Rohmat merintis bisnisnya sejak 2010, awalnya hanya melayani perjalanan domestik. Kemudian dikembangkan wisata mancanegara.
Hakam Alghivari, Bojonegoro
TAK pernah benar-benar merencanakan terjun ke dunia travel. Rohmat, warga Desa Sukorejo, Kecamatan Bojonegoro Kota ini berhasil membangun usaha travel ke mancanegara.
Latar belakangnya bukan dari industri pariwisata. Namun dari kegemarannya bepergian, justru menemukan peluang usaha yang kini terus berkembang.
“Background saya tidak ada di travel. Tapi memang hobi saya itu jalan-jalan,” tuturnya.
Usaha yang Rohmat rintis sejak 2010, Safara Tour and Travel, awalnya hanya melayani perjalanan domestik. Saat itu, pasar masih didominasi tujuan dalam negeri. Namun sekitar lima tahun berjalan, mulai melihat peluang baru.
Minat masyarakat Bojonegoro untuk bepergian ke luar negeri sebenarnya cukup besar. Namun, selama ini cenderung menggunakan jasa travel dari kota besar.
“Saya lihat potensi itu ada. Orang Bojonegoro sebenarnya banyak yang ingin ke luar negeri,” katanya.
Dari situ, pemilik Safara Tour mulai membuka layanan perjalanan mancanegara dengan mengandalkan pelanggan lama. Respons pasar ternyata cukup bagus, perlahan tumbuh sejak 2016.
Pria 46 tahun itu mengaku, perkembangan usaha lebih banyak ditopang kepercayaan pelanggan dibanding promosi besar. Rekomendasi dari mulut ke mulut justru menjadi strategi yang paling efektif.
“Tanpa disuruh pun customer akan cerita ke teman dan keluarganya,” ujarnya.
Seiring waktu, jangkauan pelanggan meluas. Tak hanya dari Bojonegoro, tetapi juga dari daerah sekitar hingga luar pulau. Media sosial tetap digunakan, namun hubungan personal dengan pelanggan dinilai lebih berpengaruh.
Di sisi lain, lulusan sarjana ekonomi itu melihat perubahan cara pandang masyarakat terhadap wisata. Wisata bukan lagi sekadar kebutuhan tambahan, tetapi mulai menjadi bagian dari gaya hidup.
“Sekarang orang kerja makin stres. Travel itu bukan lagi sekadar jalan-jalan, tapi kebutuhan,” tuturnya.
Saat ini, Safara Tour melayani berbagai skema perjalanan, mulai dari rombongan hingga open trip, dengan tujuan Asia hingga Eropa. Meski menghadapi tantangan seperti harga tiket dan kondisi global, peluang pasar dinilai masih terbuka.
“Selama tidak ada pandemi atau konflik besar, minat itu selalu ada,” pungkasnya. (kam/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana