Berawal menekuni pencak silat sejak duduk di bangku kelas 6 SD, Sebastian Santoso sudah meraih berbagai prestasi hingga kini. Total 11 medali dan dua piala diraih selama sekitar empat tahun menekuni pencak silat.
M. IRVAN RAMADHON, Bojonegoro
KEBANGGAAN terus bertambah ketika Sebastian Santoso berhasil prestasi demi prestasi di cabang olahraga (cabor) pencak silat. Total terdapat 11 medali dan dua piala telah dikoleksi Sebastian hingga kini.
Tentu menjadi bukti perjuangan, kedisiplinan, dan kerja kerasnya sejak menekuni pencak silat ketika berusia 12 tahun. Terbaru pesilat 16 tahun itu meraih Juara 1 Tanding Kelas B pada Kejuaraan Pencak Silat Ngawi Championship IV 2026.
Prestasi yang diraih membuat Sebastian semakin termotivasi dan semangat berlatih. Tentu demi meraih prestasi lainnya. Termasuk mencapai target bertanding dan meraih prestasi di pekan olahraga pelajar nasional (Popnas).
‘’Target saya Popnas,” ungkap atlet asal Desa Jono, Kecamatan Temayang tersebut.
Sebastian sendiri sudah sekitar empat tahun menekuni olahraga pencak silat. Ketertarikan pada pencak silat muncul dengan sendirinya. Ditambah dukungan orang tua membuat peraih medali pada Kejuaraan Wilayah VIII Pencak Silat Pagar Nusa Jawa Timur 2024 itu semakin menyukai olahraga bela diri tersebut.
‘’Minat saya sendiri dan kebetulan didukung orang tua,” ujar peraih prestasi pada Popkab Bojonegoro 2025 lalu itu.
Perasaan senang ketika menjadi pemenang dan meraih medali menjadi pemupuk semangat Sebastian dalam menjalani setiap latihan dan pertandingan. Terlebih latihan dan pertandingan dijalani tak mudah.
Sebastian masih ingat betul ketika pertama bertanding. Tepatnya ketika baru kelas 1 SMP. Rasa gugup, takut, dan tak percaya diri menyelumuti ketika perdana tampil.
Selain itu, selama menekuni pencak silat Sebastian sering mengalami cedera. Baik ketika berlatih maupun bertanding. Mulai dari cedera angkel hingga lutut. Namun hal tersebut tak membuat siswa kelas 10 tersebut kapok. Sebaliknya semakin bersemangat untuk kembali bangkit dan membuktikan kemampuannya.
‘’Banyak sekali (cedera) seperti angkel,” jelas siswa SMKN 3 Bojonegoro itu.
Tantangan lain yang dihadapi Sebastian adalah melawan rasa malas dalam berlatih. Juga beratnya latihan ketika harus menurunkan berat badan sesuai kelas bertanding.
‘’Dukanya ketika menurunkan berat badan karena melebihi kelas,” terangnya. (irv/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana