Ketersediaan pupuk kerap dielu-elukan para petani. Harga melangit buat menjerit. Hal ini juga terjadi 20 tahun silam. Dilansir Jawa Pos Radar Bojonegoro edisi 16 Desember 2005 harga pupuk urea tembus Rp 73 ribu per sak. Distributor dinilai nakal.
Komisi B DPRD Bojonegoro menuding distributor pupuk mempermainkan penjualan pupuk yang bisa merugikan petani. Salah satu temuan komisi itu menyebutkan bahwa distributor menjual pupuk ke agen maupun langsung ke petani di ke kecamatan-kecamatan dengan harga di atas harga eceran tertinggi (HET) dan tanpa menggunakan kuitansi.
Hal itu disampaikan oleh anggota Komisi B DPRD Bojonegoro Karniyati seusai sidak ke sejumlah kecamatan. Sasaran sidak itu antara lain Kecamatan Baureno, Sumberrejo, Balen, Kapas, Kedungadem, Kepohbaru, dan Sugihwaras.
Menurut dia, salah satu bentuk permainan distributor, jumlah pupuk yang dijual ke kios jauh lebih banyak dibanding kan yang dijual langsung ke petani. Misalnya, kata dia, jika distributor mempunyai 20 ribu ton pupuk, yang 15 ribu ton dijual ke kios dan hanya 5 ribu ton yang dijual ke patani lang sung. "Padahal, sebagian besar kios tersebut juga milik distributor," katanya.
Di Bojonegoro, kata dia, terdapat dua distributor pupuk, yaitu Damagten dan Indonesia Subur. Temuan lain komisi B, lanjut Karniyati, ada distributor menjual pupuk urea ke agen Rp 66 ribu per sak, namun agen tersebut disuruh menandatangani kuitansi Rp 56 ribu per sak. Menurut ketentuan pemerintah, HET pupuk urea Rp 55 ribu per sak. "Agen tidak bisa berbuat apa-apa karena juga membutuhkan untuk dijual ke petani," katanya.
Selain itu, lanjut anggota Fraksi Partai Golkar itu, distributor juga menjual langsung pupuk ke petani dengan harga selangit dan tanpa kuitansi pembelian. "Biasanya yang langsung ke patani dijual Rp 70 ribu per sak untuk urea," tambahnya.
Akibat permainan distributor tersebut, lanjut dia, harga pupuk di tingkat petani melambung tinggi. Pupuk produksi PT Petro-kimia seperti SP 36 yang HET-nya Rp 72 ribu, misalnya, dijual hingga Rp 92 ribu per sak. Sedangkan urea dari Rp 55 ribu di-jual Rp 75 ribu per sak.
"Harga tersebut sudah sangat merugikan petani karena petani juga harus menambah biaya lain seperti sewa traktor yang kini dua kali lipat di-bandingkan musim tanam sebelumnya," kata Karniyati.
Agar tidak terjadi monopoli pendistribusian pupuk, komisi B menghendaki adanya penambahan distributor.
Sementara itu, Ketua Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) Sukorejo, Kecamatan Kota, Sucipto mengatakan, petani saat ini sudah sangat terpuruk akibat pupuk langka dan harganya melangit.
"Saya baru beli pupuk urea hari ini (kemarin, Red) harganya Rp 92 ribu per sak. Itupun hanya dapat dua sak. Padahal, saya membutuhkan 7 kuintal (per sak 50 kg)," katanya.
Dia juga menilai bahwa mahalnya harga pupuk saat ini karena permainan distributor. "Kalau perlu distributor pupuk diperingatkan," tambah Sucipto.
Wakil Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan Bojonegoro Syarif Usman menambahkan, pihaknya mengaku prihatin atas kelangkaan dan tingginya harga pupuk di tingkat petani saat ini.
"Saya melihat yang menjadi pokok permasalahannya adalah SK Menperindag Nomor 356/2004 mengenai pembatasan pemasaran pupuk berdasar wilayah kabupaten," katanya.
Direktur Damagten Imam Sardjono menduga kenaikan harga dilakukan agen tidak resmi. "Kemungkinan kenaikan harga pupuk karena agen pupuk tidak resmi yang menjual di atas HET," kata Sardjono saat dihubungi melalui sambungan telepon.
Dia mengatakan, Damagten mempunyai 72 kios resmi. Jatah pupuk kios-kios itu dikirim langsung oleh Damagten. Menurut dia, pihaknya akan kesulitan menaikkan harga pupuk.
Sebab, ada pembagian jatah pendistribusian. "Tahun ini 80 persen (pupuk) untuk petani dan 20 persen untuk kios," katanya.
Dia berjanji akan menindak agen resmi CV Damagten yang menaikkan harga pupuk di tingkat petani. Dia juga membantah bahwa pihaknya menjual harga pupuk ke petani langsung tanpa menggunakan kuitansi. "Semua penjualan pasti menggunakan kuitansi," katanya.
Menurut dia, saat situasi dan kondisi seperti sekarang ini banyak pihak-pihak tertentu yang ingin menjadi distributor pupuk. "Kami serba salah pada saat seperti ini. Kami mejadi kambing hitam dari semua masalah yang dihadapi oleh petani," katanya.
Terkait kelangkaan pupuk di Bojonegoro, menurut dia, disebabkan adanya pengurangan jatah. Dia mengatakan, jatah pupuk untuk Bojonegoro pada 2004 sebanyak 48 ribu ton, sedangkan tahun ini hanya dijatah 36 ribu ton.
"Tapi kekurangan tersebut telah dipenuhi oleh Petrokimia dengan menambah jatah Bojonegoro menjadi 39 ribu ton," katanya. (yna/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana