Kecintaan pada Bahasa Inggris membawa Naura Auni Shalihah Mahardika sukses meraih rentetan prestasi gemilang. Tidak hanya di tingkat lokal, tapi juga bersinar di tingkat nasional.
DEWI SAFITRI, Bojonegoro
Rentetan lembar soal telah menjadi sahabat akrab bagi Naura Auni Shalihah Mahardika. Gadis kecil tinggal di Polim Regency, Bojonegoro itu tumbuh bersama mimpi-mimpi besar yang dirajut sejak usia dini. Dengan semangat hebat berbalut tekad kuat. Rentetan prestasi membanggakan di bidang Bahasa Inggris berhasil ditorehkan. Mulai dari olimpiade di tingkat lokal hingga nasional.
Ketertarikan siswa kelas 5 SD Muhammadiyah 2 Bojonegoro tersebut pada bahasa asing tumbuh sejak usia belia. Bahkan sebelum lancar membaca, ia telah akrab dengan percakapan sederhana berbahasa Inggris yang dibiasakan kedua orang tuanya di rumah. Dongeng-dongeng anak, film kartun, hingga buku bacaan berbahasa Inggris menjadi teman masa kecilnya.
Pandemi Covid-19 menjadi titik awal bakat itu berkembang semakin terang. Saat anak-anak lain jenuh belajar dari rumah, Naura kecil menemukan dunia baru lewat kelas bahasa Inggris yang diikutinya.
Sejak duduk di bangku kelas 2 SD, Naura mulai menapaki panggung olimpiade tingkat nasional. Dari sana, medali demi medali perlahan menghampirinya. Namun, perjalanan itu tidak selalu dihiasi kemenangan. Ia pernah gagal meraih medali nasional hanya karena terlambat mengumpulkan lembar jawaban. Nilainya sebenarnya setara dengan peserta peraih medali perunggu. Tapi waktu menjadi pembeda.
“Ketika itu belum paham bahwa kecepatan waktu mengerjakan menjadi salah satu poin penilaian,” kisah anak 10 tahun 9 bulan tersebut.
Dari kegagalan kecil itulah Naura belajar bahwa setiap detik sangat berarti. Bahwa perjuangan bukan hanya tentang benar atau salah, melainkan juga tentang ketepatan dan kecepatan.
Ketekunan berbuah manis. Berbagai prestasi berhasil ia torehkan. Mulai medali perunggu, perak, hingga emas, perak dalam ajang Jenius Science Olympiad (JSO) di tingkat provinsi maupun nasional. Juga, dalam kompetisi Matematika Sains dan Bahasa Inggris (KMSI), hingga OMNAS. 2025 menjadi salah satu momen paling membahagiakan ketika Naura berhasil melangkah ke tingkat nasional OMNAS-15 yang akan digelar Juni 2026 mendatang.
Menariknya, keluarga Naura punya cara unik menikmati kompetisi. Bagi mereka, kompetisi adalah refreshing. Setiap lomba menjadi perjalanan hangat keluarga. Pergi keluar kota, menginap di hotel, mencicipi kuliner khas daerah, mengunjungi tempat-tempat di daerah tersebut, lalu kembali pulang membawa pengalaman baru.
Meski demikian, perjuangan Naura tidak ringan. Ia harus mengurangi waktu bermain, melewatkan kegiatan sekolah, bahkan pernah menempuh perjalanan dini hari hanya ditemani sang bunda demi mengikuti kompetisi.
Namun, semua lelah itu seolah terbayar ketika namanya dipanggil sebagai juara. Gadis kecil itu kini menyimpan mimpi lebih besar. Ia ingin menembus olimpiade internasional dan suatu hari menjadi diplomat, menjelajahi berbagai negara di belahan dunia dengan kemampuan bahasa yang dicintai sejak kecil.
“Support terbesar dari orang tua. Juga, dukungan dari keluarga, teman dan oeang terdekat, guru, sekolah, serta guru les,” ujarnya. (*/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana