Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Beranggotakan Siswa SD hingga SMA, Fokus Kawal Isu Anak

Hakam Alghivari • Senin, 27 Mei 2024 | 21:00 WIB
KOMPAK: Forum Anak Bojonegoro telah berusia satu dekade. Mereka kompak dan senantiasa bersemangat sosialisasi ke sekolah hingga panti asuhan guna.
KOMPAK: Forum Anak Bojonegoro telah berusia satu dekade. Mereka kompak dan senantiasa bersemangat sosialisasi ke sekolah hingga panti asuhan guna.

Berdiri sejak 2014, Forum Anak (FA) Bojonegoro fokus mengunjungi sekolah-sekolah hingga panti asuhan. Bertujuan menetralisasi dan mengatasi isu atau masalah tentang anak. Seperti kekerasan seksual, stunting, hingga perkawinan anak.

 


YANA DWI KURNIYA WATI, Bojonegoro

 

Isu tentang anak belum menjadi perhatian utama di beberapa sektor. Buktinya masih banyak masalah melibatkan anak. Seperti kekerasan seksual sampai perkawinan anak di bawah umur. Sehingga, Terbentuklah Forum Anak (FA) Bojonegoro.

Salah satu pengurus, Nagita Novaola mengatakan, FA terbentuk sejak 2014. Kini memliki sekitar 20 anggota, berusia 12 hingga 17 tahun. Berangkat dari kegelisahan banyaknya isu-isu anak yang belum teratasi.

’’Ini merupakan salah satu upaya untuk menetralisasi isu yang sedang menimpa anak-anak,” tutur Nagita. Perempuan asal Desa Kebonagung, Kecamatan Padangan itu pun bercerita dengan menunjukkan foto kegiatannya.

Dengan antusias, dia menuturkan, interaksi anggota FA dengan anak-anak mulai terjalin. Karena, wajah berseri tampak jelas dalam foto. Bak memperlihatkan kehangatan antara FA dengan anak-anak.

Dia mengungkapkan, FA termasuk dirinya sedih dan ironi melihat kasus anak berseliweran di kehidupan. Tidak hanya satu, bahkan ratusan hingga ribuan kasus menimpa anak-anak. Dia mengaku, kasus paling nyata di lingkungan sekitar yakni, perkawinan anak.

Di mana usia masih belia seharusnya mendapatkan pendidikan layak, malah memilih sukarela maupun terpaksa untuk menikah. ’’Jadi, kami FA di Bojonegoro maupun Jawa Timur berupaya bergandengan tangan dengan OPD (organisasi perangkat daerah) membuat program untuk mengurangi kasus-kasus tersebut,” terang Divisi Aksi Kreasi itu.

Nagita melanjutkan, untuk memerangi kasus pada anak, FA memiliki lima kluster internal. Di antaranya hak sipil dan kebebasan; lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif; kesehatan dan kesejahteraan keluarga; pendidikan, waktu luang, dan aktivitas kebudayaan; serta perlindungan khusus.

Tujuannya, mengimplementasikan peran pelopor dan pelapor (2P) dan partisipasi anak dalam perencanaan pembangunan (PAPP). Adapun kegiatannya, tambah dia, meliputi sosialisasi hingga belajar bersama dengan anak-anak di berbagai lembaga pendidikan seperti sekolah maupun panti asuhan.

’’Kemarin kami ke panti asuhan NU Nurul Rahmah. Karena di FA, ada program Berbagi Ilmu itu Asyik hampir mirip dengan sosialisasi,” jelas siswi kelas XI SMAN Padangan itu. Dia mengatakan, dalam program tersebut dibahas berbagai topik melalui media sosial (medsos) Instagram.

Di antaranya tentang gizi serta pencegahan perkawinan anak. Nagita menyampaikan, FA tidak sekadar sosialisasi dan datang ke sekolah maupun panti asuhan. Namun, juga membantu pelaporan kasus terhadap anak.

’’Misal ada anak terkena kasus dan lapor ke kami. Maka, kami teruskan ke dinas terkait. Jadi, FA ini semacam jembatan antara anak-anak dengan OPD terkait,” katanya. Namun, keluh dia, kegiatan FA Bojonegoro tidak selalu berjalan mulus.

Ada tantangan dan kendalanya. Khususnya, di administrasi dan finansial yang dibutuhkan cukup banyak. Terlebih, bila program dilakukan di panti asuhan. ’’Kalau full (penuh) di panti asuhan menyedot anggaran cukup besar. Meski demikian dengan FA ini kami berharap anak-anak agar mengedepankan peran sebagai pemuda calon generasi penerus bangsa,” harap anak 16 tahun itu.(*/bgs)

Editor : Hakam Alghivari
#fa #anak #Forum #bojonegoro #opd