Gen-Z di Bojonegoro mulai mengenalkan seni fotografi dengan menggali tradisi di sekolahnya. Sempat menuai pro-kontra, dianggap sebagai kenangan tak bisa diulang.
DHANI WAHYU ALFIANSYAH, Bojonegoro.
LIMA anak muda tampak sibuk mengulik hasil foto di pertokoan Jalan Lettu Suwolo, Kelurahan Klangon kemarin (16/4). Seluruhnya generasi Z, salah satunya yakni Muhammad Wava.
Pria kelarihan 2001 tersebut, mulai menunjukan ketertarikannya pada fotografi sejak sekolah.
Hingga saat lulus sekolah pada 2019 lalu. Adanya tren pembuatan buku tahunan sekolah dengan konsep unik, menginspirasinya untuk meluangkan kreativitas di tengah pandemi.
Mulai dari memanfaatkan bangku-bangku sekolah menjadi tribun, menggunakan kembang api, hingga menggali tradisi di sekolah masing-masing.
Dayung bersambut, meski hanya dimulai dari teman-teman sebaya itu, akhirnya membuka jalannya di dunia fotografi. ‘’Tren foto year book dengan konsep kolosal ini mulai ramai sejak pandemi lalu, saya sendiri awalnya hanya disuruh motret dari teman-teman. Tapi sekarang sudah meluas ke sekolah-sekolah di desa,” terang pria lulusan MAN 1 Bojonegoro itu.
Menurutnya, banyak sekolah di Bojonegoro yang sudah mulai mengadopsi konsep year book sebagai bentuk kenang-kenangan dan ekspresi diri siswa. Namun, dirinya punya unik dalam proses produksinya, yakni memanfaatkan pendekatan langsung dan riset di setiap angkatannya.
‘’Jadi sebelum proses foto, kita tanya langsung, kenangan apa yang paling berkesan di sekolahnya masing-masing,” ceritanya.
Proses pencarian ide tersebut, diakuinya cukup menguras pikiran. Selain menuntut krativitas, hal tersebut menuai pro-kontra dari pihak sekolah.
‘’Ada yang ingin mengabadikan kenangan selama sekolah, yakni saat tawuran, bolos sekolah, sampai kesurupan,” kenangnya dengan tersenyum.
Namun, hal ini memang perlu dikonsep dengan rapi, sebab dirinya pernah mendapat komplain karena konsep yang suguhkan.
Terlepas dari semua itu, dirinya cukup senang bisa mengabadikan kenangan selama sekolah, yang tidak bisa diulang kembali. ‘’Konsep yang terlalu unik itu terkadang bisa mendapat protes dari sekolahnya, tapi ya bagaimana lagi, terkadang itu jadi kenangan mereka,” ceritanya.
Saat ini, Wava ingin fokus mengembangkan usahanya melalui kreativitas fotografi. Bahkan, dirinya bercita-cita ingin membuka di luar kota. Meski masih 23 tahun, tapi produktivitas dalam dunia kreatif membuatnya cukup sibuk. ‘’Sekarang sudah merambah ke foto wisuda dan wedding, sampai tidak sempat ngopi,” pungkasnya. (dan/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana