Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Yuni Yusrotin, Anak Tukang Becak Dinobatkan Wisudawan Terbaik UIN Walisongo Semarang: Sempat Dilarang Kuliah karena Faktor Ekonomi

Yuan Edo Ramadhana • Kamis, 29 Mei 2025 | 21:05 WIB
SEMANGAT: Yuni Yusrotin foto bersama orang tua saat wisuda di UIN Walisongo Semarang. (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)
SEMANGAT: Yuni Yusrotin foto bersama orang tua saat wisuda di UIN Walisongo Semarang. (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)

 

Menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi, tak pernah dibayangkan sebelumnya Yuni Yusrotin dan keluarganya. Namun, perempuan asal Desa Prayungan, Kecamatan Sumberrejo tersebut, justru melenggang menjadi wisudawan terbaik di fakultas sains.


DHANI WAHYU ALFIANSYAH, Bojonegoro


SUASANA haru tentu dirasakan oleh sebagian besar wisudawan. Namun, kebahagiaan mendalam tampak lebih banyak dirasakan oleh Yuni Yusrotin.

Sebab, namanya dinobatkan wisudawan terbaik Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang pada Sabtu (24/5).

Perempuan yang merantau dari Dusun Medalem Barat, Desa Prayungan, Kecamatan Sumberrejo tersebut, menahbiskan dirinya sebagai lulusan terbaik dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) membanggakan, yakni 3,96. Sontak, hal itu diiringi oleh suasana haru dan bangga dari keluarganya.

Sebab, perjalanan panjangnya untuk bisa menempuh pendidikan tinggi, mungkin tak semudah teman-teman lainnya. ‘’Orang tua sempat berat melepas saya kuliah di luar kota karena keterbatasan ekonomi,’’ cerita perempuan akrab disapa Yuni itu.

Namun, tekad Yuni tak main-main. Ia mulai tertarik pada ilmu hayati sejak duduk di  Madrasah Aliyah (MA) Islamiyyah Attanwir, dengan mengikuti berbagai olimpiade biologi. 

Sebelum akhirnya memilih Program Studi Biologi di UIN Walisongo melalui jalur seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN).

Keterbatasan ekonomi memaksanya lebih gigih dalam mencari peluang beasiswa. Ia pun akhirnya berhasil mendapatkan beasiswa sepuluh sarjana per desa, meski sempat gagal pada pengajuan pertama. 

‘’Bapak bekerja tukang becak, sementara ibunya berdagang kecil-kecilan,” imbuhnya.

Mendapatkan beasiswa, tak lantas membuatnya bisa lebih tenang. Sebab, menjadi tanggung jawab yang harus diembannya. Terbukti, sejak semester tiga, Yuni dipercaya menjadi asisten laboratorium biologi, aktif sebagai asisten riset dosen yang menempuh studi doktoral (S-3) di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Selain itu, magangnya di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Kebun Raya Bogor memperdalam minatnya di bidang botani, khususnya pada taksonomi tanaman bonsai, yang menjadi topik skripsinya.

Hingga, berhasil menuntaskan studi S-1 dalam kurun waktu 3 tahun 6 bulan.

Berbagai prestasinya tersebut, tak lain dipersembahkan untuk kedua orang tua yang telah percaya sepenuhnya, selama menempuh pendidikan di luar kota dengan berbagai keterbatasan.

‘’Berterima kasih kepada orang tua yang selalu mendukung, dan mendoakan,” pungkasnya perempuan yang masuk 6 besar dalam Olimpiade Biologi OASE PTKI II se-Indonesia 2023 itu. (dan/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#ipk #uin walisongo #pendidikan tinggi #BRIN #ugm #Pendidikan #olimpiade biologi #beasiswa #sumberrejo #wisudawan terbaik #UIN Walisongo Semarang #Semarang