MUHAMMAD SUAEB, Bojonegoro
SECARA bergantian, tamu undangan mengisi absensi sebelum mengikuti jalannya diskusi dan diseminasi buku berjudul "Bersama Mengelola, Bersama Sejahtera" di Creative Room Gedung Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Senin (18/5) .
Diseminasi buku karya aktivis Idfos Ahmad Muhajirin dan Rizal Zubad Firdausi itu mengundang berbagai sektor pemangku kepentingan kunci, meliputi perguruan tinggi, organisai perangkat daerah (OPD) di lingkup Pemkab Bojonegoro, kelompok olah sampah, organisasi mahasiswa, hingga Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Bojonegoro Muhammad Suaeb.
‘’Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kondisi kritis lingkungan di Kabupaten Bojonegoro, total timbulan sampah mencapai 450 ton setiap hari. Lonjakan tersebut dinilai tidak lagi mampu ditangani menggunakan pola konvensional linear (kumpul, angkut, buang),’’ tutur salah satu penulis buku Ahmad Muhajirin.
Baca Juga: Bom Waktu di Balik TPA 2026: Mengapa Sampah Bisa Memicu 'Perang' Antarwarga?
Muhajirin menceritakan, buku ini ditulis untuk memotret realitas dinamika tata kelola limbah secara jujur, baik dari sisi pasang surut maupun baik-buruknya proses pendampingan di lapangan.
Buku ini dirancang sebagai instrumen catatan pengalaman yang menegaskan bahwa urusan sampah wajib diselesaikan lewat kolaborasi multisektor.
Muhajirin optimistis dengan kolaborasi, mampu mengubah cara pandang terhadap sampah dari sesuatu yang kumuh menjadi hal positif, masalah ini akan teratasi.
Rizal Zubad Firdausi menambahkan, buku karyanya itu membedah metodologi pergerakan tim di lapangan. Proses penanganan diawali dengan melakukan pemetaan wilayah agar masyarakat memiliki tingkat kesadaran (awareness) yang tinggi terhadap tingkat kerusakan lingkungannya, kemudian dilanjutkan dengan fase pemicuan langsung.
Rizal mengisahkan bahwa babak kedua perjalanan Kelompok Mpok Damira menjadi momen paling memorable karena harus bertahan di tengah keterbatasan dana dan ketidakpastian operasional sebelum masa pandemi Covid-19.
Baca Juga: Pemilahan Sampah Jadi Sorotan, Run For Rivers Dorong Komitmen Pemkab Jaga Kebersihan Sungai
"Kelompok ini sempat mengalami dinamika berat saat produksi pupuk kompos mereka belum mampu menopang kebutuhan operasional mandiri. Pasca-pandemi, inovasi dialihkan melalui sistem iuran warga sebagai penopang operasional serta mendirikan bank sampah di area perumahan. Mpok Damira hadir sebagai local hero yang mampu bertahan selama 11 tahun melewati berbagai rintangan," urai Rizal.
Rizal Zubad menegaskan kembali kewajiban kolaborasi multipihak karena isu ini tidak bisa diselesaikan sendirian dan membutuhkan dorongan anggaran yang menyentuh masyarakat bawah. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko