Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Spesial Hari Kartini - Sally Atyasasmi, Perempuan Penggerak Kebijakan: Apresiasi dan Ajak Perempuan Hidup dalam Keberanian

Yana Dwi Kurniya Wati • Selasa, 21 April 2026 | 09:30 WIB
Sally Atyasasmi (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)
Sally Atyasasmi (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Sally Atyasasmi, perempuan tanggung yang menjadi bukti nyata perjuangan perempuan dan Kartini Masa Kini. Semangatnya tak pernah padam menginspirasi para puan.

Di Hari Kartini yang merupakan simbol perjuangan perempuan ini, Sally memberi teladan untuk tetap semangat.

"Bagi saya, Kartini adalah simbol perjuangan perempuan yang saat ini bisa kita lihat melalui wajah-wajah perempuan di setiap sudut-sudut pasar. Berdiri sejak subuh, menjaga dagangannya agar tetap bertahan di tengah naik turunnya harga," tutur Ketua Komisi B DPRD Bojonegoro ini.

Bagi Sally, Kartini dan perempuan penuh perjuangan. Keringatnya patut menjadi kobaran semangat, seperti perempuan yang bergelut di sawah untuk menanam, merawat, hingga memanen tanaman pertanian. Meski sering kali namanya tidak tercatat sebagai pemilik.lahan.

Juga, di pabrik dan sektor informal, perempuan bekerja dalam diam. Memiliki beban ekonomi tanpa banyak suara. "Mereka adalab wajah nyata perjuangan Kartini hari ini," tuturnya.

Di Bojonegoro, Sally menyampaikan, perempuan telah membuktikan bahwa mereka mampu menjadi penggerak ekonomi keluarga. UMKM bertahan karena ketekunan perempuan. Bahkan, ketahanan pangan juga tak lepas dari peran perempuan di sektor pertanian.

"Bahkan dalam situasi sulit, perempuan selalu menjadi pihak yang pertama mencari jalan keluar. Walaupun harus berhadapan dengan keterbatasan akses dan minimnya keberpihakan," ujarnya.

Bagi Sally, di sinilah pentingnya kehadiran perempuan di ruang politik, bukan sekadar memenuhi persentase angka keterwakilan. Namun lebih dari itu, perempuan harus menjadi penggerak kebijakan yang berani, yang berpihak, dan yang memahami realitas di akar rumput serta yang benar-benar mengerti apa yang harus diperjuangkan.

''Di Bojonegoro, langkah ke arah itu sebenarnya sudah mulai dibangun. Pemerintah daerah telah mendorong ruang partisipasi melalui musrenbang perempuan, memastikan suara perempuan masuk dalam perencanaan pembangunan, bukan sekadar menjadi pelengkap," ujar dia.

Menurutnya, komitmen ini juga diperkuat melalui hadirnya Perda Pengarusutamaan Gender, yang menjadi dasar hukum agar setiap kebijakan tidak lagi buta terhadap kebutuhan perempuan serta Perda Perlindungan perempuan dan Anak.

Juga, di sektor ekonomi, berbagai program mulai menjembatani keterbatasan perempuan. Mulai dari pelatihan UMKM, pameran produk perempuan, hingga dukungan permodalan seperti program pemberdayaan usaha mikro bagi ibu-ibu prasejahtera. 

"Bahkan, arah kebijakan ke depan juga mulai menempatkan perempuan sebagai pusat pemberdayaan melalui rencana penguatan pusat pemberdayaan perempuan, pelatihan kewirausahaan, dan pendampingan usaha agar perempuan benar-benar mandiri secara ekonomi. Namun saya harus jujur mengatakan, ini belum cukup," tandas dia.

Politikus perempuan dari Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) ini menuturkan, karena di lapangan, perempuan masih berhadapan dengan realitas yang keras.

Akses modal terbatas, minimnya perlindungan kerja, hingga beban ganda yang tidak pernah dibagi secara adil. ''Program ada, tetapi sering kali belum menjangkau semua. Kebijakan ada, tetapi belum selalu terasa. Di sinilah letak tantangan kita hari ini," sindir dia.

Sehingga, tutur Sally, Semangat Kartini tidak boleh berhenti pada seremoni. Ia harus hidup dalam keberanian perempuan untuk bersuara, dalam kebijakan yang adil, dan dalam keberpihakan yang nyata.

''Karena perempuan yang berdaya tidak hanya mengubah hidupnya sendiri, mereka mengubah arah pembangunan, dan menentukan masa depan daerahnya," tutur Ketua Fraksi Gerindra DPRD Bojonegoro ini. (yna/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Perempuan #kartini #dprd bojonegoro #kebijakan #perjuangan