Keterbatasan Dini Assalam tidak menghalangi semangatnya untuk mengelola Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri (Gayatri). Dengen tekun, Dini berhasil mengelola Gayatri hingga bertelur 50 butir sehari. Tentu menjadi contoh sukses keluarga penerima manfaat (KPM) penerima Gayatri.
IRVAN RAMADHON, Bojonegoro
TANGAN cekatan Dini Assalam terus bergerak menuangkan pakan ke kandang ayam petelur di rumahnya. Tak sampai di situ, dengan tekun Dini mengambil satu-persatu telur yang berada di kandang.
Dini merupakan salah satu KPM penerima Program Gayatri di Desa Sarangan, Kecamatan Kanor. Pertama menerima program tersebut pada 27 Juni 2025. Sebanyak 54 ekor ayam petelur diterima beserta kandang dan pakan.
Pemuda 25 tahun tersebut semangat dan antusias menerima program gayatri. Ketekunan dan ketelatenan dalam merawat ayam petelur menjadi bekal keberhasilan. Belum genap setahun, ayam dari program gayatri kini sudah bertelur sekitar 50 butir dalam sehari.
Dini mendapatkan tambahan pendapatan dari telur yang disalurkan ke badan usaha milik desa (bumdes). Juga dibeli tetangga ketika membutuhkan. Sehingga bisa mengangkat perekonomiannya.
Pemuda lulusan sekolah luar biasa (SLB) tersebut mendapatkan pendampingan dari pemerintah desa (pemdes). Mulai dari cara memberikan pakan, vitamin, minum, hingga pengobatan serta pencegahan penyakit.
Fahmi Pendamping Program Gayatri Desa Sarangan, Kecamatan Kanor mengatakan, keberhasilan Dini menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan menjadi penghalang ketika memiliki kemauan untuk belajar.
Bahkan kini semakin banyak warga yang tertarik menerima Program Gayatri setelah melihat kesuksesan Dini.
‘’Dulu waktu awal banyak masyarakat tidak mau dikasih bantuan sekarang banyak yang meminta,” ungkapnya.
Fahmi menambahkan ke depan Program Gayatri bisa dikembangkan lebih banyak. Terutama yang menerima bantuan. Terlebih KPM yang menerima program berbarengan Dini Assalam, terus didorong menambung sebagai modal untuk mengganti ayam yang tak produktif lagi.
‘’Kami sarankan untuk satu minggu harus bisa menabung minimal untuk beli satu ekor ayam untuk mengganti ayam bila sudah tidak produktif lagi,” jelasnya. (irv/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana