Suasana berkabung masih menyelimuti posko pengungsian Desa Gandu Kecamatan Bogorejo, usai terbakarnya sumur yang menewaskan tiga orang itu, warga pengungsi masih menyulam kegelisahannya. Sumber minyak yang seharusnya jadi harapan baru berubah jadi pilu.
M. LUKMAN HAKIM, Blora
’’MENGKO nek gak onok bener e tanahku (tanah yang dibor) aku ora melu tanggung jawab lo yho (kalau tidak nanti tidak ada benarnya di tanahku, saya tidak ikut tanggung jawab),” ungkap Yati, (bukan nama sebenarnya) saat menumpahkan ceritanya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro di tenda pengungsian.
Ia sempat meradang saat tanah di barat rumah bagian belakang rencana bakal dibor untuk sumur minyak.
Karena berdekatan dengan dapur (pawon) miliknya. Khawatir akan terjadi hal yang tidak diinginkan.
Ia mengaku sempat gelisah dengan adanya pengeboran baru yang berdekatan dengan rumahnya.
’’Ndilalah meledak tenan (ternyata meledak beneran),” katanya. Untung, keluarganya tidak menjadi korban.
Namun, dirinya mengaku turut berkabung dengan meninggalnya tiga warga dan yang mengalami luka bakar serius.
’’Kalau kami yang mengungsi di sini alhamdulillah selamat,” katanya. Pengeboran sumur minyak ilegal tersebut selain merenggut tiga nyawa dan korban luka, juga menimbulkan konflik sosial antartetangga.
Karena iming-iming akan adanya pemasukan dari sumber daya alam tersebut. Di lain sisi, hanya segelintir pemodal yang menikmati.
Dari mulai berkobarnya api di sumur minyak tersebut pada Minggu (17/8) sekitar 300 KK mengungsi di posko hingga sanak keluarga.
Mereka harus menanti kejelasan kembali ke rumah hingga api dari mulut sumur bisa dipadamkan.
Puji, warga RT 01 Dukuh Gendono Desa Gandu mengungkapkan, sumur yang terbakar merupakan pengeboran baru dengan kedalaman 130 meter.
Selain itu, ada beberapa titik lagi sumur yang juga dibor di dekat pemukiman warga. ’’Kalau yang ini belum keluar (minyak) baru 90 meter, sampai muncul minyak sekitar 130 meter,” ujarnya.
Ia mengaku, tidak tahu menahu pendapatan pasti para warga yang bekerja. Namun, saat pengeboran terdapat janji ada dana sekitar Rp 150 ribu hingga Rp 300 ribu untuk setiap kartu keluarga (KK).
’’Seratus lima puluh ribu sampai tiga ratus ribu itu kesepakatan dari pengurus (kelompok penambang),” ungkapnya.
Ia mengatakan, dari informasi yang diketahui investor yang menggarap sumur dari Jatirogo berinisial H.
Sudah menjalankan pengeboran sekitar dua tahun lalu. Selain itu, ada beberapa investor lain. Namun dirinya tidak mengetahui secara pasti.
“Ada investor lain,” ujarnya singkat. Ia mengaku, saat terjadi kebakaran sedang meladang di sawah.
Keluarganya saat ini sudah ikut mengungsi di rumah sanak saudara. Dari informasi yang dihimpun, ada beberapa titik sumur minyak.
Setiap sumur menghasilkan hingga 12.000 liter minyak mentah per hari. Dijual seharga Rp 950 ribu per drum dengan kapasitas 1.000 liter. Setiap harinya terdapat mobil pickup yang mengangkut.
Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Gandu Iwan Sucipto mengungkapkan, bahwa sumur minyak yang dikelola warga mulai marak sejak dua tahun terakhir.
Ada sekitar 60 sumur minyak rakyat. ’’Sepuluh di antaranya berada tepat di tengah permukiman penduduk dan sudah menghasilkan setiap hari,” katanya.
Menurutnya, awal mula penemuan minyak terjadi ketika warga berusaha mengebor sumur air karena kesulitan air bersih, terutama saat musim kemarau.
Namun, dalam proses pengeboran justru menemukan minyak. ’’Kabar itu cepat menyebar, bahkan terdengar oleh orang luar desa. Mereka kemudian berdatangan, sebagian ikut membiayai pengeboran. Dari situlah sumur-sumur minyak ini terus bermunculan,” jelasnya.
Setelah adanya temuan minyak, warga berbondong-bondong mengebor lahan di sekitar rumah mereka.
Bagi yang tak memiliki modal, mereka menggandeng investor untuk membiayai pengeboran. Dalam waktu relatif singkat, desa gandu telah memiliki puluhan sumur minyak.
Kepala desa mengaku sudah berkali-kali mengingatkan warganya mengenai bahaya pengeboran minyak di kawasan padat penduduk.
Namun, imbauan itu sering diabaikan karena hasil minyak dianggap memberi harapan baru bagi perekonomian warga yang sebagian besar berprofesi sebagai petani.
’’Saya sudah berulang kali mengingatkan soal bahaya keberadaan sumur minyak di area permukiman. Tapi, warga tetap nekat, karena minyak ini dianggap sebagai peluang untuk memperbaiki ekonomi mereka,” tutur Iwan.
Diketahui, saat ini pihak kepolisian pada Rabu (20/8) sudah memanggil 12 saksi untuk dimintai keterangan.
Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jateng juga telah diterjunkan untuk menyisir lokasi kebakaran sumur. (*/bgs)
Editor : Bhagas Dani Purwoko