokok proposal gencatan senjata yang dilanggar oleh AS, yang bahkan menurut mereka merupakan dasar yang cocok untuk melakukan perbincangan damai. Dengan tiga pokok tersebut dilanggar secara terbuka, negosiasi maupun gencatan senjata tidak dapat diterapkan dengan hakiki,” jelas Qalibaf dalam media sosial pribadinya, sebagaimana dikutip dari Fars News.
Baca Juga: Israel Kembali Lancarkan Serangan ke Lebanon, Selat Hormuz Ditutup Lagi
Senada dengan Qalibaf, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi turut mengecam tindakan tersebut dan memberi peringatan kepada AS. Selain itu, Araghchi menegaskan bahwa Lebanon termasuk sebagai partisipan dalam kesepakatan gencatan senjata.
“Gencatan senjata dan pokok persetujuan yang dikandungnya sudah cukup jelas. AS sekarang tinggal memilih, mau gencatan sungguhan atau lanjut berperang melalui Israel, tidak bisa dua-duanya. Keputusan berada di tangan pemerintahan AS, dan dunia bakal melihat apakah mereka mau bertindak sesuai komitmen mereka,” ujar Araghchi melalui media sosial.
Sebelumnya, Israel melancarkan serangan rudal ke berbagai wilayah Lebanon, termasuk wilayah selatan Lebanon serta ibukota Lebanon, Beirut. Total 254 penduduk meninggal dunia, dan hingga 1.165 penduduk mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.
Sebagai balasan, Iran melalui garda revolusi mereka (IRGC) memutuskan menutup kembali Selat Hormuz setelah sebelumnya dibuka pada Rabu sebagai bagian dari persetujuan gencatan senjata. Saat ini, berbagai kapal yang terlanjur mengantri di perlintasan selat tersebut diarahkan menuju jalur alternatif maritim oleh militer setempat. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana