Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

7 Alasan Mengerikan Mengapa Angka Kriminalitas di Sekitar Kita Makin Gila-gilaan

Bhagas Dani Purwoko • Minggu, 24 Mei 2026 | 15:13 WIB
KRIMINALITAS: Angka kriminalitas naik berbanding lurus dengan kondisi kesejahteraan masyarakat.
KRIMINALITAS: Angka kriminalitas naik berbanding lurus dengan kondisi kesejahteraan masyarakat.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Fenomena melonjaknya angka kriminalitas di tengah masyarakat belakangan ini telah menjadi kekhawatiran yang sangat mendesak dan menakutkan.

Mulai dari aksi pencurian konvensional, rentetan penipuan digital, hingga tindak kekerasan jalanan seolah tidak pernah absen menghiasi linimasa berita harian kita.

Faktanya, dalam kacamata sosiologi, kriminalitas bukanlah sebuah peristiwa tunggal yang berdiri sendiri, melainkan sebuah gejala sosial akut yang meledak akibat akumulasi berbagai tekanan struktural, himpitan ekonomi, serta degradasi psikologis pada masyarakat modern.

Untuk menekan laju kejahatan ini, publik tidak bisa lagi pasrah dan hanya mengandalkan aparat; diperlukan pemahaman objektif mengenai akar masalah serta langkah preventif yang dibangun secara kolektif dari lingkup terkecil.

Meningkatnya kejahatan adalah cerminan dari rapuhnya fondasi sosial kita. Berikut adalah 7 alasan mendasar yang memicu suburnya tindak kriminal saat ini:

1. Ketimpangan Ekonomi yang Semakin Menganga

Ketika jurang pemisah antara kelompok si kaya dan si miskin berjalan semakin dalam, rasa ketidakadilan sosial sering kali memicu tindakan nekat.

Baca Juga: Minim PJU, Ruas Jalan Provinsi Blora Wilayah Randublatung–Jati Rawan Laka dan Kriminalitas

Kebutuhan dasar hidup yang semakin sulit dipenuhi, ditambah dengan minimnya akses terhadap peluang kerja yang layak, menjadi pemicu utama mengapa seseorang akhirnya terpaksa, atau memilih, jalur kriminalitas demi bisa bertahan hidup.

2. Pudarnya Budaya 'Paguyuban' (Melemahnya Social Control)

Dalam kehidupan masyarakat modern, hubungan antar-tetangga kini cenderung bergeser menjadi individualis dan egosentris.

Hilangnya rasa kepedulian dan semangat saling menjaga (paguyuban) di lingkungan tempat tinggal membuat para pelaku kejahatan jauh lebih mudah beraksi.

Ketika masyarakat acuh tak acuh dengan apa yang terjadi di sekitarnya, pelaku kriminal otomatis merasa berada di zona aman.

3. Racun Gaya Hidup Instan akibat Media Sosial

Gempuran pamer kemewahan (flexing) di media sosial menciptakan tekanan psikologis yang hebat bagi banyak orang untuk terlihat "sukses" atau "mampu" secara visual.

Budaya konsumerisme ini memicu keinginan kuat untuk mencapai standar gaya hidup mewah yang sebenarnya tidak sebanding dengan pendapatan riil.

Akibatnya, banyak tindak kejahatan, terutama kasus penipuan, penggelapan, dan pencurian, dilakukan murni sebagai jalan pintas demi memenuhi gengsi sosial yang tidak realistis.

4. Pengangguran dan Kesenjangan Keterampilan Gen Z

Tingginya angka pengangguran, khususnya di kalangan usia produktif, menciptakan limpahan "waktu luang" yang tidak produktif dan sangat berisiko.

Baca Juga: Kasus Kriminalitas di Blora Melonjak 22,6 Persen pada 2025, Didominasi Curanmor

Tanpa adanya kepastian ekonomi dan pekerjaan yang memberikan penghasilan tetap, individu di usia muda menjadi jauh lebih rentan untuk terjebak atau tergiur masuk ke dalam lingkaran hitam kriminalitas sebagai alternatif menyambung hidup.

5. Sisi Gelap Teknologi dan Anonimitas Siber

Kemajuan teknologi digital ibarat pisau bermata dua; selain memudahkan kehidupan, ia juga membuka ladang baru bagi pelaku kejahatan (seperti maraknya judi online, penipuan phishing, hingga cyberbullying).

Faktor anonimitas di internet, di mana pelaku bisa menyembunyikan identitas aslinya dengan mudah, membuat penjahat siber merasa lebih berani, jemawa, dan sulit terdeteksi karena mereka tidak perlu bertatap muka langsung dengan korbannya.

6. Krisis Moral dan Runtuhnya Pendidikan Karakter

Pergeseran nilai-nilai luhur dalam institusi keluarga serta tidak maksimalnya pendidikan karakter di lingkungan formal berdampak pada hilangnya kontrol diri (self-control) pada individu.

Baca Juga: Tangkal Kriminalisasi, FH Unigoro dan JATAM Gelar Pelatihan Advokasi Hukum Lingkungan

Tanpa adanya fondasi moral dan agama yang kuat, seseorang akan sangat mudah terpengaruh oleh perilaku menyimpang serta kehilangan rasa empati terhadap dampak buruk perbuatannya bagi orang lain.

7. Lemahnya Efek Jera dan Penegakan Hukum

Angka kriminalitas dipastikan akan terus merangkak naik jika di masyarakat terbentuk persepsi bahwa pelaku kejahatan bisa dengan mudah lolos dari jerat hukum, atau jika hukuman yang dijatuhkan dianggap tidak memberikan efek jera yang nyata.

Kepastian hukum adalah kunci utama; jika proses hukum dirasa tidak adil atau hukumannya terlalu ringan, maka potensi pengulangan tindak pidana oleh para residivis akan tetap tinggi.

Solusi Nyata: Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Menghadapi teror kriminalitas yang kian cerdas dan beragam tidak bisa dilakukan dengan berdiam diri.

Masyarakat harus mulai bergerak aktif memperkuat kembali sistem keamanan lingkungan melalui aktivasi Siskamling modern berbasis teknologi, meningkatkan literasi digital keluarga agar tidak mudah menjadi korban penipuan online, serta bergotong-royong menciptakan ruang-ruang kegiatan produktif yang padat karya bagi para pemuda di lingkungan sekitar kita.

Baca Juga: Opini: Kriminalisasi Guru Melumpuhkan Tujuan Pendidikan

Merawat keamanan adalah tanggung jawab bersama yang dimulai dari pekarangan rumah sendiri. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#Siskamling #Hukum #kriminalitas #penipuan #Pencurian