Mengandalkan air dari masjid hingga air isi ulang. Menjadi rutinitas baru warga di sekitar Jalan Panglima Polim yang terdampak pembangunan drainase dan trotoar.
DHANI WAHYU ALFIANSYAH, Bojonegoro
PROYEK drainase dan trotoar di kawasan Jalan Panglima Polim membawa perubahan pada aktivitas warga. Bukan hanya mobilitas yang terganggu, tapi juga akses air bersih, kebutuhan paling dasar yang menjadi langka.
Fahruddin, salah satu warga Jalan Panglima Polim Bojonegoro, hanya bisa menghela napas setiap kali membuka keran. "Ngungsi (ambil air) di Islamic Center terus," keluhnya.
Sudah berhari-hari hilir mudik untuk sekadar mendapatkan air. Kondisinya pun belum ada tanda membaik. "Masih tidak nyala," tuturnya Rabu (19/11).
Sementara itu, Islamic Center menjadi harapan bagi warga sekitar. Hajir, petugas masjid, membenarkan arus kedatangan warga yang semakin ramai. "Memang di sini (masjid) tidak terdampak, karena dari sumur," katanya. Sumber air mandiri inilah yang membuat masjid tetap bisa memenuhi kebutuhan jamaah, termasuk warga yang terdampak.
"Warga ambil air, sejak PDAM macet ya banyak yang mandi juga," ujarnya. Namun, kondisi itu juga memunculkan persoalan teknis di sekitar lokasi.
Hajir menambahkan, pipa PDAM yang kerap terganggu imbas pekerjaan pembangunan. Keluhan warga pun semakin sering terdengar. "Ya warga yang airnya macet pada ngeluh," ungkapnya.
Sementara itu, Lasmianto, modin Kelurahan Sumbang, mengakui bahwa berbagai upaya dilakukan untuk mengurangi dampak. "Ada yang dibantu kendaraan tangki, ada yang beli isi ulang, ada yang nyalur sumur tetangga," tuturnya.
Meski begitu, tak menampik sumber masalah yang kerap muncul di lapangan. "Mungkin dampak bego masang udit, banyak pipa bocor," katanya.
Di tengah gemuruh alat berat dan parit-parit yang menganga, warga hanya berharap akses air segera kembali normal. Sebab bagi mereka, proyek perbaikan lingkungan semestinya tidak mengubah hidup sehari-hari. (dan/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana