Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Supriyanto, Guru PPPK yang Sudah Mengabdi 21 Tahun: Dukungan Istri Tak Pernah Surut meski Lima Kali Gagal Seleksi CPNS

Yuan Edo Ramadhana • Sabtu, 3 Mei 2025 | 20:17 WIB
SEMRINGAH: Supriyanto berswafoto dengan siswa-siswinya di SDN Bareng 2 turut Kecamatan Sekar. (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)
SEMRINGAH: Supriyanto berswafoto dengan siswa-siswinya di SDN Bareng 2 turut Kecamatan Sekar. (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)

 

Semburat lelah diabaikan Supriyanto demi mencerdaskan anak bangsa. Dengan gaji tak seberapa, Ia rela menghabiskan waktunya selama 21 tahun sebagai guru honorer. Perjuangan beriring kesabaran yang dilakukan, kini ia resmi menjadi guru ASN.


DEWI SAFITRI, Bojonegoro


SUASANA haru menyelimuti seiring kisah yang menguar. Di balik kebahagiaan atas status barunya sebagai aparatur sipil negara (ASN). Tersimpan sejuta cerita perjuangan yang dilalui oleh sosok guru di pelosok pedalaman Bojonegoro.

Ia adalah Supriyanto, guru SDN Bareng 2, Kecamatan Sekar yang telah mengabdikan diri sebagai pendidik honorer selama 21 tahun lamanya. Supriyanto menjadi guru tertua yang lolos Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Bojonegoro.

Di usianya ke-44 tahun, kebahagiaan atas mimpinya baru terjawab, dengan resmi ia diberikan Surat Keputusan (SK) pengangkatan sebagai ASN oleh Bupati Bojonegoro. Bersama dengan ribuan PPPK dan ratusan CPNS lainnya di Alun-Alun Bojonegoro pada Rabu lalu (30/4).

’’Senang banget, impian ingin menjadi guru ASN, bisa membahagiakan keluarga,” ujarnya. Sosok kelahiran 1981 tersebut mulai mengabdi sebagai guru di SDN Bareng 2 sejak 2004 lalu. Dengan gaji pertamanya sekitar Rp 125.000 per bulan.

Kemudian, pada lima hingga delapan tahun berjalan sebagai guru honorer, ia hanya mendapat gaji sekitar Rp 250.000 per bulan. Gaji yang tidak seberapa itu, tentu tidak dapat mencukupi kebutuhan sehari-harinya bersama keluarga.

Sehingga, membuatnya mencari usaha lain. Yakni, bertani yang dilakukan usai melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya di sekolah. ’’Saat masih bujang, gaji segitu tidak terasa berat. Namun, setelah menikah pada 2010, dengan berjalannya waktu memang berat sekali. Jadi, waktu di sekolah senang ketemu anak-anak, tapi kalau di rumah sedih mikir biaya hidup,” terangnya.

Pak Pri, sapaannya, menceritakan, setelah dua tahun bekerja menjadi guru SD. Ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan D-2. Karena mimpinya untuk menjadi seorang ASN dan kala itu, syarat minimal harus lulus D-2.

Berbagai cara dan usaha baik dilakukan untuk bisa menjadi seorang ASN. Bahkan, setiap ada seleksi CPNS, ia selalu ikut. Terhitung, sudah sekitar lima kali, tepatnya sejak 2004, Supriyanto rutin mengikuti seleksi CPNS. Namun, lagi-lagi selalu kegagalan yang didapatkan kala itu.

Hingga, persyaratan untuk bisa menjadi guru ASN meningkat, dari yang semula hanya D-2 menjadi wajib S-1. Hal tersebut sempat membuatnya kelabakan. Ingin melanjutkan pendidikan S-1, tapi tidak ada biaya.

Mengingat untuk hidup sehari-hari saja pas-pasan saat itu. Di sisi lain, jika tidak melanjutkan, berarti ia harus mengorbankan mimpinya untuk menjadi seorang ASN. Putus asa dan keinginan untuk berhenti menjadi guru sempat menghampirinya kala itu.

Namun, support penuh dari sang istri membangkitkannya. Sang istri terus memberikan dorongan dan motivasi atas pengabdian lama yang telah dilakukan, tidak mungkin harus terhenti di tengah jalan.

Tidak hanya itu, sang istri bahkan sampai berjuang membantu Supriyanto untuk bisa melanjutkan studi S-1. Perjuangan tersebut membuahkan hasil, Supriyanto masuk S-1 pada 2019 dan berhasil lulus pada 2023 lalu.

’’Istri yang paling menyemangati saya. Pernah hampir putus asa, mau dibuat kuliah tidak ada uang, hidup keluarga pas-pasan. Akhirnya, dikuliahin Istri, uang dari mertua,” kisahnya dengan haru.

Dengan kesabaran dan perjuangan yang dilalui bersama. Supriyanto berhasil meraih gelar sarjananya. Bertepatan setelah itu, terdapat seleksi PPPK di Bojonegoro. Hadiah baik menghampirinya beserta keluarga.

Yakni, dinyatakan lolos sebagai guru ASN dalam seleksi PPPK 2024 lalu. Mimpi Supriyanto tercapai, seiring dengan semangatnya yang tiada lelah mengabdi untuk Ibu Pertiwi. ’’Untuk semua guru honorer, intinya harus sabar. Ternyata kesabaran bisa membawa kita mencapai apa yang diinginkan,” pungkas laki-laki asal Desa Bareng, Kecamatan Sekar tersebut. (ewi/bgs)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Guru #asn #SEKAR #aparatur sipil negara #bojonegoro #Sekolah #guru honorer #pppk #pegawai pemerintah #cpns